Waktu berjalan merayap di atas tanah Banyuurip, membasuh sisa-sisa jelaga perang yang pernah menghanguskan Pasar Tegalmiring. Kini, pemandangan pilu lautan api telah berganti dengan hiruk pikuk kehidupan yang baru. Klenteng-klenteng sapi dan derit roda gerobak sapi racuk menjadi musik harian di pasar yang mulai bersolek kembali. Saudagar dari Kutoarjo datang membawa emas, sementara pedagang hasil bumi dari pelosok desa tumpah ruah, menciptakan denyut kemakmuran yang seolah menghapus memori kelam masa lalu. Namun, kemerdekaan membawa takdir yang berbeda bagi mereka yang pernah bertaruh nyawa di bawah panji Laskar SiJati. Dua Sisi Mata Uang: Jarot dan Broto Kapten Darmo dan sebagian besar anggota laskar telah bertransformasi menjadi abdi negara, bergabung dengan ABRI atau menjadi guru. Di Seborokrapyak, tatanan birokrasi berubah total. Para pemimpin pro-kolonial dicopot, dan rakyat secara aklamasi memilih Jarot, salah satu pejuang andalan SiJati, untuk menjadi Kepala Desa. Jarot adalah s...
GEMA PERLAWANAN DI JALUR KENTENG-TEGALMIRING WARISAN DARAH SUPARLAN DAN SUPARDI Gugurnya Suparlan dan Supardi di tengah palagan Pasar Tegalmiring tidak lantas memadamkan api perjuangan. Justru sebaliknya, darah yang mereka tumpahkan di tanah banyuurip itu menjadi minyak yang menyiram api nasionalisme di seantero Purworejo. Kabar tentang keberanian Laskar SiJati menantang maut di tengah kepungan KNIL menyebar cepat, dari mulut ke mulut, dari surau ke surau, melintasi sawah dan pategalan. Isu itu bukan lagi sekadar berita kekalahan, melainkan sebuah seruan perang yang menggetarkan. Sepanjang jalur strategis dari Kenteng hingga Tegalmiring, suasana berubah mencekam sekaligus bergairah. Pengorbanan Suparlan dan Supardi membangkitkan macan-macan tidur. Di sisi utara, para pemuda desa bangkit membentuk Laskar Tengok, siap mengintai dan menyergap setiap pergerakan musuh dari ketinggian. Di wilayah tengah, kesiapsiagaan memuncak dengan berdirinya Laskar Korok, Laskar Pendeng, dan L...