Skip to main content

Posts

Dilema di Garis Batas. Antara Hukum, Persahabatan, dan Dendam Masa Lalu

Waktu berjalan merayap di atas tanah Banyuurip, membasuh sisa-sisa jelaga perang yang pernah menghanguskan Pasar Tegalmiring. Kini, pemandangan pilu lautan api telah berganti dengan hiruk pikuk kehidupan yang baru. Klenteng-klenteng sapi dan derit roda gerobak sapi racuk menjadi musik harian di pasar yang mulai bersolek kembali. Saudagar dari Kutoarjo datang membawa emas, sementara pedagang hasil bumi dari pelosok desa tumpah ruah, menciptakan denyut kemakmuran yang seolah menghapus memori kelam masa lalu. Namun, kemerdekaan membawa takdir yang berbeda bagi mereka yang pernah bertaruh nyawa di bawah panji Laskar SiJati. Dua Sisi Mata Uang: Jarot dan Broto Kapten Darmo dan sebagian besar anggota laskar telah bertransformasi menjadi abdi negara, bergabung dengan ABRI atau menjadi guru. Di Seborokrapyak, tatanan birokrasi berubah total. Para pemimpin pro-kolonial dicopot, dan rakyat secara aklamasi memilih Jarot, salah satu pejuang andalan SiJati, untuk menjadi Kepala Desa. Jarot adalah s...
Recent posts

Warisan Darah Suparlan dan Supardi

GEMA PERLAWANAN DI JALUR KENTENG-TEGALMIRING WARISAN DARAH SUPARLAN DAN SUPARDI Gugurnya Suparlan dan Supardi di tengah palagan Pasar Tegalmiring tidak lantas memadamkan api perjuangan. Justru sebaliknya, darah yang mereka tumpahkan di tanah banyuurip itu menjadi minyak yang menyiram api nasionalisme di seantero Purworejo. Kabar tentang keberanian Laskar SiJati menantang maut di tengah kepungan KNIL menyebar cepat, dari mulut ke mulut, dari surau ke surau, melintasi sawah dan pategalan. Isu itu bukan lagi sekadar berita kekalahan, melainkan sebuah seruan perang yang menggetarkan. Sepanjang jalur strategis dari Kenteng hingga Tegalmiring, suasana berubah mencekam sekaligus bergairah. Pengorbanan Suparlan dan Supardi membangkitkan macan-macan tidur. Di sisi utara, para pemuda desa bangkit membentuk Laskar Tengok, siap mengintai dan menyergap setiap pergerakan musuh dari ketinggian. Di wilayah tengah, kesiapsiagaan memuncak dengan berdirinya Laskar Korok, Laskar Pendeng, dan L...

Deru Peluru di Tanah Tegalmiring, Kisah Perjuangan Suparlan Supardi

Tahun 1948. Udara di Seborokrapyak, Purworejo, terasa berat. Perjanjian Renville baru saja ditandatangani, namun di lapangan, ketegangan justru memuncak. Belanda, dengan kelicikan khas kolonial, menggunakan dalih "Aksi Polisional" untuk merangsek masuk, mengabaikan garis demarkasi. Bagi warga Desa Seborokrapyak, setiap fajar membawa ketakutan baru akan patroli Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) yang kejam. Di sinilah, di tengah kecemasan yang mencekam, kisah tentang seorang pemuda desa dan perlawanan nekatnya dimulai. PEMUDA DARI SEBOROKRAPYAK Suparlan dan Supardi bukan seorang perwira tinggi berpendidikan militer Barat. Dia hanyalah seorang pemuda tani biasa dari Seborokrapyak, bertubuh tegap dengan sorot mata yang tajam namun penuh kepedulian. Kesehariannya dihabiskan dengan mencangkul di sawah atau membantu ayahnya di bengkel kayu sederhana. Namun, di balik kesederhanaan itu, Suparlan dan Supardi memiliki semangat nasionalisme yang membara, dipupuk oleh cerita-...

Santri Banyuwangi, Seborokrapyak, dan Cinta Sofia

  Santri Banyuwangi, Seborokrapyak, dan Cinta Sofia Udara di Desa Seborokrapyak pada bulan-bulan akhir tahun 1965 terasa lebih berat dari biasanya. Kabar burung tentang kekejaman di Jakarta telah sampai ke pelosok, memicu ketegangan yang tak kasat mata namun mencekam. Di tengah situasi genting itu, deru truk membawa rombongan santri dari Banyuwangi membelah kesunyian desa. Kedatangan mereka bukan sekadar silaturahmi, melainkan misi penguatan. Para santri itu diutus untuk membekali Pemuda Ansor setempat agar siap menghadapi ancaman pemberontak yang kian liar. Gemblengan di Halaman Masjid Di bawah naungan pohon sawo di halaman Masjid Baitul Karomah, latihan fisik digelar setiap sore. Para santri Banyuwangi mengajarkan ilmu Kejadukan—sebuah olah batin dan fisik untuk ketahanan diri. Menariknya, ilmu tersebut dipadukan dengan Konto, seni silat tradisi khas Seborokrapyak yang mengandalkan kecepatan gerak kaki dan kuncian mematikan. Di antara debu yang beterbangan saat latihan, satu soso...

Pererat Silaturahmi, Gapoktan Alam Jaya Gelar Pertemuan Rutin dan Halal Bihalal Idul Fitri 1447 H

SEBOROKRAPYAK – Suasana penuh kehangatan mewarnai kediaman Sekretaris Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Alam Jaya, Ibu Sri Setianingrum, pada Senin malam (30/03/2026). Segenap pengurus dan perwakilan anggota berkumpul dalam rangka pertemuan rutin bulanan yang dirangkai dengan acara Halal Bihalal Idul Fitri 1447 Hijriyah. ​Acara yang berlangsung di Desa Seborokrapyak, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo ini menjadi momentum penting untuk memperkuat tali persaudaraan antarpetani di wilayah tersebut. Dipimpin langsung oleh Bapak Suwandi selaku Ketua Gapoktan Alam Jaya, pertemuan ini menjadi wadah untuk saling memaafkan sekaligus konsolidasi organisasi setelah hari raya. ​Sinergi 180 Anggota dalam Satu Visi ​Dalam sambutannya, Bapak Suwandi menekankan pentingnya kekompakan dalam tubuh Gapoktan Alam Jaya yang kini menaungi kurang lebih 180 orang anggota. Kekuatan ini tersebar dalam struktur yang solid, terdiri dari: ​6 Kelompok Tani (KT) ​2 Kelompok Wanita Tani (KWT) ​"Kehadiran k...

Sinergi Membangun Kemandirian, Desa Seborokrapyak Gelar Musyawarah Desa Strategis 2026

  PURWOREJO – Pemerintah Desa Seborokrapyak, Kecamatan Banyuurip, menggelar Musyawarah Desa (Musdes) penting pada Rabu, 1 April 2026. Bertempat di balai desa yang bernuansa guyub, pertemuan ini membahas sejumlah agenda krusial bagi masa depan ekonomi dan kesejahteraan sosial warga desa. Penentuan Titik Lokasi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Salah satu agenda utama dalam musyawarah ini adalah pembahasan lahan untuk pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Dalam diskusi yang berlangsung interaktif, seluruh elemen desa menyepakati bahwa titik lokasi pembangunan gedung koperasi akan ditempatkan di kawasan Lapangan Desa Seborokrapyak. Pemilihan lokasi ini dinilai strategis untuk mempermudah aksesibilitas warga dalam menjalankan kegiatan ekonomi kolektif ke depannya. Irwansyah, M.Hum, selaku Pendamping Koperasi Merah Putih, menekankan pentingnya keberadaan koperasi ini sebagai motor penggerak ekonomi desa yang mandiri. Diskusi Panel dan Narasumber Terkait Acara yang dipandu oleh Ke...

Jangan Terbawa Perasaan

Kalau menurutku sih ... kita sekarang itu sedang dalam skenario pengalihan isu yang sangat besar. Bagaimana tidak, Kita adalah Bangsa Indonesia yang tumbuh besar karena keberagaman, bertahun tahun sejak merdeka nyaris tidak ada perpecahan antara kita karena selalu mengedepankan Persatuan Indonesia. Akan tetapi saat ini kita dipaksa untuk terkuras emosi mendengar isu dengan nuansa sara ada Ahok lah ada Habib Rizieq lah yang kalau dirasa rasa kita itu Bangsa yang sudah teruji walaupun dipecah belah sebesar apapun kita adalah Bangsa Indonesia yang berbhineka Tunggal Ika.  Saat ini harusnya kita mulai sadar bahwa yang terjadi dalam sekitar kita, dalam sekitar kehidupan( kebutuhan kita ) semuanya mahal. Pajak kendaraan bermotor naik, tarif listrik naik,  BBM naik dan yang lain-lain yang nota bene untuk sebagian masyarakat yang tidak baper oleh isu-isu itu efeknya langsung terasa seolah seperti anak panah yang menghujam jantung kita bukan hati lagi yang penuh perasaan. Oke,  m...