Gempa bumi tektonik berkekuatan 5,9 skala
Richter, Sabtu 27 Mei 2006 pukul 5.53 WIB telah meluluhlantakkan wilayah
Kabupaten Bantul, Kota Yogyakarta, Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten
Sleman, Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo,
Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Magelang, Kabupaten
Purworejo dan sekitarnya.
peta lokasi gempa tektonik 2006 (sumber: www.pu.go.id)
Data dari Satkorlak Penanggulangan Bencana
Alam di Yogyakarta, hingga pukul 22.15 WIB, di hari pertama tercatat
2.986 orang dinyatakan tewas, puluhan ribu pasien dirawat di beberapa
rumah sakit serta rumah penduduk/bangunan rusak berat, roboh rata-tanah
dan porak poranda, belum dapat terhitung secara pasti.
Jumlah korban tewas diperkirakan masih akan
bertambah, mengingat para korban yang luka berat, patah tulang akibat
reruntuhan bangunan masih dirawat di rumah-rumah sakit. Sementara pihak
rumah sakit yang berada di Kabupaten Bantul, Kota Yogyakarta dan
Kabupaten Sleman kewalahan dan tidak mampu lagi menampung pasien korban
gempa.
Tidak sedikit pasien menempati lorong-lorong,
bahkan dirawat di halaman-halaman rumah sakit, menyusul didirikan
berbagai tenda darurat telah dijadikan tempat pasien korban gempa
mendapat pertolongan.
Beberapa saat setelah gempa, listrik di semua tempat padam seketika,
sambungan telepon terputus, termasuk penggunaan telepon selular macet
total, tak berfungsi sehingga kontak ke luar daerah bencana sulit
dilakukan. Komunikasi berhenti, sementara upaya pertolongan terhadap
para korban terus berlangsung.
Di tengah para warga yang bersedih dan duka
merenungi nasib keluarga yang menjadi korban, serta hancurnya harta
benda, secara tiba-tiba muncul isu/rumor atau desas-desus bahwa segera
datang tsunami.
Datangnya sebuah informasi yang tidak jelas
sumbernya dan menyebar serentak dari mulut ke mulut, semakin membuat
masyarakat menjadi panik, cemas serta bingung, sebagian besar mengajak
sanak saudaranya mengungsi ke arah utara atau mencari tempat berlindung
yang lebih tinggi dan aman. Kontan, jalan-jalan dari Bantul ke arah
utara, yaitu Kota Yogyakarta, ke arah Sleman, Magelang macet dipenuhi
kendaraan roda dua dan roda empat maupun pejalan kaki.
Beruntung bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitar yang masih berpola
pikir rasional, mereka tidak goyah atas hembusan informasi tak
bertanggung jawab tersebut. Para warga yang tetap bertahan ini memilih
mencari tahu lewat sumber-sumber informasi yang bisa dipercaya.
Satu-satunya jalan di tengah perasaan cemas dan gelisah, banyak pihak
yang sedang dirundung duka mendalam, medium radio menjadi sarana
komunikasi paling andal saat itu.
Adalah stasiun Radio Sonora FM, yang bermarkas di nDalem Tejokusuman Yogyakarta ternyata tetap on air
dan secara simultan melakukan siaran sepanjang hari, melaporkan
peristiwa gempa serta apa yang terjadi. Di saat yang sama, RRI
sebenarnya juga sedang melakukan siaran, hanya saja mengingat stasiun
radio siaran ini kurang komprehensif dalam meliput dan menyiarkan segala
peristiwa tentang gempa bumi, selanjutnya cenderung diabaikan
pendengar.
Dengan demikian, keandalan siaran yang
dipancarluaskan Radio Sonora FM menjadi pilihan utama, bahkan lewat
stasiun radio siaran ini persoalan berkait rumor/desas-desus tentang
datangnya tsunami dapat ditepis sehingga membuat masyarakat Yogyakarta
dan sekitarnya lega.
Tersebarnya reporter Radio Sonora FM di hampir
semua lokasi strategis wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
dan sekitar, ditampilkannya informan serta tokoh-tokoh kunci (key person) baik tokoh formal maupun non-formal yang berhasil diwawancari dan disiarkan secara live, juga laporan langsung dari masyarakat semakin menambah kepercayaan pendengar untuk mengikuti siaran radio ini tanpa henti.
Malam pertama sesudah gempa, di tengah gelap
gulita dan guyuran hujan deras malam hari, rasa panik masih mencekam
karena gempa-gempa susulan, medium radio menjadi satu-satunya sarana
untuk mengakses informasi yang dibutuhkan masyarakat di lokasi gempa.
Yogyakarta bersedih dan berduka! Demikian inti liputan yang diungkap
media massa. Belum lagi aktivitas Gunung Merapi di wilayah utara mereda,
disusul gempa tektonik di wilayah selatan yang justru membawa ribuan
korban jiwa. Daerah yang paling parah akibat gempa tektonik adalah
Kabupaten Bantul, karena berdekatan dengan episentrum (pusat gempa) yang
berada di Samudera Indonesia.
Berdasarkan analisis Badan Meteorologi dan
Geofisika (BMG), gempa tektonik berkekuatan 5,9 skala Richter berpusat
di 8,2 LU, 110 BT, berada 37 kilometer selatan Yogyakarta di kedalaman
33 kilometer. Namun sumber lain menyebutkan gempa berkekuatan 6,3 skala
Richter.
Akibat gempa yang mengguncang Yogyakarta dan
sekitar, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengemukakan,
Provinsi DIY kini dinyatakan dalam keadaan darurat selama lima hingga
tujuh hari ke depan, prioritas difokuskan pada penanganan para korban
gempa dengan baik.
“Ini keadaan darurat. Dalam kondisi darurat
agar masyarakat hilang dari traumatik, menolong pasien terluka itu
adalah prioritas. Mereka perlu disuplai melalui sistem distribusi
makanan dan sebagainya yang perlu dikonsolidasikan,” ujarnya. Ditegaskan
Sultan, penanganan pasien korban gempa harus didahulukan. Setelah itu
baru memikirkan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam kunjungan di Yogyakarta
bersama beberapa menteri, Sabtu (27/5) petang langsung menemui para
pejabat DIY di Rumah Dinas Bupati Bantul, HM Idham Samawi. Presiden
menaruh perhatian serius dan mengingatkan kepada Gubernur DIY dan
Gubernur Jawa Tengah (Jateng) serta para bupati dan walikota yang
daerahnya terkena bencana gempa, agar menggunakan sumber dana yang ada
untuk membantu korban bencana.
Dikatakan SBY, Badan Koordinasi Nasional
Penanggulangan Bencana Alam sudah bekerja dan harus siap bertindak
melakukan penanganan dan memberikan yang diperlukan, merawat korban yang
luka-luka dan memakamkan yang meninggal, serta mengevakuasi yang belum
tertolong. Kebutuhan medis diprioritaskan pengadaan obat-obatan dan
tenaga paramedis.
Untuk tanggap darurat, Presiden meminta
Gubernur DIY, walikota dan bupati yang daerahnya terkena bencana alam
agar membantu sepenuhnya. “Besok (28/5) beberapa rumah sakit lapangan
akan segera datang dari Jakarta,” kata SBY. Presiden berpesan kepada
masyarakat agar tenang dan jangan panik. Sesuai informasi dari Badan
Meteorologi dan Geofisika (BMG), tidak bakal terjadi lagi gempa susulan
yang kuat seperti terjadi Sabtu pukul 5.53 WIB lalu. Gempa susulan hanya
terjadi dalam skala kecil.
SBY pun meminta kepada wartawan untuk
menyebarluaskan informasi sebenar-benarnya kepada masyarakat supaya
tetap tenang. Dalam kunjungannya, Presiden SBY sempat meninjau pasien
korban gempa di rumah sakit serta mendatangi tenda-tenda pengungsi. Ikut
dalam rombongan SBY sejumlah menteri, antara lain Menko Kesra Aburizal
Bakrie, Mensos Bachtiar Chamsyah, Seskab Sudi Silalahi, Mendiknas
Bambang Sudibyo, Menkes Siti Fadilah Supari, Mendagri Ma’ruf, Menko
Polkam Widodo AS, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, serta KASAD Jenderal
TNI Djoko Santoso.
Menurut juru bicara kepresidenan, Andi
Mallarangeng, Presiden bersama sejumlah menteri untuk sementara waktu
berkantor di Istana Presiden, Gedung Agung Yogyakarta guna memantau
langsung penanganan korban gempa.
Beberapa gedung/bangunan rusak berat
Dari amatan langsung ke lokasi bencana, bangunan
yang tampak mengalami kerusakan akibat gempa adalah Kampus STIE Kerja
Sama di Jalan Parangtritis Yogyakarta, tembok/gedungnya rontok, Gedung
BPKP yang letaknya juga di Jalan Parangtritis bangunan menjadi miring,
rusak berat. Bandara Adisutjipto lumpuh setelah terminal penumpang
domestik ambruk.
Selanjutnya diberitakan media bahwa gempa tektonik telah merusak benda cagar budaya (heritage)
di antaranya Tembok Situs Tamansari, Bangsal Trajumas Keraton
Yogyakarta, Kediaman GKR Pembayun- puteri sulung Sri Sultan Hamengku
Buwono X, beberapa rumah pangeran dari Keraton Yogyakarta, Pojok Beteng
Wetan, Pojok Beteng Kulon, Puro Pakualaman (Bangsal Sewotomo), Benteng
Makam Panembahan Senopati, Monumen Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono
IX (Pacak Suji, Kotagede), Candi Prambanan, Stasiun Prambanan, Masjid
Pathok Negari, tak terkecuali makam raja-raja di Imogiri.
Di wilayah Klaten juga diwartakan kerusakan
dialami Matahari Plaza berlantai 4 yang sebagian tembok retak dan jebol,
Stadion Trikoyo temboknya roboh menutup bahu jalan. Di lokasi Candi
Prambanan, empat candi yang mengalami kerusakan yaitu Candi Plaosan,
Sojiwan, Brahma dan Siwa. Arca dan stupa yang berada di empat candi
tersebut roboh. Candi Brahma yang berada di bagian barat mengalami rusak
paling berat, pagar dan gapura candi juga mengalami kerusakan. Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono beserta rombongan telah menyempatkan waktu
untuk meninjau kompleks Candi Prambanan yang rusak akibat diguncang
gempa.
Hingga hari kedua (28/5) setelah gempa, korban tewas mencapai 4.374
orang, jumlah ini diperkirakan bertambah mengingat evakuasi masih terus
dilakukan. Korban tewas dari Bantul ternyata paling besar yaitu 3.080
orang, Klaten 844 orang, Yogyakarta 317 orang, Sleman 76 orang,
Gunungkidul 46 orang, Kulonprogo 7 orang, Boyolali 4 orang. Sementara
korban luka berat dan ringan di seluruh lokasi gempa diperkirakan lebih
20 ribu orang.
Di Bantul tercatat luka berat 2.700 orang dan
luka ringan 3.100 orang. Sedangkan di Klaten luka berat 552 orang, luka
ringan 1.800 orang, semua korban luka berat dan ringan kini mendapat
perawatan di rumah sakit terdekat, bahkan mengingat daya tampung rumah
sakit terbatas maka sebagian pasien ada yang dikirim ke rumah sakit di
Solo, Boyolali, Semarang, Magelang, Purworejo, Kebumen, Purwokerto serta
daerah lain. Jumlah kerugian materi di seluruh lokasi gempa belum bisa
dipastikan, diperkirakan mencapai trilyunan rupiah.
Dari on the spot saya ke lokasi gempa di Bantul (28-29 Juni
2006), khususnya di Kecamatan Sewon, Jetis, Pleret, Imogiri, Pundong,
Kretek hampir semua korban gempa mulai mendapat pertolongan, kecuali
yang berada di pelosok masih ditangani secara sederhana. Setidaknya, itu
semua berkat gotong royong antarwarga untuk menemukenali sanak saudara
di kampung masing-masing. Di Karangtalun (Imogiri) seorang dinyatakan
masih belum ditemukan dan diperkirakan masih berada di antara reruntuhan
tembok/bangunan rumah yang roboh-rata dengan tanah.
Masalah penanganan korban gempa serta bantuan
pangan dan obat-obatan selanjutnya mulai dipusatkan di masing-masing
lokasi dengan didirikannya posko induk. Demikian halnya jumlah bantuan
dari pihak-pihak lain yang yang perduli korban, nampak terus
berlangsung.
Bantuan sandang-pangan yang bersifat personal
serta bantuan dari lembaga-lembaga swasta (LSM) lebih cepat diterima
dan dimanfaatkan oleh mereka yang membutuhkan. Sedangkan bantuan lewat
jalur birokrasi seperti dikatakan seorang korban luka ringan yang
rumahnya roboh di Dusun Ponggok I, Jetis, Bantul ketika mengurus
permintaan tenda harus pulang dengan tangan hampa, ia ditolak karena
tidak membawa kartu identitas atau Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Dalam amatan penulis, distribusi bantuan akomodasi serta logistik melalui jalur formal nampak belum berjalan optimal, belum merata memenuhi kebutuhan para korban seperti diharapkan. Khususnya di daerah-daerah yang tidak terjangkau kendaraan roda empat dan berada di pelosok dusun, hanya memperoleh bantuan dalam jumlah sangat terbatas.
Kebutuhan tenda, selimut, pakaian layak
hingga lampu senter serta lampu penerangan untuk setiap tenda pengungsi
di malam hari belum juga tercukupi. Sejak hari pertama setelah gempa, di
mana jalur-jalur komunikasi terputus, semua telepon seluler belum
berfungsi optimal sehingga untuk mengetahui lokasi mana yang sangat
membutuhkan bantuan menjadi sulit dipetakan.
Terlebih setiap malam selalu diguyur hujan
deras, kondisi lokasi korban gempa cukup gelap, masyarakat korban gempa
yang masih diselimuti rasa panik/trauma dituntut untuk survival,
sebagian warga yang rumahnya hancur berantakan, terpaksa tidur
berkelompok di tempat-tempat pengungsian ala kadarnya sambil menjaga
lingkungan dan berdekatan dengan puing-puing atau reruntuhan rumah
masing-masing.
Hari ketiga (29/5) pascagempa, korban tewas di DIY dan Jateng terus
bertambah. Hingga pukul 23.00 wib tercatat korban tewas sebanyak 5.162
orang. Berdasarkan sumber Pemprov dan Satkorlak DIY, korban tewas
berasal dari Bantul 3.082 orang, Sleman 184 orang, Kota Yogyakarta 151
orang, Gunungkidul 58 orang, Kulonprogo 15 orang, sedangkan sebanyak
1.672 orang berasal dari berbagai kota di Jateng (Klaten, Boyolali,
Sokoharjo dan sekitarnya).
Sedangkan jumlah kerugian material yang
berhasil dirilis Pemprov DIY yaitu mencapai Rp 2,8 triyun. Ini masih
dalam jumlah sementara, diperkirakan kerugian akan bertambah karena data
yang masuk masih sebagian, belum semua daerah korban gempa melaporkan
data kerusakan seperti tempat ibadah, sekolah, serta bangunan
pemerintah.
Kerugian paling besar akibat gempa tektonik
adalah di Kabupaten Bantul. Berdasarkan laporan dari Satkorlak DIY
(29/5) tercatat sebanyak 33.616 rumah penduduk yang rusak parah,
sebanyak 19.593 ada di DIY, sedangkan sisanya yaitu 14.023 berada di
wilayah sebagian Jateng. Sampai hari ketiga, Tim SAR RI dan relawan
berbagai lembaga serta tim dari negara-negara asing masih terus
melakukan evakuasi.
Sampai hari ketiga pascagempa, hilir-mudik
mobil ambulan dari berbagai lembaga terus menelusuri daerah korban gempa
menolong korban, termasuk helikopter Badan SAR Nasional (Basarnas)
mengangkut korban sebagai langkah evakuasi ke Mini Hospital, yang sudah dipersiapkan di kompleks Gedung Olahraga UNY, Kampus Karangmalang, Yogyakarta.
Lambatnya distribusi bantuan kepada para
pengungsi korban gempa segera disikapi Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku
Buwono X. Gubernur mengambil langkah taktis dengan memutuskan jalur
distribusi tidak lagi melalui Satuan Pelaksana (Satlak) yang berpusat di
Pemkab Bantul.
Bantuan langsung didistribusikan ke
masing-masing kecamatan. Dari kecamatan, bantuan tersebut
didistribusikan ke desa dan dusun-dusun korban bencana. “Kita putuskan
bantuan tidak lagi melalui Satlak. Semua bantuan dari provinsi langsung
ke kecamatan-kecamatan,” jelasnya.
Gubernur yang juga sebagai Ketua Satuan
Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) DIY mengatakan, dalam kondisi tanggap
darurat, pihaknya sangat berharap agar para camat dan lurah yang
daerahnya terkena bencana bertindak proaktif. Sebab merekalah yang paham
dan tahu detail lokasi yang menjadi korban bencana.
Kepada media massa atau wartawan, Sultan
minta untuk menginformasikan jika memang masih ada wilayah yang belum
tersentuh penanganan atau bantuan, atau masih sangat minim bantuan yang
diterima agar segera disampaikan ke Satkorlak Penanggulangan Bencana
DIY.
Gubernur juga mengeluarkan pengumuman dan
seruan yang meminta seluruh PNS segera kembali bekerja agar pelayanan
masyarakat bisa berjalan optimal. Mereka yang mengurus keluarga karena
rumahnya rusak atau ada anggota keluarga yang hilang/meninggal atau
dirawat di rumah sakit diimbau segera melapor kepada atasan langsung.
Menanggapi munculnya isu-isu yang bisa menyesatkan pascagempa, seperti
bakal segera datang gempa yang lebih besar lagi, menurut Gubernur DIY
Sri Sultan Hamengku Buwono X hanyalah isu/rumor yang tidak bisa
dipertanggung jawabkan kebenarannya. Sebab kata Sultan, berdasarkan
kajian teknis yang dilakukan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG),
meski masih ada gempa kecil susulan, namun keadaan sudah akan kembali
normal.
Seperti dikatakan Kepala BMG Yogyakarta, Jaya
Murjaya bahwa menurut prediksinya, dalam 11 hari lagi akan mendekati
stabil meski intensitasnya terus mengalami penurunan namun belum bisa
mencapai o (nol). Masyarakat tidak perlu khawatir, berdasarkan data
masih ada gempa susulan skala kecil. Atas dasar itu, Sri Sultan meminta
kepada masyarakat untuk tidak lagi tidur di luar rumah, karena
dikhawatirkan justru mudah terkena serangan penyakit.
Sementara kepada para pedagang eceran/grosir
dan pedagang di pasar-pasar serta penyedia jasa lain yang masih layak
buka, sedapat mungkin supaya mengusahakan untuk bisa beroperasi atau
bekerja kembali, agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan.
Diharapkan pula kepada seluruh warga juga
dapat menerima musibah sebagai cobaan Tuhan Yang Maha Kuasa, agar semua
eling lan waspada, juga agar mampu bangkit kembali menunaikan tugas dan
kewajiban masing-masing. Kegiatan masyarakat yang bersifat keramaian
agar menyesuaikan dengan kondisi masyarakat yang penuh keperihatinan.
peta lokasi korban gempa tektonik 2006 (sumber: www.pu.go.id)
Empat hari pascagempa, berdasarkan laporan Satlak Bantul, Satkorlak DIY
dan Jateng serta berbagai rumah sakit tercatat korban tewas mencapai
5.737 orang. Jumlah itu terdiri atas korban dari Bantul 3.481 orang,
Sleman 326 0rang, Kota Yogyakarta 163 orang, Gunungkidul 69 orang,
Kulonprogo 26 orang. Selebihnya yakni 1.672 korban tewas berasal dari
daerah Jawa Tengah. Di Kabupaten Klaten, korban tewas hingga hari
ke-empat tercatat 1.044 orang dan korban luka sebanyak 8.904 orang.
Tiga kecamatan paling parah dan banyak
menderita akibat gempa tektonik di Kabupaten Klaten adalah Kecamatan
Gantiwarno, Wedi dan Prambanan. Dalam kunjungannya di Posko Kecamatan
Gantiwarno dan Wedi, Klaten (30/5), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
mengemukakan, pemerintah terlebih dulu mengutamakan pemulihan kesehatan,
pendidikan, dan mengobati warga yang masih mengalami luka-luka.
Kebutuhan logistik harus terpenuhi, jika memang masih ada kekurangan
akan dikerahkan bantuan. Diharapkan bantuan logistik sebaiknya langsung
diserahkan ke desa atau kelurahan, berlanjut ke RW/RT dan jangan
dibelokkan.
Di hari keempat itu pula, Bandara Adisumarmo (Solo) mulai dipenuhi
pesawat-pesawat asing silih berganti mendarat, siap memberikan
pertolongan terhadap korban gempa. Demikian halnya sejak Selasa (30/5)
bantuan asing di Yogyakarta terus berdatangan, bantuan personel militer
Amerika Serikat tiba di Bandara Adisutjipto (30/5) pukul 10.00 wib
dengan menggunakan 7 pesawat Hercules. Selain personel, juga membantu
sejumlah peralatan untuk melakukan evakuasi dan pertolongan lain kepada
pengungsi.
Bantuan yang dikoordinasikan oleh Deplu dan
Departemen Pertahanan AS (PACOM) melalui Deplu AS ini membawa 100
personel yang dikerahkan dari unit Angkatan Udara AS di Guam, membawa
peralatan bedah, perawatan gigi, X-ray, peralatan laboratorium
dan kebutuhan medis lainnya. Direktur PACOM, Brigjen Dana Atkins
menyebutkan, tujuan utama kedatangan PACOM adalah mengurangi angka
kematian dan meringankan penderitaan para korban gempa.
Sedangkan dari World Food Programm
(WFP), melalui juru bicara Barry Came mengatakan, pihaknya mencadangkan
bantuan pangan paling tidak untuk jangka waktu dua bulan bagi korban
gempa di Yogyakarta. Untuk bulan pertama, bantuan pangan akan diberikan
kepada 80.000 korban gempa dan bulan kedua akan menjangkau 50.000
korban.
Sesudah itu program akan ditinjau dan tahap
selanjutnya tergantung kebutuhan. WFP mengakui bahwa masih banyak
ketimpangan dalam upaya pemberian bantuan untuk menolong korban gempa.
Karena itu pihaknya mengisi bidang-bidang yang perlu penanganan segera,
termasuk pangan, kesehatan, shelter dan perlindungan anak. WFP prihatin
masih banyak korban gempa yang tidak mendapatkan makanan selama
berhari-hari dan tidak memperoleh pelayanan kesehatan.
Pada bagian lain, Manager Administrasi dan
Keuangan Angkasa Pura I Yogyakarta, Aryadi menyebutkan, tim medis dari
negara-negara sahabat terus berdatangan, tim medis dari Jepang
beranggotakan 25 orang langsung diterjunkan di depan Rumah Sakit
Muhammadiyah Bantul dilengkapi peralatan kesehatan ultrasonografi dan X-ray, tim medis dari Cina tiba di Yogyakarta (30/5) terdiri dari 40 dokter.
Sejak Senin (29/5) juga sudah mendarat 5
pesawat Hercules yang datang dari Singapura dan satu Hercules PBB dari
Amerika Serikat yang berangkat dari pangkalannya, satu Hercules dari
Malaysia. Pesawat-pesawat Hercules tersebut membawa sejumlah bantuan,
berupa tim medis, obat-obatan dan makanan. Di samping juga membawa tim
penjejak bersama puluhan anjing pelacak, ambulan, alat-alat berat juga
kendaraan operasional seperti truk dan kendaraan lain.
Rabu (31/5), hari kelima pascagempa, para korban mulai frustrasi.
Terutama kebutuhan pangan yang mulai menipis dan tersendatnya bantuan
logistik, bahkan ada daerah yang belum mendapat bantuan, wakil mereka
segera mendatangi Posko Satkorlak Provinsi DIY.
Jumlahnya sekitar ratusan orang berasal dari
Kabupaten Bantul, Sleman dan Kota Yogyakarta, dengan penuh emosi meminta
segera dikirim logistik. “Jangan kami diminta untuk terus bersabar.
Kami sudah terancam kelaparan. Semua sudah ludes terkena gempa,” kata
Warsono dari Sleman. Tak lama berselang, begitu puluhan truk pengangkut
beras datang di Posko Satkorlak di Kompleks Kepatihan, massa tersebut
langsung berlomba naik ke bak-bak truk untuk berebut mengambil beras.
Para petugas Satkorlak kewalahan menghadapi warga yang emosional
tersebut.
Hingga hari kelima (31/5), Pemprov DIY terus
melakukan pendataan korban dan kerugian akibat gempa. Tidak ada
perubahan yang signifikan mengenai jumlah korban yang meninggal, sampai
dengan pukul 23.00 wib, di wilayah DIY tercatat korban tewas bertambah 4
orang berdasar data Satkorlak Provinsi DIY.
Sejak hari Rabu, tanggal 31 Mei 2006, bantuan dana bagi keluarga korban
gempa tektonik sudah mulai cair. Pemerintah merealisasikan bantuan uang
tunai kepada para korban di Kabupaten Bantul. Kali pertama bantuan uang
tunai tersebut diberikan kepada warga yang bertempat tinggal di
Kelurahan Sabdodadi dan Trirenggo. Para warga menerima uang makan Rp
3.000/jiwa perhari, uang pakaian Rp 100.000/jiwa (sekali diberikan),
uang perabot rumah tangga Rp 100.000/kepala keluarga.
Penyerahan bantuan senilai Rp 1 milyar secara
simbolis dilakukan Menko Kesra Aburizal Bakrie kepada Bupati Bantul HM
Idham Samawi di Balai Desa Sabdodadi. “Bantuan uang makan itu kita
berikan selama dalam pengungsian, uang perabot dan pakaian kita berikan
sekali,” ujar Bakrie.
Ditambahkan pula, uang bantuan dari
pemerintah pusat sudah ada di Yogyakarta. Kini tinggal kecepatan para
kepala desa untuk mendata jumlah warga yang menjadi korban bencana
gempa. Menko Kesra juga meminta seluruh aparatur yang menangani bencana
jangan mempersulit birokrasi, jangan ada yang menyunat uang bantuan,
rakyat sangat membutuhkan.
Selain bantuan uang, pemerintah juga
menyediakan dana rekonstruksi rumah dan bangunan. Setiap rumah yang
rusak berat mendapat jatah maksimal Rp 30 juta, rusak sedang/ringan Rp
10 juta, bantuan ini akan diberikan setelah selama satu bulan (Juni)
dilakukan verifikasi pendataan atas rumah yang terkena gempa oleh Dinas
Pekerjaan Umum dan Satlak. Pemerintah juga akan menyantuni pembangunan
sarana MCK sebesar Rp 500 ribu untuk 50 orang. Dana bantuan untuk rumah
itu dihitung berdasarkan swakelola dengan tingkat kerusakannya.
Sementara untuk bangunan umum seperti sekolah, tempat ibadah dan lainnya
belum ditentukan.
Hingga 1 Juni 2006, data sementara yang dilansir Departemen Sosial RI,
tercatat korban tewas akibat gempa bumi di Yogyakarta dan sekitarnya
mencapai 6.234 orang, sedangkan korban luka berat mencapai 33.231 orang,
luka ringan 12.917 orang. Rincian korban tewas di Bantul berjumlah
3.968 orang, Sleman 326 orang, Yogyakarta 165 orang, Gunungkidul 69
orang, Kulonprogo 26 orang. Total jumlah korban tewas di DIY adalah
4.554 orang. Sedangkan di Jawa Tengah tercatat korban tewas 1.680 orang,
dengan rincian Klaten 1.668 orang, Purworejo 5 orang, Boyolali 3 orang,
Magelang 3 orang, Sukoharjo 1 orang.
Korban luka berat di Bantul berjumlah 13.989
orang, Sleman 1.146 orang, Gunungkidul 1034 orang, Kulonprogo 252 orang,
Kota Yogyakarta 224 orang. Total jumlah korban luka berat di DIY yakni
16.645 orang. Sedangkan di Kalaten korban luka berat mencapai 16.496
orang, Sukoharjo 67 orang, Boyolali 23 orang, Magelang dan Purworejo
data belum masuk. Total jumlah korban luka berat untuk sementara di
Jateng ini mencapai 16.586.
Korban luka ringan di Bantul sebanyak 8.612
orang, Sleman 4.075 orang, Kulonprogo 171 orang, Kota Yogyakarta 59
orang, Gunungkidul data belum masuk. Total korban luka ringan di DIY
mencapai 12.917 orang. Untuk korban luka ringan di Jateng masih dalam
pendataan.
Mengenai jumlah kerusakan rumah/bangunan
dipaparkan jumlahnya mencapai 233.237 unit. Dari jumlah itu dapat
dirinci melalui tiga kategori yaitu kategori rata dengan tanah berjumlah
67.505 unit, rumah rusak ringan sejumlah 93.599 unit, dan rusak
berat/roboh mencapai 72.133 unit. Dibeberkan pula, rumah rusak rata
dengan tanah di Bantul ada 22.123 unit, di Sleman 4.972 unit,
Gunungkidul 1.404 unit, Kota Yogyakarta 2.016 unit dan Kulonprogo 1.470
unit. Total rumah yang rusak rata-tanah di DIY mencapai 31.985 unit.
Rumah rusak berat atau roboh di Bantul
sebanyak 15.403 unit, Sleman 14.765 unit, Gunungkidul 6.640 unit, Kota
Yogyakarta 3.727 unit, Kulonprogo 3.024 unit. Total jumlah
rumah/bangunan roboh di DIY sementara berjumlah 43.559 unit. Sedangkan
rumah rusak ringan jumlah totalnya mencapai 61.691 unit, terinci yakni
di Bantul 12.965 unit, Sleman 29.278 unit, Gunungkidul 13.685 unit, Kota
Yogyakarta 1.108 unit, Kulonprogo 4.655 unit.
Di wilayah Jateng, rumah rata-tanah mencapai
35.520 unit, terinci di Klaten 33.916 unit, Sukoharjo 1.604 unit,
Boyolali, Purworejo dan Magelang data belum masuk. Untuk rumah rusak
berat/roboh di Klaten berjumlah 28.554 unit, data dari kota lainnya
belum masuk. Rumah yang mengalami rusak ringan di Klaten sebanyak 31.908
unit, data dari kota lainnya belum masuk. Tercatat pula, rumah ibadah
di DIY dan Jateng yang mengalami kerusakan sebanyak 36 unit, kerusakan
bangunan sekolah tercatat 23 unit, serta bangunan pemerintah mencapai
294 unit.
Setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meninggalkan kantornya di
Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta dan kembali ke Jakarta,
Wakil Presiden Jusuf Kalla (1/6) menyusul menggantikannya. Dalam
kunjungan ke Provinsi DIY dan Jateng mengingatkan, jangan sekali-sekali
mempersulit warga yang sedang meminta bantuan, apalagi gara-gara tidak
membawa KTP. “Nanti kalau ada yang minta bantuan, tidak perlu
menunjukkan KTP lagi. Orang kesusahan jangan dipersulit,” tegasnya di
Rumah Dinas Bupati Bantul.
Menindaklanjuti program rekonstruksi
pascagempa di wilayah Provinsi DIY dan sebagian wilayah Jateng,
pemerintah akan mengalokasikan dana Rp 30 juta untuk korban gempa yang
rumahnya roboh atau rusak berat. Tanggal 10 Juni semua data lengkap
kerusakan rumah harus disampaikan ke Satkorlak.
Menurut Wakil Koordinator Operasi II Bakornas
Penanganan Bencana, Budi Atmadji (3/6) di Kompleks Kepatihan, bahwa
keputusan itu belum final dan akan dimatangkan Wakil Presiden Jusuf
Kalla. Dijelaskan pula, bantuan sebesar Rp 30 juta hanya untuk rumah
rusak berat atau roboh dengan hitungan Rp 750.000/m3 termasuk kontribusi
kepada lingkungan Rp 1 juta. Rumah rusak sedang dalam arti dinding dan
rangka masih ada dibantu Rp 20 juta/rumah dengan hitungan Rp 500.000/m3
sudah termasuk Rp 500.000/rumah untuk kontribusi lingkungan.
Sedangkan untuk rumah rusak ringan dibantu Rp
10 juta/rumah dengan hitungan Rp 250.000/m3 termasuk kontribusi
lingkungan Rp 500.000. Pelaksanaan pembangunan rumah warga korban gempa
sepenuhnya dilakukan secara mandiri oleh masyarakat dengan bimbingan
teknis dari Departemen PU atau pemerintah desa setempat. Selain itu,
para korban gempa meninggal dunia juga akan mendapatkan santunan Rp 2
juta/ahli waris sebagai tanda duka dari pemerintah.
Pemerintah juga memberikan bantuan beras 10
kg/orang perbulan, lauk pauk Rp 3000/orang perhari, Rp 100.000/orang
untuk beli pakaian dan Rp 100.000/keluarga untuk beli peralatan rumah
tangga. Bantuan beli pakaian dan alat rumah tangga diberikan satu kali.
Semua program tersebut sedang digodok dan
akan difinalkan Senin (5/6) mendatang oleh Wapres Jusuf Kalla agar
secara teknis aman dan dapat diterima masyarakat serta mampu
menggerakkan roda ekonomi di daerah bencana.
Berkait hal itu, Gubernur DIY, Sri Sultan
Hamengku Buwono X menyatakan, detail rekonstruksi pascagempa akan
dibahas minggu ketiga. Yang pasti rekonstruksi rumah korban warga
dikerjakan masyarakat sendiri. “Pemerintah membantu dana. Harga maksimum
sekian, tapi tolong dikerjakan masyarakat sendiri. Tidak ada pemborong
dengan harapan ekonomi setempat tumbuh. Kalau ada pemborong, sing untung
pemborong ning ekonomi setempat tidak tumbuh,” tegasnya.
Di tengah trauma dan perasaan panik yang masih melekat pada sebagian
besar warga di Provinsi DIY dan Jateng, serta masih munculnya
gempa-gempa susulan, kemudian kembali santer diisukan/rumor akan terjadi
gempa dahsyat, berkekuatan lebih besar yaitu pada tanggal 07 Juni 2006.
Isu/rumor yang telah beberapa hari beredar melalui pesan pendek (sms) atau media online
dan telah menyebarluas dari mulut ke mulut tanpa diketahui secara pasti
sumbernya, bisa semakin meresahkan warga. Sebagai salah satu contoh
isu/rumor dapat dipetik dari e-mail massal beranting yang juga pernah
ditujukan kepada alamat saya berbunyi sebagai berikut:
From: Oky
To: HRD
Sent: Monday, June 05, 2006 2:36 PM
Subject: bsk akan terjadi tsunami
Menurut CNN, disiarkan 3 hari yang lalu bahwa lempeng bumi di australia sedang bergerak ke utara menuju asia.diperkirakan bisa bertubrukan dengan lempeng bumi di selatan pulau jawa.Diperkirakan 11 hari setelah gempa jogja, atau rabu besok(7 juni) akan ada gempa dahsyat dan memungkinkan terjadinya tsunami. Mohon doanya n plis forward ke temen-temen laen, jangan sampai putus di tangan kamu
Menanggapi menyebarluasnya isu/rumor tersebut, Tim Tanggap Darurat, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) mengatakan, gempa susulan yang terjadi sampai Kamis (2/6) pukul 23.45 wib dengan intensitas III Skala MMI magnitudo atau kekuatan gempa 3,5 skala Richter (SR) dan dirasakan sebagian warga di Provinsi DIY, merupakan gempa yang tidak berbahaya. “Gempa ini tidak berbahaya,” kata Dr Surono dari Tim Posko DESDM di Kepatihan, Yogyakarta. Sebab berdasar pengamatan sudah terjadi penurunan jumlah dan intensitas gempa bumi susulan setelah terjadi gempa utama (27/5) lalu.
To: HRD
Sent: Monday, June 05, 2006 2:36 PM
Subject: bsk akan terjadi tsunami
Menurut CNN, disiarkan 3 hari yang lalu bahwa lempeng bumi di australia sedang bergerak ke utara menuju asia.diperkirakan bisa bertubrukan dengan lempeng bumi di selatan pulau jawa.Diperkirakan 11 hari setelah gempa jogja, atau rabu besok(7 juni) akan ada gempa dahsyat dan memungkinkan terjadinya tsunami. Mohon doanya n plis forward ke temen-temen laen, jangan sampai putus di tangan kamu
Menanggapi menyebarluasnya isu/rumor tersebut, Tim Tanggap Darurat, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) mengatakan, gempa susulan yang terjadi sampai Kamis (2/6) pukul 23.45 wib dengan intensitas III Skala MMI magnitudo atau kekuatan gempa 3,5 skala Richter (SR) dan dirasakan sebagian warga di Provinsi DIY, merupakan gempa yang tidak berbahaya. “Gempa ini tidak berbahaya,” kata Dr Surono dari Tim Posko DESDM di Kepatihan, Yogyakarta. Sebab berdasar pengamatan sudah terjadi penurunan jumlah dan intensitas gempa bumi susulan setelah terjadi gempa utama (27/5) lalu.
Menurutnya, kecil kemungkinan terjadi gempa
bumi susulan dengan magnitudo yang sama atau lebih besar dari gempa 27
Mei 2006 silam yang berkekuatan 5,9 SR. “Oleh karena itu, masyarakat
harap tenang, tidak mempercayai isu-isu/rumor yang menyebutkan akan
terjadi gempa bumi dengan magnitudo lebih besar. Masyarakat dapat
menghuni kembali rumah masing-masing yang tidak mengalami kerusakan.
Hal sama dikatakan ahli geologi UPN “Veteran”
Yogyakarta, Dr Heru Sigit dalam menepis isu/rumor akan terjadi gempa
lebih besar dalam waktu dekat ini. Menurutnya, gempa bumi dengan
kekuatan lebih dari gempa yang terjadi Sabtu (27/5) lalu tidak akan
terjadi lagi di wilayah DIY dalam kurun waktu satu hingga tiga tahun ke
depan.
Penduduk aman menempati kembali rumah-rumah
yang masih utuh atau hanya mengalami kerusakan ringan. Heru yakin tidak
akan terjadi gempa lebih besar lagi di Yogyakarta dalam waktu dekat.
Posisi lempeng benua dan samudera yang aktif bergerak dan menyebabkan
gempa, telah mencapai keadaan seimbang hingga satu sampai tiga tahun.
Sebagian energi yang tersisa sudah dilepaskan di tempat lain dan
trend-nya sudah menurun.
Berdasarkan cacatan gempa yang pernah
terjadi, gempa besar akan terjadi satu hingga tiga tahun ke depan tetapi
tidak bisa dipastikan terjadi di Yogyakarta, melainkan bisa dimana pun
di daerah patahan di seluruh dunia. Gempa berkekuatan 5,9 skala Richter
biasanya tidak menimbulkan kerusakan sehebat dampak gempa Yogyakarta dan
sebagian daerah Jateng seperti yang terjadi sekarang. Gempa Sabtu lalu
itu dirembetkan sesar lama yang sebetulnya sudah tidak aktif. Sesar
memanjang sesuai aliran Sungai Opak dan berlanjut ke arah timur laut
sampai wilayah Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, Jateng.
Pada bagian lain, dalam mengatasi persoalan
pendidikan pascagempa, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DIY, Drs Sugito
Msi menyatakan, sekolah darurat dengan tenda direncana didirikan di
setiap sekolah yang mengalami kerusakan. Jumlahnya disesuaikan dengan
jumlah sekolah yang rusak, kapasitas sesuai jumlah siswa.
Sedangkan sekolah yang berdekatan dengan
sekolah lain yang masih bagus dan aman, digabung melaksanakan pendidikan
bersama. Saat ini dicarikan tenda sesuai jumlah siswa. Langkah awal,
akan menyembuhkan trauma guru dan siswa korban gempa.
Menurutnya, mengenai rencana pembangunan
sekolah ini sudah dibicarakan dengan UNICEF, Departemen Pendidikan
Nasional, Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota.
Perencanaan sedang digodok sampai final, karena memang harus secepatnya
diselesaikan.
Begitu juga santunan guru dan siswa yang
meninggal. Rencananya, pemerintah pusat, provinsi dan Persatuan Guru
Republik Indonesia (PGRI) siap membantu. Berdasarkan data Posko Gempa
Bumi, Dinas Pendidikan DIY per 1 Juni 2006 pukul 09.00 wib, jumlah
bangunan sekolah yang rusak mencapai 1.470 sekolah, baik SLB, SD/MI,
SMP/MTs, SMA/MA dan SMK termasuk Perguruan Tinggi. Sedangkan jumlah
korban mencapai 222 orang terdiri dari 108 meninggal meliputi 24 guru, 2
karyawan, dan 82 siswa. Luka berat tercatat 82 siswa, dan 34 luka
ringan.
Sementara itu di Klaten, kegiatan belajar
mengajar di SMP 1 Prambanan dan SMP 2 Gantiwarno Klaten, mulai Kamis
(1/6) telah dimulai kelas-kelas tenda yang dibangun Yayasan Sampoerna Foundation
(YSF). Meski dari 2 tenda hanya bisa dilaksanakan kegiatan belajar
mengajar untuk 4 kelas, itu pun tidak utuh diikuti peserta didik. Namun
sekolah yang semula memiliki 18 kelas dengan 716 siswa itu
diselenggarakan dalam 2 shift.
Kegiatan belajar mengajar yang baru kali
pertama dilaksanakan pascagempa dan dilangsungkan di tengah kekhawatiran
gempa susulan, hanya diselenggarakan sekitar 2 jam. Sekitar pukul 11.00
wib, suasana kelas tenda di SMP 1 Prambanan tersebut sudah lengang,
karena kelas telah bubar.
Communication Director Sampoerna Foundation,
Sapto Handoyo Sakti mengemukakan, pihaknya memberikan fokus perhatian
pascabencana ini untuk jangka panjang, utamanya di bidang pendidikan.
Kami memilih fokus pendidikan memang menjadi concern kegiatan selama
ini. Karena itulah Sampoerna Foundation (SF) bekerjasama dengan NGO Internasional sedang mengupayakan penghilangan trauma dengan mengajak anak kembali ke sekolah.
Diakui, hal ini bukan merupakan pekerjaan
gampang. Bukan hanya karena sekolah yang rusak, namun juga kondisi
psikologis siswa yang belum pulih. Kondisi SMP 1 Prambanan Klaten rusak
berat, 30% papan tulis dan 50% meja kursi masih bisa dipergunakan
sehingga dimanfaatkan untuk kelas tenda. Selain tambahan tenda besar
untuk kelas, jelas Sapto Handoyo, siswa memerlukan buku pelajaran tahun
ajaran 2006/2007 dan buku tulis bagi siswa dibutuhkan untuk belajar,
sementara rumah mereka hancur.
Adanya duplikasi dalam laporan dan pencatatan menyebabkan data jumlah
korban meninggal dan luka-luka akibat gempa tektonik di wilayah DIY dan
sebagian wilayah Jateng simpang siur. Pemerintah, sejak Jum’at (2/6)
akhirnya menghentikan sementara pencatatan korban dan melakukan
verifikasi data untuk mendapatkan kepastian.
Kahumas Departemen Sosial (Depsos), Heri Kris
Sritanto menjelaskan, terjadi perbedaan jumlah korban antara data yang
dikeluarkan Depsos dengan data yang dikeluarkan Satlak di tingkat
kabupaten. Duplikasi ini dimungkinkan terjadi karena ada masyarakat yang
telah melaporkan ke Posko tentang jumlah korban yang meninggal di suatu
tempat. Setelah itu, kamar jenazah juga melaporkan korban yang sama.
Berkait hal tersebut Depsos menghentikan
hitungan dan akan berkoordinasi dengan Bakornas, sebagai satu-satunya
sumber yang memiliki kewenangan untuk merilis jumlah korban. Data jumlah
korban nantinya dikaitkan dengan pengaturan santunan yang akan
diberikan kepada para korban.
Data sampai Jum’at (2/6) berdasarkan
penghitungan Posko Satlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsi Pemprov
DIY, tercatat korban tewas di seluruh DIY sebanyak 4.039 orang. Di
Kabupaten Bantul korban tewas sebanyak 3.561 orang, Kabupaten Sleman 215
orang, Kota Yogyakarta 163, Kabupaten Kulonprogo 21, dan Kabupaten
Gunungkidul 79 orang. Sedangkan korban luka berat dan ringan di seluruh
DIY sebanyak 15.181 orang.
Sementara Posko Satlak Penanggulangan Bencana
Pemkab Klaten menyebutkan jumlah korban meninggal akibat gempa di
Kabupaten Klaten sebanyak 983 orang, sedangkan korban luka mencapai
18.286 orang. Sedangkan kerusakan rumah sebanyak 40.904 unit. Di
Kabupaten Boyolali dilaporkan jumlah keseluruhan rumah rusak tercatat
sebanyak 1.711 unit, terdiri rusak berat 696 unit, roboh 307 unit dan
rusak ringan 708 unit.
Di tengah repotnya warga korban gempa mulai
berbenah membersihkan puing-puing dan sisa reruntuhan rumahnya yang
porak-poranda, sebagian besar penerangan listrik di lokasi-lokasi korban
gempa belum menyala, lagi-lagi muncul isu/rumor penjarahan dan
pencurian. Informasi yang menyebar dan terlanjur masuk ke telinga para
korban gempa ini menggugah sikap resisten para warga korban gempa.
Dari amatan ke beberapa lokasi, khususnya di
beberapa dusun di wilayah Kecamatan Pleret, Imogiri, Jetis, Sewon,
Kasihan, bahkan di Kota Yogyakarta di pintu-pintu masuk jalan utama/gang
perkampungan dijaga ketat, jalan-jalan kampung yang diperkirakan
menjadi jalur pintas “tamu tak diundang” segera ditutup menjelang
petang.
Setiap malam, banyak masyarakat yang berusia
remaja dan dewasa berjaga-jaga untuk mengamankan kampung masing-masing,
lengkap dengan senjata tradisionalnya. “Setiap malam kami sekarang
melakukan pengamanan. Kampung-kampung lain juga begitu,” jelas Muchyidin
di Desa Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul.
Penjagaan dilakukan bersamaan sejak munculnya
desas-desus akan terjadi gempa lebih dahsyat. “Biasanya muncul
segerombolan penjarah. Ini sudah diakui oleh banyak desa,” tambahnya.
Dikatakan pula, modus yang digunakan para penjarah itu, menurut banyak
pihak, ada berbagai macam. Ada yang menggunakan mobil boks dengan
spanduk bertuliskan “relawan.” Ada pula yang berlagak sebagai tim survei
dari calon penyumbang.
Menanggapi kondisi tersebut, Kapolres Bantul,
AKBP Drs Dedy Munazat Msi menegaskan, isu penjarahan dan pencurian
tidak benar, berita itu dihembuskan oleh orang-orang tak bertanggung
jawab, saya minta masyarakat tetap tenang. Sementara warga Pandansimo,
Srandakan, Busam, menuturkan penjarahan pernah terjadi saat warga
meninggalkan rumah karena panik ketika beredar isu/rumor tsunami
beberapa saat setelah terjadi gempa (27/5) lalu. Sebanyak 3 sepeda motor
saat itu hilang dicuri.
Di Klaten, Kapolwil Surakarta Kombes Pol Drs
Yotje Mende mengungkapkan, selama ini pihaknya sudah dua kali menerima
laporan adanya aksi pencurian dan penjarahan di lokasi bencana gempa.
Dua laporan pencurian berasal dari Kragilan, Gantiwarno dan Wedi. “Data
mengenai adanya pencurian dan penjarahan di lokasi bencana masih simpang
siur. Selama ini kami dua kali menerima laporan dan langsung melakukan
cek ke lapangan, ternyata tidak ada,” jelasnya.
Selanjutnya guna meningkatkan pengamanan saat
ini dilakukan penjagaan di setiap tenda pengungsi oleh Satlak dan
Satkorlak, selain permintaan Kapolwil agar masyarakat menggiatkan
kembali Siskamling. Yotje Mende mengimbau masyarakat tetap waspada
karena disinyalir ada pihak tertentu sengaja mengambil kesempatan dalam
situasi ini.
Pangdam IV Diponegoro, Mayjen TNI Sunarso
juga menegaskan, sampai saat ini tidak ada penjarahan terhadap harta
benda milik korban gempa di DIY maupun Jateng, melainkan hanya
pencegatan distribusi bantuan di jalan yang dilakukan sekelompok orang
yang memang butuh bantuan terutama bahan makanan. Berkait dengan
pengamanan pascagempa, Pangdam meminta agar TNI/Polri di wilayahnya
terus melakukan patroli secara rutin.
Hingga hari keenam dan ketujuh pasca gempa, mengenai bantuan pangan dan
obat-obatan serta layanan kesehatan sudah hampir merata menjangkau
seluruh wilayah korban gempa. Di titik-titik strategis telah didirikan
rumah sakit lapangan atau pos-pos layanan kesehatan bantuan luar negeri,
seperti tim medis dari Jepang telah mengambil lokasi kecamatan
Prambanan dan Berbah.
Tim ini beranggotakan 120 orang (dokter dan
paramedis) yang dipimpin Hoyabuchi dibagi dalam tiga yaitu 1 tim
stasioner di Daleman, Sumberharjo, Prambanan, 1 tim keliling melakukan
penyisiran di kecamatan Prambanan, dan 1 tim lagi melakukan penyisiran
terhadap korban gempa di wilayah kecamatan Berbah.
Demikian halnya tim Red Crenzet of Iran
(Palang Merah Iran) telah membuka klinik kesehatan di SD Kanisius
Ganjuran, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul terdiri 40 personal untuk
membantu pemulihan pascagempa berkait masalah kesehatan dan logistik.
Di lapangan Pleret, tim medis dari Korea
Selatan, Turki secara serius menangani setiap penderitaan korban gempa,
mereka membantu kesehatan dan bantuan pangan. Tim medis Perancis, Medecins Sans Frontieres
(MSF), sejak Senin (5/6) membangun tenda-tenda perawatan di Alun-alun
Utara Keraton Yogyakarta. Tenda-tenda diperuntukkan pasien korban gempa
rujukan berbagai rumah sakit yang butuh perawatan lanjutan dan dialihkan
karena daya tampung rumah sakit terbatas.
Koordinator MSF, Fabrice Resorges mengatakan,
timnya juga menyusuri wilayah Bantul untuk melihat kondisi korban gempa
yang membutuhkan perawatan lanjutan. Demikian halnya tim-tim medis yang
berasal dari mancanegara terus berdatangan, masing-masing secara
proaktif mencari titik-titik strategis dan membangun rumah sakit
lapangan khusus bagi para korban gempa yang belum terjangkau layanan
kesehatan secara layak.
Dari hasil amatan di lapangan, persoalan yang
sekarang dihadapi bersamaan musim kemarau sudah tiba, sementara para
korban yang masih tidur di tenda-tenda pengungsian perlu mendapat
perhatian sungguh-sungguh. Hawa di malam hari yang begitu dingin menusuk
mulai dirasakan, kebutuhan selimut atau pakaian tebal dan makanan
bergizi serta pemantauan terhadap kondisi kesehatannya menjadikan hal
mendesak untuk dipenuhi, terutama bagi mereka yang tergolong lanjut usia
(lansia) dan anak-anak di bawah umur lima tahun (balita).
Di samping telah dilakukan penanganan berupa
bantuan fisik, ternyata dampak psikologis pascagempa menjadi hal yang
juga tak dapat disepelekan. Dampak-dampak psikologis seperti trauma,
panik serta beban mental lainnya layak mendapat perhatian karena
pemulihan ini justru lebih mempunyai pengaruh positif berjangka panjang.
Sampai dengan Senin (5/6), berdasar sumber Media Center di DIY,
jumlah korban gempa di seluruh wilayah DIY dan sebagian Jateng tercatat
korban meninggal sebanyak 5.857 orang, luka-luka 37.229 orang. Rumah
rusak rata tanah mencapai 84.643 unit, rusak berat 135.048, dan rusak
ringan 188.234 unit.
bangunan rusak akibat gempa 2006 (sumber: ciptakarya.pu.go.id)
Jumlah tersebut dapat dirinci: di Kabupaten Bantul
meninggal 4.280 orang, luka-luka 12.023 orang, rumah rata tanah 28.939
unit, rusak berat 40.038 unit, rusak ringan 30.906 unit. Di Kabupaten
Sleman meninggal 235 orang, luka-luka 3.792 orang, rumah rata tanah
5.243 unit, rusak berat 16.003 unit, rusak ringan 33.233 unit.
Di Kota Yogyakarta meninggal 185 orang,
luka-luka 320 orang, rumah rata tanah 2.164 unit, rusak berat 4.577
unit, rusak ringan 2.617 unit. Di Kabupaten Kulonprogo meninggal 21
orang, luka-luka 1.508 orang, rumah rata tanah 3.872 unit, rusak berat
5.251 unit, rusak ringan 8.888 unit. Di Kabupaten Gunungkidul meninggal
84 orang, luka-luka 1.059 orang, rumah rata tanah 13.543 unit, rusak
berat 4.718 unit, rusak ringan 16.742 unit.
Di Kabupaten Klaten meninggal 1.036 orang,
luka-luka 18.128 orang, rumah rata tanah 30.298 unit, rusak berat 61.224
unit, rusak ringan 93.628 unit. Di Kabupaten Magelang meninggal 10
orang, luka-luka 24 orang, rumah rata tanah 199 unit, rusak berat 507
unit, rusak ringan 658 unit.
Di Kabupaten Boyolali meninggal 4 orang,
luka-luka 300 orang, rumah rata tanah 307 unit, rusak berat 696 unit,
rusak ringan 708 unit. Di Kabupaten Sukoharjo meninggal 1 orang,
luka-luka 67 orang, rumah rata tanah 51 unit, rusak berat 1.808 unit,
tidak ada/tidak tercatat rumah rusak ringan.
Di Kabupaten Wonogiri meninggal tidak
ada/tidak tercatat, luka-luka 4 orang, rumah rata tanah 17 unit, rusak
berat 12 unit, rumah rusak ringan 74 unit. Di Kabupaten Purworejo
meninggal 1 orang, luka-luka 4 orang, rumah rata tanah 10 unit, rusak
berat 214 unit, rumah rusak ringan 780 unit.
Sementara menurut Menneg PPN/Kepala Bappenas,
Paskah Suzetta, jumlah kerugian akibat gempa di DIY dan Jateng mencapai
Rp 29,2 trilyun. Angka tersebut merupakan hasil kajian antara Bappenas
dengan Koordinator Negara-negara Donor, yaitu Bank Dunia dan Bank
Pembangunan Asia (ADB).
Memasuki masa rehabilitasi dan rekonstruksi, persoalan data dan siapa
yang layak memperoleh bantuan dana untuk membangun kembali rumahnya
perlu mendapat perhatian seksama. Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku
Buwono X berharap masa tanggap darurat di DIY selesai Juni 2006.
Menurutnya, bantuan biaya hidup (living cost)
berupa uang lauk-pauk Rp 3.000/orang perhari, beras 10 kg/orang
perbulan, uang pakaian Rp 100.000/orang sekali diberikan dan uang
peralatan masak Rp 100.000/keluarga juga sekali diberikan, semuanya ini
difasilitasi Bakornas Penanggulangan Bencana selaku wakil pemerintah dan
selanjutnya mem-back up Satkorlak (provinsi) dan Satlak
(kabupaten/kota).
Berkait bantuan dana rehabilitasi dan
rekonstruksi rumah korban, Wapres Jusuf Kalla memberikan waktu seminggu
lagi (terhitung sejak tanggal 5 Juni 2006) untuk melakukan verifikasi ke
lapangan, hal ini mengingat masih ditemui perbedaan data jumlah calon
penerima dana bantuan. Dalam keputusan final yang telah diperhitungkan
pemerintah pusat disebutkan bahwa bantuan rumah roboh ditetapkan Rp 30
juta/unit, rusak berat dibantu Rp 20 juta/unit, dan rusak sedang/ringan
menerima Rp 10 juta/unit (namun dalam realisasinya, setelah dilakukan
evaluasi lebih lanjut, rusak berat mendapat bantuan Rp 15 juta, rusak
sedang Rp 4 juta, dan rusak ringan Rp 1 juta).
Bantuan hanya diberikan kepada rumah-rumah
warga yang berpenghasilan rendah yang telah ditetapkan melalui kerjasama
pemerintah daerah, perguruan tinggi dan forum masyarakat. Informasi
mengenai bantuan biaya hidup dan bantuan untuk rumah dari sumber resmi
ini mestinya perlu disosialisasikan secara luas dan benar oleh instansi
atau lembaga berwenang, terutama disampaikan kepada mereka yang berhak
sebagai calon penerima bantuan agar hidup layak dan membangun kembali
rumahnya akibat gempa tektonik yang telah mengguncang wilayah Provinsi
DIY dan sebagian wilayah Provinsi Jateng.
Mencari model-model maupun bentuk komunikasi
yang efektif, selanjutnya dapat ditepis kemungkinan munculnya distorsi
informasi yang seringkali berakibat atau menimbulkan persoalan baru
lebih rumit. (bahan tulisan: on the spot ke lokasi gempa 2006, dilengkapi berbagai sumber).
Tulisan ini bisa juga dibaca di blog pribadi penulis http://jok-website.blogspot.com/ posted by joko martono |
sumber :
http://sosbud.kompasiana.com/2013/05/27/mengenang-gempa-tektonik-2006-di-yogyakarta-dan-sekitarnya-3-habis-559552.html













