Wednesday, May 27, 2015

Mengenang Gempa Tektonik 2006 di Yogyakarta dan Sekitarnya

Gempa bumi tektonik berkekuatan 5,9 skala Richter, Sabtu 27 Mei 2006 pukul 5.53 WIB telah meluluhlantakkan wilayah Kabupaten Bantul, Kota Yogyakarta, Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten Sleman, Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Magelang, Kabupaten Purworejo dan sekitarnya.
13696097752008760676
peta lokasi gempa tektonik 2006 (sumber: www.pu.go.id)
Data dari Satkorlak Penanggulangan Bencana Alam di Yogyakarta, hingga pukul 22.15 WIB, di hari pertama tercatat 2.986 orang dinyatakan tewas, puluhan ribu pasien dirawat di beberapa rumah sakit serta rumah penduduk/bangunan rusak berat, roboh rata-tanah dan porak poranda, belum dapat terhitung secara pasti.
Jumlah korban tewas diperkirakan masih akan bertambah, mengingat para korban yang luka berat, patah tulang akibat reruntuhan bangunan masih dirawat di rumah-rumah sakit. Sementara pihak rumah sakit yang berada di Kabupaten Bantul, Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman kewalahan dan tidak mampu lagi menampung pasien korban gempa.
Tidak sedikit pasien menempati lorong-lorong, bahkan dirawat di halaman-halaman rumah sakit, menyusul didirikan berbagai tenda darurat telah dijadikan tempat pasien korban gempa mendapat pertolongan.
Beberapa saat setelah gempa, listrik di semua tempat padam seketika, sambungan telepon terputus, termasuk penggunaan telepon selular macet total, tak berfungsi sehingga kontak ke luar daerah bencana sulit dilakukan. Komunikasi berhenti, sementara upaya pertolongan terhadap para korban terus berlangsung.
Di tengah para warga yang bersedih dan duka merenungi nasib keluarga yang menjadi korban, serta hancurnya harta benda, secara tiba-tiba muncul isu/rumor atau desas-desus bahwa segera datang tsunami.
Datangnya sebuah informasi yang tidak jelas sumbernya dan menyebar serentak dari mulut ke mulut, semakin membuat masyarakat menjadi panik, cemas serta bingung, sebagian besar mengajak sanak saudaranya mengungsi ke arah utara atau mencari tempat berlindung yang lebih tinggi dan aman. Kontan, jalan-jalan dari Bantul ke arah utara, yaitu Kota Yogyakarta, ke arah Sleman, Magelang macet dipenuhi kendaraan roda dua dan roda empat maupun pejalan kaki.
Beruntung bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitar yang masih berpola pikir rasional, mereka tidak goyah atas hembusan informasi tak bertanggung jawab tersebut. Para warga yang tetap bertahan ini memilih mencari tahu lewat sumber-sumber informasi yang bisa dipercaya. Satu-satunya jalan di tengah perasaan cemas dan gelisah, banyak pihak yang sedang dirundung duka mendalam, medium radio menjadi sarana komunikasi paling andal saat itu.
Adalah stasiun Radio Sonora FM, yang bermarkas di nDalem Tejokusuman Yogyakarta ternyata tetap on air dan secara simultan melakukan siaran sepanjang hari, melaporkan peristiwa gempa serta apa yang terjadi. Di saat yang sama, RRI sebenarnya juga sedang melakukan siaran, hanya saja mengingat stasiun radio siaran ini kurang komprehensif dalam meliput dan menyiarkan segala peristiwa tentang gempa bumi, selanjutnya cenderung diabaikan pendengar.
Dengan demikian, keandalan siaran yang dipancarluaskan Radio Sonora FM menjadi pilihan utama, bahkan lewat stasiun radio siaran ini persoalan berkait rumor/desas-desus tentang datangnya tsunami dapat ditepis sehingga membuat masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya lega.
Tersebarnya reporter Radio Sonora FM di hampir semua lokasi strategis wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitar, ditampilkannya informan serta tokoh-tokoh kunci (key person) baik tokoh formal maupun non-formal yang berhasil diwawancari dan disiarkan secara live, juga laporan langsung dari masyarakat semakin menambah kepercayaan pendengar untuk mengikuti siaran radio ini tanpa henti.
Malam pertama sesudah gempa, di tengah gelap gulita dan guyuran hujan deras malam hari, rasa panik masih mencekam karena gempa-gempa susulan, medium radio menjadi satu-satunya sarana untuk mengakses informasi yang dibutuhkan masyarakat di lokasi gempa.
Yogyakarta bersedih dan berduka! Demikian inti liputan yang diungkap media massa. Belum lagi aktivitas Gunung Merapi di wilayah utara mereda, disusul gempa tektonik di wilayah selatan yang justru membawa ribuan korban jiwa. Daerah yang paling parah akibat gempa tektonik adalah Kabupaten Bantul, karena berdekatan dengan episentrum (pusat gempa) yang berada di Samudera Indonesia.
Berdasarkan analisis Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), gempa tektonik berkekuatan 5,9 skala Richter berpusat di 8,2 LU, 110 BT, berada 37 kilometer selatan Yogyakarta di kedalaman 33 kilometer. Namun sumber lain menyebutkan gempa berkekuatan 6,3 skala Richter.
Akibat gempa yang mengguncang Yogyakarta dan sekitar, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengemukakan, Provinsi DIY kini dinyatakan dalam keadaan darurat selama lima hingga tujuh hari ke depan, prioritas difokuskan pada penanganan para korban gempa dengan baik.
“Ini keadaan darurat. Dalam kondisi darurat agar masyarakat hilang dari traumatik, menolong pasien terluka itu adalah prioritas. Mereka perlu disuplai melalui sistem distribusi makanan dan sebagainya yang perlu dikonsolidasikan,” ujarnya. Ditegaskan Sultan, penanganan pasien korban gempa harus didahulukan. Setelah itu baru memikirkan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam kunjungan di Yogyakarta bersama beberapa menteri, Sabtu (27/5) petang langsung menemui para pejabat DIY di Rumah Dinas Bupati Bantul, HM Idham Samawi. Presiden menaruh perhatian serius dan mengingatkan kepada Gubernur DIY dan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) serta para bupati dan walikota yang daerahnya terkena bencana gempa, agar menggunakan sumber dana yang ada untuk membantu korban bencana.
Dikatakan SBY, Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Alam sudah bekerja dan harus siap bertindak melakukan penanganan dan memberikan yang diperlukan, merawat korban yang luka-luka dan memakamkan yang meninggal, serta mengevakuasi yang belum tertolong. Kebutuhan medis diprioritaskan pengadaan obat-obatan dan tenaga paramedis.
Untuk tanggap darurat, Presiden meminta Gubernur DIY, walikota dan bupati yang daerahnya terkena bencana alam agar membantu sepenuhnya. “Besok (28/5) beberapa rumah sakit lapangan akan segera datang dari Jakarta,” kata SBY. Presiden berpesan kepada masyarakat agar tenang dan jangan panik. Sesuai informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), tidak bakal terjadi lagi gempa susulan yang kuat seperti terjadi Sabtu pukul 5.53 WIB lalu. Gempa susulan hanya terjadi dalam skala kecil.
SBY pun meminta kepada wartawan untuk menyebarluaskan informasi sebenar-benarnya kepada masyarakat supaya tetap tenang. Dalam kunjungannya, Presiden SBY sempat meninjau pasien korban gempa di rumah sakit serta mendatangi tenda-tenda pengungsi. Ikut dalam rombongan SBY sejumlah menteri, antara lain Menko Kesra Aburizal Bakrie, Mensos Bachtiar Chamsyah, Seskab Sudi Silalahi, Mendiknas Bambang Sudibyo, Menkes Siti Fadilah Supari, Mendagri Ma’ruf, Menko Polkam Widodo AS, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, serta KASAD Jenderal TNI Djoko Santoso.
Menurut juru bicara kepresidenan, Andi Mallarangeng, Presiden bersama sejumlah menteri untuk sementara waktu berkantor di Istana Presiden, Gedung Agung Yogyakarta guna memantau langsung penanganan korban gempa.
Beberapa gedung/bangunan rusak berat
Dari amatan langsung ke lokasi bencana, bangunan yang tampak mengalami kerusakan akibat gempa adalah Kampus STIE Kerja Sama di Jalan Parangtritis Yogyakarta, tembok/gedungnya rontok, Gedung BPKP yang letaknya juga di Jalan Parangtritis bangunan menjadi miring, rusak berat. Bandara Adisutjipto lumpuh setelah terminal penumpang domestik ambruk.
Selanjutnya diberitakan media bahwa gempa tektonik telah merusak benda cagar budaya (heritage) di antaranya Tembok Situs Tamansari, Bangsal Trajumas Keraton Yogyakarta, Kediaman GKR Pembayun- puteri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X, beberapa rumah pangeran dari Keraton Yogyakarta, Pojok Beteng Wetan, Pojok Beteng Kulon, Puro Pakualaman (Bangsal Sewotomo), Benteng Makam Panembahan Senopati, Monumen Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX (Pacak Suji, Kotagede), Candi Prambanan, Stasiun Prambanan, Masjid Pathok Negari, tak terkecuali makam raja-raja di Imogiri.
Di wilayah Klaten juga diwartakan kerusakan dialami Matahari Plaza berlantai 4 yang sebagian tembok retak dan jebol, Stadion Trikoyo temboknya roboh menutup bahu jalan. Di lokasi Candi Prambanan, empat candi yang mengalami kerusakan yaitu Candi Plaosan, Sojiwan, Brahma dan Siwa. Arca dan stupa yang berada di empat candi tersebut roboh. Candi Brahma yang berada di bagian barat mengalami rusak paling berat, pagar dan gapura candi juga mengalami kerusakan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta rombongan telah menyempatkan waktu untuk meninjau kompleks Candi Prambanan yang rusak akibat diguncang gempa.
Hingga hari kedua (28/5) setelah gempa, korban tewas mencapai 4.374 orang, jumlah ini diperkirakan bertambah mengingat evakuasi masih terus dilakukan. Korban tewas dari Bantul ternyata paling besar yaitu 3.080 orang, Klaten 844 orang, Yogyakarta 317 orang, Sleman 76 orang, Gunungkidul 46 orang, Kulonprogo 7 orang, Boyolali 4 orang. Sementara korban luka berat dan ringan di seluruh lokasi gempa diperkirakan lebih 20 ribu orang.
Di Bantul tercatat luka berat 2.700 orang dan luka ringan 3.100 orang. Sedangkan di Klaten luka berat 552 orang, luka ringan 1.800 orang, semua korban luka berat dan ringan kini mendapat perawatan di rumah sakit terdekat, bahkan mengingat daya tampung rumah sakit terbatas maka sebagian pasien ada yang dikirim ke rumah sakit di Solo, Boyolali, Semarang, Magelang, Purworejo, Kebumen, Purwokerto serta daerah lain. Jumlah kerugian materi di seluruh lokasi gempa belum bisa dipastikan, diperkirakan mencapai trilyunan rupiah.
Dari on the spot saya ke lokasi gempa di Bantul (28-29 Juni 2006), khususnya di Kecamatan Sewon, Jetis, Pleret, Imogiri, Pundong, Kretek hampir semua korban gempa mulai mendapat pertolongan, kecuali yang berada di pelosok masih ditangani secara sederhana. Setidaknya, itu semua berkat gotong royong antarwarga untuk menemukenali sanak saudara di kampung masing-masing. Di Karangtalun (Imogiri) seorang dinyatakan masih belum ditemukan dan diperkirakan masih berada di antara reruntuhan tembok/bangunan rumah yang roboh-rata dengan tanah.
Masalah penanganan korban gempa serta bantuan pangan dan obat-obatan selanjutnya mulai dipusatkan di masing-masing lokasi dengan didirikannya posko induk. Demikian halnya jumlah bantuan dari pihak-pihak lain yang yang perduli korban, nampak terus berlangsung.
Bantuan sandang-pangan yang bersifat personal serta bantuan dari lembaga-lembaga swasta (LSM) lebih cepat diterima dan dimanfaatkan oleh mereka yang membutuhkan. Sedangkan bantuan lewat jalur birokrasi seperti dikatakan seorang korban luka ringan yang rumahnya roboh di Dusun Ponggok I, Jetis, Bantul ketika mengurus permintaan tenda harus pulang dengan tangan hampa, ia ditolak karena tidak membawa kartu identitas atau Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Dalam amatan penulis, distribusi bantuan akomodasi serta logistik melalui jalur formal nampak belum berjalan optimal, belum merata memenuhi kebutuhan para korban seperti diharapkan. Khususnya di daerah-daerah yang tidak terjangkau kendaraan roda empat dan berada di pelosok dusun, hanya memperoleh bantuan dalam jumlah sangat terbatas.
Kebutuhan tenda, selimut, pakaian layak hingga lampu senter serta lampu penerangan untuk setiap tenda pengungsi di malam hari belum juga tercukupi. Sejak hari pertama setelah gempa, di mana jalur-jalur komunikasi terputus, semua telepon seluler belum berfungsi optimal sehingga untuk mengetahui lokasi mana yang sangat membutuhkan bantuan menjadi sulit dipetakan.
Terlebih setiap malam selalu diguyur hujan deras, kondisi lokasi korban gempa cukup gelap, masyarakat korban gempa yang masih diselimuti rasa panik/trauma dituntut untuk survival, sebagian warga yang rumahnya hancur berantakan, terpaksa tidur berkelompok di tempat-tempat pengungsian ala kadarnya sambil menjaga lingkungan dan berdekatan dengan puing-puing atau reruntuhan rumah masing-masing.
Hari ketiga (29/5) pascagempa, korban tewas di DIY dan Jateng terus bertambah. Hingga pukul 23.00 wib tercatat korban tewas sebanyak 5.162 orang. Berdasarkan sumber Pemprov dan Satkorlak DIY, korban tewas berasal dari Bantul 3.082 orang, Sleman 184 orang, Kota Yogyakarta 151 orang, Gunungkidul 58 orang, Kulonprogo 15 orang, sedangkan sebanyak 1.672 orang berasal dari berbagai kota di Jateng (Klaten, Boyolali, Sokoharjo dan sekitarnya).
Sedangkan jumlah kerugian material yang berhasil dirilis Pemprov DIY yaitu mencapai Rp 2,8 triyun. Ini masih dalam jumlah sementara, diperkirakan kerugian akan bertambah karena data yang masuk masih sebagian, belum semua daerah korban gempa melaporkan data kerusakan seperti tempat ibadah, sekolah, serta bangunan pemerintah.
Kerugian paling besar akibat gempa tektonik adalah di Kabupaten Bantul. Berdasarkan laporan dari Satkorlak DIY (29/5) tercatat sebanyak 33.616 rumah penduduk yang rusak parah, sebanyak 19.593 ada di DIY, sedangkan sisanya yaitu 14.023 berada di wilayah sebagian Jateng. Sampai hari ketiga, Tim SAR RI dan relawan berbagai lembaga serta tim dari negara-negara asing masih terus melakukan evakuasi.
Sampai hari ketiga pascagempa, hilir-mudik mobil ambulan dari berbagai lembaga terus menelusuri daerah korban gempa menolong korban, termasuk helikopter Badan SAR Nasional (Basarnas) mengangkut korban sebagai langkah evakuasi ke Mini Hospital, yang sudah dipersiapkan di kompleks Gedung Olahraga UNY, Kampus Karangmalang, Yogyakarta.
Lambatnya distribusi bantuan kepada para pengungsi korban gempa segera disikapi Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Gubernur mengambil langkah taktis dengan memutuskan jalur distribusi tidak lagi melalui Satuan Pelaksana (Satlak) yang berpusat di Pemkab Bantul.
Bantuan langsung didistribusikan ke masing-masing kecamatan. Dari kecamatan, bantuan tersebut didistribusikan ke desa dan dusun-dusun korban bencana. “Kita putuskan bantuan tidak lagi melalui Satlak. Semua bantuan dari provinsi langsung ke kecamatan-kecamatan,” jelasnya.
Gubernur yang juga sebagai Ketua Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) DIY mengatakan, dalam kondisi tanggap darurat, pihaknya sangat berharap agar para camat dan lurah yang daerahnya terkena bencana bertindak proaktif. Sebab merekalah yang paham dan tahu detail lokasi yang menjadi korban bencana.
Kepada media massa atau wartawan, Sultan minta untuk menginformasikan jika memang masih ada wilayah yang belum tersentuh penanganan atau bantuan, atau masih sangat minim bantuan yang diterima agar segera disampaikan ke Satkorlak Penanggulangan Bencana DIY.
Gubernur juga mengeluarkan pengumuman dan seruan yang meminta seluruh PNS segera kembali bekerja agar pelayanan masyarakat bisa berjalan optimal. Mereka yang mengurus keluarga karena rumahnya rusak atau ada anggota keluarga yang hilang/meninggal atau dirawat di rumah sakit diimbau segera melapor kepada atasan langsung.
Menanggapi munculnya isu-isu yang bisa menyesatkan pascagempa, seperti bakal segera datang gempa yang lebih besar lagi, menurut Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X hanyalah isu/rumor yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Sebab kata Sultan, berdasarkan kajian teknis yang dilakukan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), meski masih ada gempa kecil susulan, namun keadaan sudah akan kembali normal.
Seperti dikatakan Kepala BMG Yogyakarta, Jaya Murjaya bahwa menurut prediksinya, dalam 11 hari lagi akan mendekati stabil meski intensitasnya terus mengalami penurunan namun belum bisa mencapai o (nol). Masyarakat tidak perlu khawatir, berdasarkan data masih ada gempa susulan skala kecil. Atas dasar itu, Sri Sultan meminta kepada masyarakat untuk tidak lagi tidur di luar rumah, karena dikhawatirkan justru mudah terkena serangan penyakit.
Sementara kepada para pedagang eceran/grosir dan pedagang di pasar-pasar serta penyedia jasa lain yang masih layak buka, sedapat mungkin supaya mengusahakan untuk bisa beroperasi atau bekerja kembali, agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan.
Diharapkan pula kepada seluruh warga juga dapat menerima musibah sebagai cobaan Tuhan Yang Maha Kuasa, agar semua eling lan waspada, juga agar mampu bangkit kembali menunaikan tugas dan kewajiban masing-masing. Kegiatan masyarakat yang bersifat keramaian agar menyesuaikan dengan kondisi masyarakat yang penuh keperihatinan.
13696125841996728303
peta lokasi korban gempa tektonik 2006 (sumber: www.pu.go.id)
Empat hari pascagempa, berdasarkan laporan Satlak Bantul, Satkorlak DIY dan Jateng serta berbagai rumah sakit tercatat korban tewas mencapai 5.737 orang. Jumlah itu terdiri atas korban dari Bantul 3.481 orang, Sleman 326 0rang, Kota Yogyakarta 163 orang, Gunungkidul 69 orang, Kulonprogo 26 orang. Selebihnya yakni 1.672 korban tewas berasal dari daerah Jawa Tengah. Di Kabupaten Klaten, korban tewas hingga hari ke-empat tercatat 1.044 orang dan korban luka sebanyak 8.904 orang.
Tiga kecamatan paling parah dan banyak menderita akibat gempa tektonik di Kabupaten Klaten adalah Kecamatan Gantiwarno, Wedi dan Prambanan. Dalam kunjungannya di Posko Kecamatan Gantiwarno dan Wedi, Klaten (30/5), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengemukakan, pemerintah terlebih dulu mengutamakan pemulihan kesehatan, pendidikan, dan mengobati warga yang masih mengalami luka-luka. Kebutuhan logistik harus terpenuhi, jika memang masih ada kekurangan akan dikerahkan bantuan. Diharapkan bantuan logistik sebaiknya langsung diserahkan ke desa atau kelurahan, berlanjut ke RW/RT dan jangan dibelokkan.
Di hari keempat itu pula, Bandara Adisumarmo (Solo) mulai dipenuhi pesawat-pesawat asing silih berganti mendarat, siap memberikan pertolongan terhadap korban gempa. Demikian halnya sejak Selasa (30/5) bantuan asing di Yogyakarta terus berdatangan, bantuan personel militer Amerika Serikat tiba di Bandara Adisutjipto (30/5) pukul 10.00 wib dengan menggunakan 7 pesawat Hercules. Selain personel, juga membantu sejumlah peralatan untuk melakukan evakuasi dan pertolongan lain kepada pengungsi.
Bantuan yang dikoordinasikan oleh Deplu dan Departemen Pertahanan AS (PACOM) melalui Deplu AS ini membawa 100 personel yang dikerahkan dari unit Angkatan Udara AS di Guam, membawa peralatan bedah, perawatan gigi, X-ray, peralatan laboratorium dan kebutuhan medis lainnya. Direktur PACOM, Brigjen Dana Atkins menyebutkan, tujuan utama kedatangan PACOM adalah mengurangi angka kematian dan meringankan penderitaan para korban gempa.
Sedangkan dari World Food Programm (WFP), melalui juru bicara Barry Came mengatakan, pihaknya mencadangkan bantuan pangan paling tidak untuk jangka waktu dua bulan bagi korban gempa di Yogyakarta. Untuk bulan pertama, bantuan pangan akan diberikan kepada 80.000 korban gempa dan bulan kedua akan menjangkau 50.000 korban.
Sesudah itu program akan ditinjau dan tahap selanjutnya tergantung kebutuhan. WFP mengakui bahwa masih banyak ketimpangan dalam upaya pemberian bantuan untuk menolong korban gempa. Karena itu pihaknya mengisi bidang-bidang yang perlu penanganan segera, termasuk pangan, kesehatan, shelter dan perlindungan anak. WFP prihatin masih banyak korban gempa yang tidak mendapatkan makanan selama berhari-hari dan tidak memperoleh pelayanan kesehatan.
Pada bagian lain, Manager Administrasi dan Keuangan Angkasa Pura I Yogyakarta, Aryadi menyebutkan, tim medis dari negara-negara sahabat terus berdatangan, tim medis dari Jepang beranggotakan 25 orang langsung diterjunkan di depan Rumah Sakit Muhammadiyah Bantul dilengkapi peralatan kesehatan ultrasonografi dan X-ray, tim medis dari Cina tiba di Yogyakarta (30/5) terdiri dari 40 dokter.
Sejak Senin (29/5) juga sudah mendarat 5 pesawat Hercules yang datang dari Singapura dan satu Hercules PBB dari Amerika Serikat yang berangkat dari pangkalannya, satu Hercules dari Malaysia. Pesawat-pesawat Hercules tersebut membawa sejumlah bantuan, berupa tim medis, obat-obatan dan makanan. Di samping juga membawa tim penjejak bersama puluhan anjing pelacak, ambulan, alat-alat berat juga kendaraan operasional seperti truk dan kendaraan lain.
Rabu (31/5), hari kelima pascagempa, para korban mulai frustrasi. Terutama kebutuhan pangan yang mulai menipis dan tersendatnya bantuan logistik, bahkan ada daerah yang belum mendapat bantuan, wakil mereka segera mendatangi Posko Satkorlak Provinsi DIY.
Jumlahnya sekitar ratusan orang berasal dari Kabupaten Bantul, Sleman dan Kota Yogyakarta, dengan penuh emosi meminta segera dikirim logistik. “Jangan kami diminta untuk terus bersabar. Kami sudah terancam kelaparan. Semua sudah ludes terkena gempa,” kata Warsono dari Sleman. Tak lama berselang, begitu puluhan truk pengangkut beras datang di Posko Satkorlak di Kompleks Kepatihan, massa tersebut langsung berlomba naik ke bak-bak truk untuk berebut mengambil beras. Para petugas Satkorlak kewalahan menghadapi warga yang emosional tersebut.
Hingga hari kelima (31/5), Pemprov DIY terus melakukan pendataan korban dan kerugian akibat gempa. Tidak ada perubahan yang signifikan mengenai jumlah korban yang meninggal, sampai dengan pukul 23.00 wib, di wilayah DIY tercatat korban tewas bertambah 4 orang berdasar data Satkorlak Provinsi DIY.
Sejak hari Rabu, tanggal 31 Mei 2006, bantuan dana bagi keluarga korban gempa tektonik sudah mulai cair. Pemerintah merealisasikan bantuan uang tunai kepada para korban di Kabupaten Bantul. Kali pertama bantuan uang tunai tersebut diberikan kepada warga yang bertempat tinggal di Kelurahan Sabdodadi dan Trirenggo. Para warga menerima uang makan Rp 3.000/jiwa perhari, uang pakaian Rp 100.000/jiwa (sekali diberikan), uang perabot rumah tangga Rp 100.000/kepala keluarga.
Penyerahan bantuan senilai Rp 1 milyar secara simbolis dilakukan Menko Kesra Aburizal Bakrie kepada Bupati Bantul HM Idham Samawi di Balai Desa Sabdodadi. “Bantuan uang makan itu kita berikan selama dalam pengungsian, uang perabot dan pakaian kita berikan sekali,” ujar Bakrie.
Ditambahkan pula, uang bantuan dari pemerintah pusat sudah ada di Yogyakarta. Kini tinggal kecepatan para kepala desa untuk mendata jumlah warga yang menjadi korban bencana gempa. Menko Kesra juga meminta seluruh aparatur yang menangani bencana jangan mempersulit birokrasi, jangan ada yang menyunat uang bantuan, rakyat sangat membutuhkan.
Selain bantuan uang, pemerintah juga menyediakan dana rekonstruksi rumah dan bangunan. Setiap rumah yang rusak berat mendapat jatah maksimal Rp 30 juta, rusak sedang/ringan Rp 10 juta, bantuan ini akan diberikan setelah selama satu bulan (Juni) dilakukan verifikasi pendataan atas rumah yang terkena gempa oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Satlak. Pemerintah juga akan menyantuni pembangunan sarana MCK sebesar Rp 500 ribu untuk 50 orang. Dana bantuan untuk rumah itu dihitung berdasarkan swakelola dengan tingkat kerusakannya. Sementara untuk bangunan umum seperti sekolah, tempat ibadah dan lainnya belum ditentukan.
Hingga 1 Juni 2006, data sementara yang dilansir Departemen Sosial RI, tercatat korban tewas akibat gempa bumi di Yogyakarta dan sekitarnya mencapai 6.234 orang, sedangkan korban luka berat mencapai 33.231 orang, luka ringan 12.917 orang. Rincian korban tewas di Bantul berjumlah 3.968 orang, Sleman 326 orang, Yogyakarta 165 orang, Gunungkidul 69 orang, Kulonprogo 26 orang. Total jumlah korban tewas di DIY adalah 4.554 orang. Sedangkan di Jawa Tengah tercatat korban tewas 1.680 orang, dengan rincian Klaten 1.668 orang, Purworejo 5 orang, Boyolali 3 orang, Magelang 3 orang, Sukoharjo 1 orang.
Korban luka berat di Bantul berjumlah 13.989 orang, Sleman 1.146 orang, Gunungkidul 1034 orang, Kulonprogo 252 orang, Kota Yogyakarta 224 orang. Total jumlah korban luka berat di DIY yakni 16.645 orang. Sedangkan di Kalaten korban luka berat mencapai 16.496 orang, Sukoharjo 67 orang, Boyolali 23 orang, Magelang dan Purworejo data belum masuk. Total jumlah korban luka berat untuk sementara di Jateng ini mencapai 16.586.
Korban luka ringan di Bantul sebanyak 8.612 orang, Sleman 4.075 orang, Kulonprogo 171 orang, Kota Yogyakarta 59 orang, Gunungkidul data belum masuk. Total korban luka ringan di DIY mencapai 12.917 orang. Untuk korban luka ringan di Jateng masih dalam pendataan.
Mengenai jumlah kerusakan rumah/bangunan dipaparkan jumlahnya mencapai 233.237 unit. Dari jumlah itu dapat dirinci melalui tiga kategori yaitu kategori rata dengan tanah berjumlah 67.505 unit, rumah rusak ringan sejumlah 93.599 unit, dan rusak berat/roboh mencapai 72.133 unit. Dibeberkan pula, rumah rusak rata dengan tanah di Bantul ada 22.123 unit, di Sleman 4.972 unit, Gunungkidul 1.404 unit, Kota Yogyakarta 2.016 unit dan Kulonprogo 1.470 unit. Total rumah yang rusak rata-tanah di DIY mencapai 31.985 unit.
Rumah rusak berat atau roboh di Bantul sebanyak 15.403 unit, Sleman 14.765 unit, Gunungkidul 6.640 unit, Kota Yogyakarta 3.727 unit, Kulonprogo 3.024 unit. Total jumlah rumah/bangunan roboh di DIY sementara berjumlah 43.559 unit. Sedangkan rumah rusak ringan jumlah totalnya mencapai 61.691 unit, terinci yakni di Bantul 12.965 unit, Sleman 29.278 unit, Gunungkidul 13.685 unit, Kota Yogyakarta 1.108 unit, Kulonprogo 4.655 unit.
Di wilayah Jateng, rumah rata-tanah mencapai 35.520 unit, terinci di Klaten 33.916 unit, Sukoharjo 1.604 unit, Boyolali, Purworejo dan Magelang data belum masuk. Untuk rumah rusak berat/roboh di Klaten berjumlah 28.554 unit, data dari kota lainnya belum masuk. Rumah yang mengalami rusak ringan di Klaten sebanyak 31.908 unit, data dari kota lainnya belum masuk. Tercatat pula, rumah ibadah di DIY dan Jateng yang mengalami kerusakan sebanyak 36 unit, kerusakan bangunan sekolah tercatat 23 unit, serta bangunan pemerintah mencapai 294 unit.
Setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meninggalkan kantornya di Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta dan kembali ke Jakarta, Wakil Presiden Jusuf Kalla (1/6) menyusul menggantikannya. Dalam kunjungan ke Provinsi DIY dan Jateng mengingatkan, jangan sekali-sekali mempersulit warga yang sedang meminta bantuan, apalagi gara-gara tidak membawa KTP. “Nanti kalau ada yang minta bantuan, tidak perlu menunjukkan KTP lagi. Orang kesusahan jangan dipersulit,” tegasnya di Rumah Dinas Bupati Bantul.
Menindaklanjuti program rekonstruksi pascagempa di wilayah Provinsi DIY dan sebagian wilayah Jateng, pemerintah akan mengalokasikan dana Rp 30 juta untuk korban gempa yang rumahnya roboh atau rusak berat. Tanggal 10 Juni semua data lengkap kerusakan rumah harus disampaikan ke Satkorlak.
Menurut Wakil Koordinator Operasi II Bakornas Penanganan Bencana, Budi Atmadji (3/6) di Kompleks Kepatihan, bahwa keputusan itu belum final dan akan dimatangkan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dijelaskan pula, bantuan sebesar Rp 30 juta hanya untuk rumah rusak berat atau roboh dengan hitungan Rp 750.000/m3 termasuk kontribusi kepada lingkungan Rp 1 juta. Rumah rusak sedang dalam arti dinding dan rangka masih ada dibantu Rp 20 juta/rumah dengan hitungan Rp 500.000/m3 sudah termasuk Rp 500.000/rumah untuk kontribusi lingkungan.
Sedangkan untuk rumah rusak ringan dibantu Rp 10 juta/rumah dengan hitungan Rp 250.000/m3 termasuk kontribusi lingkungan Rp 500.000. Pelaksanaan pembangunan rumah warga korban gempa sepenuhnya dilakukan secara mandiri oleh masyarakat dengan bimbingan teknis dari Departemen PU atau pemerintah desa setempat. Selain itu, para korban gempa meninggal dunia juga akan mendapatkan santunan Rp 2 juta/ahli waris sebagai tanda duka dari pemerintah.
Pemerintah juga memberikan bantuan beras 10 kg/orang perbulan, lauk pauk Rp 3000/orang perhari, Rp 100.000/orang untuk beli pakaian dan Rp 100.000/keluarga untuk beli peralatan rumah tangga. Bantuan beli pakaian dan alat rumah tangga diberikan satu kali.
Semua program tersebut sedang digodok dan akan difinalkan Senin (5/6) mendatang oleh Wapres Jusuf Kalla agar secara teknis aman dan dapat diterima masyarakat serta mampu menggerakkan roda ekonomi di daerah bencana.
Berkait hal itu, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan, detail rekonstruksi pascagempa akan dibahas minggu ketiga. Yang pasti rekonstruksi rumah korban warga dikerjakan masyarakat sendiri. “Pemerintah membantu dana. Harga maksimum sekian, tapi tolong dikerjakan masyarakat sendiri. Tidak ada pemborong dengan harapan ekonomi setempat tumbuh. Kalau ada pemborong, sing untung pemborong ning ekonomi setempat tidak tumbuh,” tegasnya.
Di tengah trauma dan perasaan panik yang masih melekat pada sebagian besar warga di Provinsi DIY dan Jateng, serta masih munculnya gempa-gempa susulan, kemudian kembali santer diisukan/rumor akan terjadi gempa dahsyat, berkekuatan lebih besar yaitu pada tanggal 07 Juni 2006.
Isu/rumor yang telah beberapa hari beredar melalui pesan pendek (sms) atau media online dan telah menyebarluas dari mulut ke mulut tanpa diketahui secara pasti sumbernya, bisa semakin meresahkan warga. Sebagai salah satu contoh isu/rumor dapat dipetik dari e-mail massal beranting yang juga pernah ditujukan kepada alamat saya berbunyi sebagai berikut:
From: Oky
To: HRD
Sent: Monday, June 05, 2006 2:36 PM
Subject: bsk akan terjadi tsunami
Menurut CNN, disiarkan 3 hari yang lalu bahwa lempeng bumi di australia sedang bergerak ke utara menuju asia.diperkirakan bisa bertubrukan dengan lempeng bumi di selatan pulau jawa.Diperkirakan 11 hari setelah gempa jogja, atau rabu besok(7 juni) akan ada gempa dahsyat dan memungkinkan terjadinya tsunami. Mohon doanya n plis forward ke temen-temen laen, jangan sampai putus di tangan kamu

Menanggapi menyebarluasnya isu/rumor tersebut, Tim Tanggap Darurat, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) mengatakan, gempa susulan yang terjadi sampai Kamis (2/6) pukul 23.45 wib dengan intensitas III Skala MMI magnitudo atau kekuatan gempa 3,5 skala Richter (SR) dan dirasakan sebagian warga di Provinsi DIY, merupakan gempa yang tidak berbahaya. “Gempa ini tidak berbahaya,” kata Dr Surono dari Tim Posko DESDM di Kepatihan, Yogyakarta. Sebab berdasar pengamatan sudah terjadi penurunan jumlah dan intensitas gempa bumi susulan setelah terjadi gempa utama (27/5) lalu.
Menurutnya, kecil kemungkinan terjadi gempa bumi susulan dengan magnitudo yang sama atau lebih besar dari gempa 27 Mei 2006 silam yang berkekuatan 5,9 SR. “Oleh karena itu, masyarakat harap tenang, tidak mempercayai isu-isu/rumor yang menyebutkan akan terjadi gempa bumi dengan magnitudo lebih besar. Masyarakat dapat menghuni kembali rumah masing-masing yang tidak mengalami kerusakan.
Hal sama dikatakan ahli geologi UPN “Veteran” Yogyakarta, Dr Heru Sigit dalam menepis isu/rumor akan terjadi gempa lebih besar dalam waktu dekat ini. Menurutnya, gempa bumi dengan kekuatan lebih dari gempa yang terjadi Sabtu (27/5) lalu tidak akan terjadi lagi di wilayah DIY dalam kurun waktu satu hingga tiga tahun ke depan.
Penduduk aman menempati kembali rumah-rumah yang masih utuh atau hanya mengalami kerusakan ringan. Heru yakin tidak akan terjadi gempa lebih besar lagi di Yogyakarta dalam waktu dekat. Posisi lempeng benua dan samudera yang aktif bergerak dan menyebabkan gempa, telah mencapai keadaan seimbang hingga satu sampai tiga tahun. Sebagian energi yang tersisa sudah dilepaskan di tempat lain dan trend-nya sudah menurun.
Berdasarkan cacatan gempa yang pernah terjadi, gempa besar akan terjadi satu hingga tiga tahun ke depan tetapi tidak bisa dipastikan terjadi di Yogyakarta, melainkan bisa dimana pun di daerah patahan di seluruh dunia. Gempa berkekuatan 5,9 skala Richter biasanya tidak menimbulkan kerusakan sehebat dampak gempa Yogyakarta dan sebagian daerah Jateng seperti yang terjadi sekarang. Gempa Sabtu lalu itu dirembetkan sesar lama yang sebetulnya sudah tidak aktif. Sesar memanjang sesuai aliran Sungai Opak dan berlanjut ke arah timur laut sampai wilayah Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, Jateng.
Pada bagian lain, dalam mengatasi persoalan pendidikan pascagempa, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DIY, Drs Sugito Msi menyatakan, sekolah darurat dengan tenda direncana didirikan di setiap sekolah yang mengalami kerusakan. Jumlahnya disesuaikan dengan jumlah sekolah yang rusak, kapasitas sesuai jumlah siswa.
Sedangkan sekolah yang berdekatan dengan sekolah lain yang masih bagus dan aman, digabung melaksanakan pendidikan bersama. Saat ini dicarikan tenda sesuai jumlah siswa. Langkah awal, akan menyembuhkan trauma guru dan siswa korban gempa.
Menurutnya, mengenai rencana pembangunan sekolah ini sudah dibicarakan dengan UNICEF, Departemen Pendidikan Nasional, Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota. Perencanaan sedang digodok sampai final, karena memang harus secepatnya diselesaikan.
Begitu juga santunan guru dan siswa yang meninggal. Rencananya, pemerintah pusat, provinsi dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) siap membantu. Berdasarkan data Posko Gempa Bumi, Dinas Pendidikan DIY per 1 Juni 2006 pukul 09.00 wib, jumlah bangunan sekolah yang rusak mencapai 1.470 sekolah, baik SLB, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK termasuk Perguruan Tinggi. Sedangkan jumlah korban mencapai 222 orang terdiri dari 108 meninggal meliputi 24 guru, 2 karyawan, dan 82 siswa. Luka berat tercatat 82 siswa, dan 34 luka ringan.
Sementara itu di Klaten, kegiatan belajar mengajar di SMP 1 Prambanan dan SMP 2 Gantiwarno Klaten, mulai Kamis (1/6) telah dimulai kelas-kelas tenda yang dibangun Yayasan Sampoerna Foundation (YSF). Meski dari 2 tenda hanya bisa dilaksanakan kegiatan belajar mengajar untuk 4 kelas, itu pun tidak utuh diikuti peserta didik. Namun sekolah yang semula memiliki 18 kelas dengan 716 siswa itu diselenggarakan dalam 2 shift.
Kegiatan belajar mengajar yang baru kali pertama dilaksanakan pascagempa dan dilangsungkan di tengah kekhawatiran gempa susulan, hanya diselenggarakan sekitar 2 jam. Sekitar pukul 11.00 wib, suasana kelas tenda di SMP 1 Prambanan tersebut sudah lengang, karena kelas telah bubar.
Communication Director Sampoerna Foundation, Sapto Handoyo Sakti mengemukakan, pihaknya memberikan fokus perhatian pascabencana ini untuk jangka panjang, utamanya di bidang pendidikan. Kami memilih fokus pendidikan memang menjadi concern kegiatan selama ini. Karena itulah Sampoerna Foundation (SF) bekerjasama dengan NGO Internasional sedang mengupayakan penghilangan trauma dengan mengajak anak kembali ke sekolah.
Diakui, hal ini bukan merupakan pekerjaan gampang. Bukan hanya karena sekolah yang rusak, namun juga kondisi psikologis siswa yang belum pulih. Kondisi SMP 1 Prambanan Klaten rusak berat, 30% papan tulis dan 50% meja kursi masih bisa dipergunakan sehingga dimanfaatkan untuk kelas tenda. Selain tambahan tenda besar untuk kelas, jelas Sapto Handoyo, siswa memerlukan buku pelajaran tahun ajaran 2006/2007 dan buku tulis bagi siswa dibutuhkan untuk belajar, sementara rumah mereka hancur.
Adanya duplikasi dalam laporan dan pencatatan menyebabkan data jumlah korban meninggal dan luka-luka akibat gempa tektonik di wilayah DIY dan sebagian wilayah Jateng simpang siur. Pemerintah, sejak Jum’at (2/6) akhirnya menghentikan sementara pencatatan korban dan melakukan verifikasi data untuk mendapatkan kepastian.
Kahumas Departemen Sosial (Depsos), Heri Kris Sritanto menjelaskan, terjadi perbedaan jumlah korban antara data yang dikeluarkan Depsos dengan data yang dikeluarkan Satlak di tingkat kabupaten. Duplikasi ini dimungkinkan terjadi karena ada masyarakat yang telah melaporkan ke Posko tentang jumlah korban yang meninggal di suatu tempat. Setelah itu, kamar jenazah juga melaporkan korban yang sama.
Berkait hal tersebut Depsos menghentikan hitungan dan akan berkoordinasi dengan Bakornas, sebagai satu-satunya sumber yang memiliki kewenangan untuk merilis jumlah korban. Data jumlah korban nantinya dikaitkan dengan pengaturan santunan yang akan diberikan kepada para korban.
Data sampai Jum’at (2/6) berdasarkan penghitungan Posko Satlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsi Pemprov DIY, tercatat korban tewas di seluruh DIY sebanyak 4.039 orang. Di Kabupaten Bantul korban tewas sebanyak 3.561 orang, Kabupaten Sleman 215 orang, Kota Yogyakarta 163, Kabupaten Kulonprogo 21, dan Kabupaten Gunungkidul 79 orang. Sedangkan korban luka berat dan ringan di seluruh DIY sebanyak 15.181 orang.
Sementara Posko Satlak Penanggulangan Bencana Pemkab Klaten menyebutkan jumlah korban meninggal akibat gempa di Kabupaten Klaten sebanyak 983 orang, sedangkan korban luka mencapai 18.286 orang. Sedangkan kerusakan rumah sebanyak 40.904 unit. Di Kabupaten Boyolali dilaporkan jumlah keseluruhan rumah rusak tercatat sebanyak 1.711 unit, terdiri rusak berat 696 unit, roboh 307 unit dan rusak ringan 708 unit.
Di tengah repotnya warga korban gempa mulai berbenah membersihkan puing-puing dan sisa reruntuhan rumahnya yang porak-poranda, sebagian besar penerangan listrik di lokasi-lokasi korban gempa belum menyala, lagi-lagi muncul isu/rumor penjarahan dan pencurian. Informasi yang menyebar dan terlanjur masuk ke telinga para korban gempa ini menggugah sikap resisten para warga korban gempa.
Dari amatan ke beberapa lokasi, khususnya di beberapa dusun di wilayah Kecamatan Pleret, Imogiri, Jetis, Sewon, Kasihan, bahkan di Kota Yogyakarta di pintu-pintu masuk jalan utama/gang perkampungan dijaga ketat, jalan-jalan kampung yang diperkirakan menjadi jalur pintas “tamu tak diundang” segera ditutup menjelang petang.
Setiap malam, banyak masyarakat yang berusia remaja dan dewasa berjaga-jaga untuk mengamankan kampung masing-masing, lengkap dengan senjata tradisionalnya. “Setiap malam kami sekarang melakukan pengamanan. Kampung-kampung lain juga begitu,” jelas Muchyidin di Desa Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul.
Penjagaan dilakukan bersamaan sejak munculnya desas-desus akan terjadi gempa lebih dahsyat. “Biasanya muncul segerombolan penjarah. Ini sudah diakui oleh banyak desa,” tambahnya. Dikatakan pula, modus yang digunakan para penjarah itu, menurut banyak pihak, ada berbagai macam. Ada yang menggunakan mobil boks dengan spanduk bertuliskan “relawan.” Ada pula yang berlagak sebagai tim survei dari calon penyumbang.
Menanggapi kondisi tersebut, Kapolres Bantul, AKBP Drs Dedy Munazat Msi menegaskan, isu penjarahan dan pencurian tidak benar, berita itu dihembuskan oleh orang-orang tak bertanggung jawab, saya minta masyarakat tetap tenang. Sementara warga Pandansimo, Srandakan, Busam, menuturkan penjarahan pernah terjadi saat warga meninggalkan rumah karena panik ketika beredar isu/rumor tsunami beberapa saat setelah terjadi gempa (27/5) lalu. Sebanyak 3 sepeda motor saat itu hilang dicuri.
Di Klaten, Kapolwil Surakarta Kombes Pol Drs Yotje Mende mengungkapkan, selama ini pihaknya sudah dua kali menerima laporan adanya aksi pencurian dan penjarahan di lokasi bencana gempa. Dua laporan pencurian berasal dari Kragilan, Gantiwarno dan Wedi. “Data mengenai adanya pencurian dan penjarahan di lokasi bencana masih simpang siur. Selama ini kami dua kali menerima laporan dan langsung melakukan cek ke lapangan, ternyata tidak ada,” jelasnya.
Selanjutnya guna meningkatkan pengamanan saat ini dilakukan penjagaan di setiap tenda pengungsi oleh Satlak dan Satkorlak, selain permintaan Kapolwil agar masyarakat menggiatkan kembali Siskamling. Yotje Mende mengimbau masyarakat tetap waspada karena disinyalir ada pihak tertentu sengaja mengambil kesempatan dalam situasi ini.
Pangdam IV Diponegoro, Mayjen TNI Sunarso juga menegaskan, sampai saat ini tidak ada penjarahan terhadap harta benda milik korban gempa di DIY maupun Jateng, melainkan hanya pencegatan distribusi bantuan di jalan yang dilakukan sekelompok orang yang memang butuh bantuan terutama bahan makanan. Berkait dengan pengamanan pascagempa, Pangdam meminta agar TNI/Polri di wilayahnya terus melakukan patroli secara rutin.
Hingga hari keenam dan ketujuh pasca gempa, mengenai bantuan pangan dan obat-obatan serta layanan kesehatan sudah hampir merata menjangkau seluruh wilayah korban gempa. Di titik-titik strategis telah didirikan rumah sakit lapangan atau pos-pos layanan kesehatan bantuan luar negeri, seperti tim medis dari Jepang telah mengambil lokasi kecamatan Prambanan dan Berbah.
Tim ini beranggotakan 120 orang (dokter dan paramedis) yang dipimpin Hoyabuchi dibagi dalam tiga yaitu 1 tim stasioner di Daleman, Sumberharjo, Prambanan, 1 tim keliling melakukan penyisiran di kecamatan Prambanan, dan 1 tim lagi melakukan penyisiran terhadap korban gempa di wilayah kecamatan Berbah.
Demikian halnya tim Red Crenzet of Iran (Palang Merah Iran) telah membuka klinik kesehatan di SD Kanisius Ganjuran, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul terdiri 40 personal untuk membantu pemulihan pascagempa berkait masalah kesehatan dan logistik.
Di lapangan Pleret, tim medis dari Korea Selatan, Turki secara serius menangani setiap penderitaan korban gempa, mereka membantu kesehatan dan bantuan pangan. Tim medis Perancis, Medecins Sans Frontieres (MSF), sejak Senin (5/6) membangun tenda-tenda perawatan di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta. Tenda-tenda diperuntukkan pasien korban gempa rujukan berbagai rumah sakit yang butuh perawatan lanjutan dan dialihkan karena daya tampung rumah sakit terbatas.
Koordinator MSF, Fabrice Resorges mengatakan, timnya juga menyusuri wilayah Bantul untuk melihat kondisi korban gempa yang membutuhkan perawatan lanjutan. Demikian halnya tim-tim medis yang berasal dari mancanegara terus berdatangan, masing-masing secara proaktif mencari titik-titik strategis dan membangun rumah sakit lapangan khusus bagi para korban gempa yang belum terjangkau layanan kesehatan secara layak.
Dari hasil amatan di lapangan, persoalan yang sekarang dihadapi bersamaan musim kemarau sudah tiba, sementara para korban yang masih tidur di tenda-tenda pengungsian perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh. Hawa di malam hari yang begitu dingin menusuk mulai dirasakan, kebutuhan selimut atau pakaian tebal dan makanan bergizi serta pemantauan terhadap kondisi kesehatannya menjadikan hal mendesak untuk dipenuhi, terutama bagi mereka yang tergolong lanjut usia (lansia) dan anak-anak di bawah umur lima tahun (balita).
Di samping telah dilakukan penanganan berupa bantuan fisik, ternyata dampak psikologis pascagempa menjadi hal yang juga tak dapat disepelekan. Dampak-dampak psikologis seperti trauma, panik serta beban mental lainnya layak mendapat perhatian karena pemulihan ini justru lebih mempunyai pengaruh positif berjangka panjang.
Sampai dengan Senin (5/6), berdasar sumber Media Center di DIY, jumlah korban gempa di seluruh wilayah DIY dan sebagian Jateng tercatat korban meninggal sebanyak 5.857 orang, luka-luka 37.229 orang. Rumah rusak rata tanah mencapai 84.643 unit, rusak berat 135.048, dan rusak ringan 188.234 unit.
13696171291270577938
bangunan rusak akibat gempa 2006 (sumber: ciptakarya.pu.go.id)
Jumlah tersebut dapat dirinci: di Kabupaten Bantul meninggal 4.280 orang, luka-luka 12.023 orang, rumah rata tanah 28.939 unit, rusak berat 40.038 unit, rusak ringan 30.906 unit. Di Kabupaten Sleman meninggal 235 orang, luka-luka 3.792 orang, rumah rata tanah 5.243 unit, rusak berat 16.003 unit, rusak ringan 33.233 unit.
Di Kota Yogyakarta meninggal 185 orang, luka-luka 320 orang, rumah rata tanah 2.164 unit, rusak berat 4.577 unit, rusak ringan 2.617 unit. Di Kabupaten Kulonprogo meninggal 21 orang, luka-luka 1.508 orang, rumah rata tanah 3.872 unit, rusak berat 5.251 unit, rusak ringan 8.888 unit. Di Kabupaten Gunungkidul meninggal 84 orang, luka-luka 1.059 orang, rumah rata tanah 13.543 unit, rusak berat 4.718 unit, rusak ringan 16.742 unit.
Di Kabupaten Klaten meninggal 1.036 orang, luka-luka 18.128 orang, rumah rata tanah 30.298 unit, rusak berat 61.224 unit, rusak ringan 93.628 unit. Di Kabupaten Magelang meninggal 10 orang, luka-luka 24 orang, rumah rata tanah 199 unit, rusak berat 507 unit, rusak ringan 658 unit.
Di Kabupaten Boyolali meninggal 4 orang, luka-luka 300 orang, rumah rata tanah 307 unit, rusak berat 696 unit, rusak ringan 708 unit. Di Kabupaten Sukoharjo meninggal 1 orang, luka-luka 67 orang, rumah rata tanah 51 unit, rusak berat 1.808 unit, tidak ada/tidak tercatat rumah rusak ringan.
Di Kabupaten Wonogiri meninggal tidak ada/tidak tercatat, luka-luka 4 orang, rumah rata tanah 17 unit, rusak berat 12 unit, rumah rusak ringan 74 unit. Di Kabupaten Purworejo meninggal 1 orang, luka-luka 4 orang, rumah rata tanah 10 unit, rusak berat 214 unit, rumah rusak ringan 780 unit.
Sementara menurut Menneg PPN/Kepala Bappenas, Paskah Suzetta, jumlah kerugian akibat gempa di DIY dan Jateng mencapai Rp 29,2 trilyun. Angka tersebut merupakan hasil kajian antara Bappenas dengan Koordinator Negara-negara Donor, yaitu Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB).
Memasuki masa rehabilitasi dan rekonstruksi, persoalan data dan siapa yang layak memperoleh bantuan dana untuk membangun kembali rumahnya perlu mendapat perhatian seksama. Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X berharap masa tanggap darurat di DIY selesai Juni 2006.
Menurutnya, bantuan biaya hidup (living cost) berupa uang lauk-pauk Rp 3.000/orang perhari, beras 10 kg/orang perbulan, uang pakaian Rp 100.000/orang sekali diberikan dan uang peralatan masak Rp 100.000/keluarga juga sekali diberikan, semuanya ini difasilitasi Bakornas Penanggulangan Bencana selaku wakil pemerintah dan selanjutnya mem-back up Satkorlak (provinsi) dan Satlak (kabupaten/kota).
Berkait bantuan dana rehabilitasi dan rekonstruksi rumah korban, Wapres Jusuf Kalla memberikan waktu seminggu lagi (terhitung sejak tanggal 5 Juni 2006) untuk melakukan verifikasi ke lapangan, hal ini mengingat masih ditemui perbedaan data jumlah calon penerima dana bantuan. Dalam keputusan final yang telah diperhitungkan pemerintah pusat disebutkan bahwa bantuan rumah roboh ditetapkan Rp 30 juta/unit, rusak berat dibantu Rp 20 juta/unit, dan rusak sedang/ringan menerima Rp 10 juta/unit (namun dalam realisasinya, setelah dilakukan evaluasi lebih lanjut, rusak berat mendapat bantuan Rp 15 juta, rusak sedang Rp 4 juta, dan rusak ringan Rp 1 juta).
Bantuan hanya diberikan kepada rumah-rumah warga yang berpenghasilan rendah yang telah ditetapkan melalui kerjasama pemerintah daerah, perguruan tinggi dan forum masyarakat. Informasi mengenai bantuan biaya hidup dan bantuan untuk rumah dari sumber resmi ini mestinya perlu disosialisasikan secara luas dan benar oleh instansi atau lembaga berwenang, terutama disampaikan kepada mereka yang berhak sebagai calon penerima bantuan agar hidup layak dan membangun kembali rumahnya akibat gempa tektonik yang telah mengguncang wilayah Provinsi DIY dan sebagian wilayah Provinsi Jateng.
Mencari model-model maupun bentuk komunikasi yang efektif, selanjutnya dapat ditepis kemungkinan munculnya distorsi informasi yang seringkali berakibat atau menimbulkan persoalan baru lebih rumit. (bahan tulisan: on the spot ke lokasi gempa 2006,  dilengkapi berbagai sumber).
Tulisan ini bisa juga dibaca di blog pribadi penulis http://jok-website.blogspot.com/ posted by joko martono | 
sumber : 

http://sosbud.kompasiana.com/2013/05/27/mengenang-gempa-tektonik-2006-di-yogyakarta-dan-sekitarnya-3-habis-559552.html 

Thursday, May 21, 2015

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG


Pada tanggal 21 April, dua orang cewek sedang terlihat asyik memperbincangkan ibu Kartini.

Cewek I : Seandainya jaman dulu udah ada FB atau Twitter, pasti ibu Kartini banyak Followernya atau subscribernya ….

Cewek II : Kenapa begitu?

Cewek I: Ibu Kartini kan sering GALAU memikirkan nasib Wanita di jamannya, sehingga dia menuliskan kegalauannya kepada teman-temannya yang pada gilirannya surat-surat tsb dibukukan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”

Cewek II: Bukan seperti itu sejarahnya terbitnya buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”

Cewek I: Trus seperti apa dong?

Cewek II: Jadi jaman dulu, para wanita memakai sanggul itu di depan wajahnya. Nah ibu Kartinilah wanita pertama yang menemukan pemakaian sanggul di belakang kepala. Lalu dia menuliskannya ke sebuah buku yang dia beri judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, dan sejak saat itu para wanita mulai mengerti bahwa memakai sanggul dibelakang kepala, membuat dunia lebih terang drpd memakainya di muka kepala ..

Cewek I : Kalah Gemblung gw sama elu …#$#@#$!!

TNI Menang Mutlak di Kejuaraan Menembak Australia


KOMPAS.com — Di tengah peringatan ke-107 Hari Kebangkitan Nasional Indonesia tahun 2015, para prajurit TNI hampir dipastikan meraih kemenangan mutlak dalam Lomba Menembak Tahunan di Australia.

Tim TNI telah mengumpulkan 28 medali emas, sedangkan tim Amerika Serikat bahkan belum meraih medali apa pun.
Kejuaraan tahunan yang diselenggarakan oleh Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) ini berlangsung pada 20-23 Mei 2015 di Puckapunyal, negara bagian Victoria.
Ada 17 tim dari 14 negara berlaga dalam kejuaraan yang mempertandingkan keterampilan menembak ini.
Selain 28 medali emas, tim TNI juga merebut 16 medali perak dan 10 medali perunggu, mengalahkan tuan rumah Australia di posisi kedua dengan 4 medali emas, 7 medali perak, dan 5 medali perunggu.
Ketangguhan para penembak TNI bahkan tidak dapat disaingi oleh tim penembak asal Inggris yang baru meraih 3 medali emas, 5 medali perak dan 3 medali perunggu, apalagi tim penembak Amerika Serikat yang belum meraih medali apa pun.
Diperkirakan perolehan medali akan tim penembak TNI terus bertambah hingga pertandingan berakhir pada 23 Mei 2015.
Dalam rilis yang dikirim oleh KBRI, Duta Besar Nadjib Riphat Kesoema memuji prestasi yang diraih regu tembak Indonesia.
"Prestasi yang membanggakan ini menunjukkan betapa tangguhnya anggota TNI dan persenjataan buatan Indonesia di medan laga," ujar Dubes Nadjib.
Atase Militer KBRI Canberra, Taufan Gestoro, yang mendampingi tim Indonesia selama perlombaan menambahkan, "Di bawah tekanan dan kompetisi internasional yang ketat, para peserta dari TNI bertanding dengan semangat luar biasa dan menyelesaikan tiap kompetisi dengan profesionalisme dan skill yang tinggi."
Total 21 orang penembak dari Indonesia terdiri dari pejabat dan petembak profesional dari lingkungan TNI AD serta teknisi dari PT Pindad.
Selama perlombaan, tim Indonesia menggunakan empat jenis senjata, yaitu senapan buatan dalam negeri SS-2 V-4 Heavy Barrel dan pistol G-2 (Elite & Combat) dari PT Pindad, senapan SO-Minimi buatan Belgia, senapan GPMG (General Purpose Machine Gun) buatan Belgia, dan senjata sniper AW buatan Inggris.
Selain perlombaan kategori beregu, juga diadakan perlombaan kategori perorangan. Untuk kategori perorangan, diraih oleh:
1. Letda Inf Safrin Sihombing (Kopassus)
2. Serda Misran (Kostrad)
3. Serda Suwandi (Kostrad)
4. Serda Woli Hamsan (Kostrad)

sumber :

http://internasional.kompas.com/read/2015/05/21/11485921/TNI.Menang.Mutlak.di.Kejuaraan.Menembak.Australia        

Ternate dan Tidore pusat Rempah Dunia.

Pulau-pulau di gugusan Maluku bagian utara adalah sumber cengkeh dunia yang melegenda. Pedagang India, Arab, Cina dan Jawa sering berkunjung ke Ternate, Tidore, dan Banda yang menjadi sumber rempah-rempah dunia. Mereka pulang membawa komoditi berharga itu ke negara asal untuk dijual dengan harga tinggi. Cengkeh, bersama-sama dengan pala dan fuli itu begitu berharga sebanding dengan emas kerena digunakan sebagai bumbu makanan dan untuk mengawetkan makanan atau sebagai bahan obat-obatan.

Setelah Perang Salib, rute perdagangan ke Timur ditutup Kesultanan Otoman bagi pedagang Eropa sehingga Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda bertekad untuk menemukan sendiri kepulauan yang menjadi sumber rempah-rempah itu.


Vasco da Gama adalah orang pertama yang berlayar ke Tanjung Harapan di Afrika untuk mencapai India. Kemudian, dari India, Portugis akhirnya menemukan rute ke Maluku pada tahun 1521, dan tiba di kepulauan rempah-rempah dimaksud, yaitu: Ternate, Tidore, dan Banda. Untuk sampai di sana, pelaut Portugis berlayar sejauh 14.000 kilometer - hampir 9.000 mil - menyebrangi laut yang belum terpetakan, menghadapi badai, ombak tinggi dan angin muson tropis.


Saat kedatangan pedagang Eropa itu, sudah ada kesultanan yang berkembang di Ternate dan Tidore sehingga persaingan perdangan dan upaya monopoli pun terjadi. Pedagang Spanyol, Belanda dan Inggris pun tergiur membentuk armada perang untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah hingga akhirnya dimenangkan oleh Belanda.

Menjelang akhir abad ke-16, Gubernur Jendral Belanda Jan Pieterszoon Coen menanam cengkeh di Ambon dan menghancurkan semua tanaman cengkeh di Ternate dan Tidore secara brutal. Tindakan ini dikenal sebagai ekspedisi hongi dan langsung dilawan oleh Kesultanan Ternate dan Tidore. Berikutnya perlawanan Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore melawan kolonialis pun tercatat dalam banyak halaman sejarah.


Ternate dan Tidore adalah dua pulau kecil yang hampir sama besarnya. Berlokasi di sebelah barat pulau utama, yaitu Halmahera. Kedua pulau ini saling berhadapan satu sama lain dan dipancang oleh gunung api yang muncul dari Laut Maluku yang dalam.

Pulau Ternate sendiri memiliki luas sekira 1.118 km persegi dan sejatinya adalah bagian dari tubuh Gunung Gamalama yang kakinya terbenam di bawah laut. Ketinggian Gunung Gamalama bila diukur dari permukaan laut hanya 1.715 meter namun jika diukur dari dasar laut mencapai 3.000 meter. Kota Ternate menjadi rumah bagi dua pertiga dari penduduk pulau yang mayoritas Muslim. Di sini, Anda dapat mengunjungi banyak peninggalan sejarah dan menyaksikan tradisi budaya lokal yang luar biasa. Kota ini juga merupakan pusat perdagangan pulau dengan fasilitas pendukung bisnis, jaringan transportasi, dan pariwisata.


Gunung api di pulau Ternate memberikan tanah subur dan pantai dengan pasir hitam yang berkilauan. Anda akan melihat seluruh pulau dihiasi oleh perahu berwarna-warni dalam berbagai ukuran berbaring di air dangkal berbatu virus dan terlindung oleh pohon kelapa yang menari-nari terkibas angin sejuk.


Apabila Ternate adalah kota pulau yang diperlengkapi dengan denyut aktivitas pemerintahan dan niaga maka berbeda pada kota pulau kembarannya, Tidore. Pulau ini lebih besar dari Ternate namun kontras karena masih terbilang sepi tetapi begitu tentram. Di sini akan Anda temui banyak masjid di sepanjang jalannya. Hampir selang beberapa ratus meter bahkan puluhan meter akan didapati masjid atau musala. Mayarakat Tidore terkenal kuat menjalankan ajaran Islam dan ramah pada pengunjung.


Meskipun hanya memiliki luas 15 km2, Pulau Ternate memiliki sejumlah pemandangan dan pengalaman yang patut untuk dijelajah.
Mendaki puncak gunung berapi. Untuk setiap pengunjung yang datang ke pulau Ternate, mengunjungi Gunung Gamalama adalah keharusan. Wisata ke gunung tersedia dan menawarkan cara yang aman untuk menjelajah gunung berapi. Seorang pemandu lokal akan mengantar Anda melalui perjalanan selama 5 jam ke puncak gunung, 1.271 meter di atas permukaan laut.


Pelajari tentang kehidupan bangsawan Ternate dengan mengunjungi Istana Kedaton atau Sultan. Dibangun pada tahun 1796, sebagaian masih berfungsi sebagai rumah tinggal. Ada bagian bangunan khusus Kedaton yang berfungsi sebagai museum, di mana adik Sultan menyediakan informasi tentang Ternate dan tempat-tempat terkait dalam bahasa Inggris yang sangat baik bagi para pengunjung. Jika Anda telah berencana dan memperoleh izin dari Sultan, Anda dapat melihat mahkota Sultan yang hanya dikenakan pada penobatan. Legenda mengatakan bahwa mahkota memiliki 'rambut tumbuh', yang harus dipangkas sacara teratur. Orang-orang percaya dengan memamerkan mahkota di sekitar pulau dapat mencegah bencana, dan telah mencegah Gunung Gamalama meletus di masa lalu.


Masjid Sultan juga merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi. Sempatkan diri Anda untuk mengagumi interior kayu di tempat ini.
Hiburan lainnya di Ternate termasuk Benteng Oranye yang pernah menjadi kantor Hindia Belanda (VOC) dan juga sebagai tempat tinggal bagi gubernur Belanda di Ternate.


Berjalan di sekitar benteng Tolukko kuno. Dibangun tahun 1512 oleh Portugis, benteng yang pertama kali dibangun di Ternate. Benteng Kayu Merah juga layak untuk dikunjungi karena pemandangannya yang menakjubkan.


Kunjungi Danau Tolire Besar yang menakjubkan, sebuah danau kawah yang spektakuler di Utara pulau. Menikmati pemandangan dramatis, terutama danau megah yang dikelilingi oleh hutan lebat.

http://www.kaskus.co.id/thread/549040bf529a455f448b456d/ternate-dan-tidore-pusat-rempah-dunia/

Indonesia Jadi Opsi Tuan Rumah MotoGP 2017

JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia menjadi salah satu negara opsi tuan rumah MotoGP 2017. Sirkuit Internasional Sentul, Bogor, diproyeksikan sebagai tempat penyelenggaraan.

Peluang terbuka setelah CEO Dorna SL, Carmelo Ezpelata, datang ke Jakarta untuk menanyakan ketertarikan Indonesia menjadi tuan rumah. Ia disambut oleh Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya dan Direktur Sirkuit Sentul Tinton Soeprapto.

"Pengembangan MotoGP di Indonesia sangat penting. Bukan cuma untuk pebalap, melainkan juga pabrikan motor," kata Ezpelata di Gedung Sapta Pesona, Rabu (20/5/2015).

"Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan Indonesia. Kami berharap, pemerintah bisa segera menindaklanjuti hal ini. Namun, kami sudah berjanji untuk bekerja keras sehingga hal ini terealisasi," tambah pria berkebangsaan Spanyol tersebut.

Sementara itu, Menpar menangkap adanya potensi keuntungan sangat besar dari penyelenggaraan MotoGP di Tanah Air. "Menurut perhitungan sementara, dalam empat hari berlangsungnya MotoGP, akan ada pengeluaran sekitar 91,73 juta dollar AS atau setara Rp 1,4 triliun," ujarnya.

Oleh karena itu, Menpar meminta adanya kerja sama lintas kementerian guna menyiapkan diri. Selanjutnya, dalam kurun waktu tiga bulan, pemerintah diharapkan sudah menandatangani MoU dengan Dorna, seraya menantikan perombakan Sirkuit Sentul.

Tinton pun antusias dengan wacana ini. Ia berjanji, dalam kurun waktu sebulan, pihaknya bakal merancang program-program agar Sirkuit Sentul memenuhi syarat. "Jika Sentul sudah menjadi grade A, semua kejuaraan internasional bisa digelar di sini," katanya.

Pada 1996 dan 1997, Sirkuit Sentul sudah pernah jadi tuan rumah Grand Prix. Mick Doohan (Australia) dan Tadayuki Okada (Jepang) jadi juara saat itu untuk kelas 500 cc.

Pemimpin klasemen sementara MotoGP 2015, Valentino Rossi, juga pernah merasakan balapan di Sentul. Dia memulai karier balap pada 1996 di kelas 125 cc, dan finis pada posisi ke-11 di Sentul. Tahun berikutnya, dia finis pada posisi pertama.

 sumber :

http://www.kaskus.co.id/thread/555d0dec5a516365658b456a/?ref=homelanding&med=hot_thread  

Tuesday, May 19, 2015

Indonesia tidak pernah dijajah selama 350 tahun oleh Belanda


Oleh Nina Herlina L.

"Wij sluiten nu.Vaarwel, tot betere tijden. Leve de Koningin!" (Kami akhiri sekarang. Selamat berpisah sampai waktu yang lebih baik. Hidup Sang Ratu!). Demikian NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij/Maskapai Radio Siaran Hindia Belanda) mengakhiri siarannya pada tanggal 8 Maret 1942.

Enam puluh enam tahun yang lalu, tepatnya 8 Maret 1942, penjajahan Belanda di Indonesia berakhir sudah. Rupanya "waktu yang lebih baik" dalam siaran terakhir NIROM itu tidak pernah ada karena sejak 8 Maret 1942
Indonesia diduduki Pemerintahan Militer Jepang hingga tahun 1945. Indonesia menjadi negara merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

Masyarakat awam selalu mengatakan bahwa kita dijajah Belanda selama 350 tahun. Benarkah demikian? Untuk ke sekian kalinya, harus ditegaskan bahwa "Tidak benar kita dijajah Belanda selama 350 tahun". Masyarakat memang tidak bisa disalahkan karena anggapan itu sudah tertulis dalam buku-buku pelajaran sejarah sejak
Indonesia merdeka! Tidak bisa disalahkan juga ketika Bung Karno mengatakan, "Indonesia dijajah selama 350 tahun!" Sebab, ucapan ini hanya untuk membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme rakyat Indonesia saat perang kemerdekaan (1946-1949) menghadapi Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia.

Bung Karno menyatakan hal ini agaknya juga untuk meng-counter ucapan para penguasa Hindia Belanda. De Jong, misalnya, dengan arogan berkata, "Belanda sudah berkuasa 300 tahun dan masih akan berkuasa 300 tahun lagi!" Lalu Colijn yang dengan pongah berkoar, "Belanda tak akan tergoyahkan karena Belanda ini sekuat (Gunung) Mount Blanc di Alpen."

Tulisan ini akan menjelaskan bahwa anggapan yang sudah menjadi mitos itu, tidak benar. Mari kita lihat sejak kapan kita (
Indonesia) dijajah dan kapan pula penjajahan itu berakhir.

Kedatangan penjajah

Pada 1511, Portugis berhasil menguasai Malaka, sebuah emporium yang menghubungkan perdagangan dari
India dan Cina. Dengan menguasai Malaka, Portugis berhasil mengendalikan perdagangan rempah-rempah seperti lada, cengkeh, pala, dan fuli dari Sumatra dan Maluku. Pada 1512, D`Albuquerque mengirim sebuah armada ke tempat asal rempah-rempah di Maluku. Dalam perjalanan itu mereka singgah di Banten, Sundakalapa, dan Cirebon. Dengan menggunakan nakhoda-nakhoda Jawa, armada itu tiba di Kepulauan Banda, terus menuju Maluku Utara, akhirnya tiba juga di Ternate.

Di Ternate, Portugis mendapat izin untuk membangun sebuah benteng. Portugis memantapkan kedudukannya di Maluku dan sempat meluaskan pendudukannya ke
Timor. Dengan semboyan "gospel, glory, and gold" mereka juga sempat menyebarkan agama Katolik, terutama di Maluku. Waktu itu, Nusantara hanyalah merupakan salah satu mata rantai saja dalam dunia perdagangan milik Portugis yang menguasai separuh dunia ini (separuh lagi milik Spanyol) sejak dunia ini dibagi dua dalam Perjanjian Tordesillas tahun 1493. Portugis menguasai wilayah yang bukan Kristen dari 100 mil di sebelah barat Semenanjung Verde, terus ke timur melalui Goa di India, hingga kepulauan rempah-rempah Maluku. Sisanya (kecuali Eropa) dikuasai Spanyol.

Sejak dasawarsa terakhir abad ke-16, para pelaut Belanda berhasil menemukan jalan dagang ke
Asia yang dirahasiakan Portugis sejak awal abad ke-16. Pada 1595, sebuah perusahaan dagang Belanda yang bernama Compagnie van Verre membiayai sebuah ekspedisi dagang ke Nusantara. Ekpedisi yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman ini membawa empat buah kapal. Setelah menempuh perjalanan selama empat belas bulan, pada 22 Juni 1596, mereka berhasil mendarat di Pelabuhan Banten. Inilah titik awal kedatangan Belanda di Nusantara.

Kunjungan pertama tidak berhasil karena sikap arogan Cornelis de Houtman. Pada 1 Mei 1598, Perseroan Amsterdam mengirim kembali rombongan perdagangannya ke Nusantara di bawah pimpinan Jacob van Neck, van Heemskerck, dan van Waerwijck. Dengan belajar dari kesalahan Cornelis de Houtman, mereka berhasil mengambil simpati penguasa Banten sehingga para pedagang Belanda ini diperbolehkan berdagang di Pelabuhan Banten. Ketiga kapal kembali ke negerinya dengan muatan penuh. Sementara itu, kapal lainnya meneruskan perjalanannya sampai ke Maluku untuk mencari cengkih dan pala.

Dengan semakin ramainya perdagangan di perairan Nusantara, persaingan dan konflik pun meningkat. Baik di antara sesama pedagang Belanda maupun dengan pedagang asing lainnya seperti Portugis dan Inggris. Untuk mengatasi persaingan yang tidak sehat ini, pada 1602 di Amsterdam dibentuklah suatu wadah yang merupakan perserikatan dari berbagai perusahaan dagang yang tersebar di enam kota di Belanda. Wadah itu diberi nama Verenigde Oost-Indische Compagnie (Serikat Perusahaan Hindia Timur) disingkat VOC.

Pemerintah Kerajaan Belanda (dalam hal ini Staaten General), memberi "izin dagang" (octrooi) pada VOC. VOC boleh menjalankan perang dan diplomasi di Asia, bahkan merebut wilayah-wilayah yang dianggap strategis bagi perdagangannya. VOC juga boleh memiliki angkatan perang sendiri dan mata uang sendiri. Dikatakan juga bahwa octrooi itu selalu bisa diperpanjang setiap 21 tahun. Sejak itu hanya armada-armada dagang VOC yang boleh berdagang di
Asia (monopoli perdagangan).

Dengan kekuasaan yang besar ini, VOC akhirnya menjadi "negara dalam negara" dan dengan itu pula mulai dari masa Jan Pieterszoon Coen (1619-1623, 1627-1629) sampai masa Cornelis Speelman (1681-1684) menjadi Gubernur Jenderal VOC, kota-kota dagang di Nusantara yang menjadi pusat perdagangan rempah-rempah berhasil dikuasai VOC. Batavia (sekarang Jakarta) menjadi pusat kedudukan VOC sejak 1619, Ambon dikuasai tahun 1630. Beberapa
kota pelabuhan di Pulau Jawa baru diserahkan Mataram kepada VOC antara tahun 1677-1705. Sementara di daerah pedalaman, raja-raja dan para bupati masih tetap berkuasa penuh. Peranan mereka hanya sebatas menjadi "tusschen personen" (perantara) penguasa VOC dan rakyat.

"Power tends to Corrupt." Demikian kata Lord Acton, sejarawan Inggris terkemuka. VOC memiliki kekuasaan yang besar dan lama, VOC pun mengalami apa yang dikatakan Lord Acton. Pada 1799, secara resmi VOC dibubarkan akibat korupsi yang parah mulai dari "cacing cau" hingga Gubernur Jenderalnya. Pemerintah Belanda lalu menyita semua aset VOC untuk membayar utang-utangnya, termasuk wilayah-wilayah yang dikuasainya di
Indonesia, seperti kota-kota pelabuhan penting dan pantai utara Pulau Jawa.

Selama satu abad kemudian, Hindia Belanda berusaha melakukan konsolidasi kekuasaannya mulai dari Sabang-Merauke. Namun, tentu saja tidak mudah. Berbagai perang melawan kolonialisme muncul seperti Perang Padri (1821-1837), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Aceh (1873-1907), Perang di Jambi (1833-1907), Perang di Lampung (1834-1856), Perang di Lombok (1843-1894), Perang Puputan di Bali (1846-1908), Perang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (1852-1908), Perlawanan di Sumatra Utara (1872-1904), Perang di Tanah Batak (1878-1907), dan Perang Aceh (1873-1912).

Peperangan di seluruh Nusantara itu baru berakhir dengan berakhirnya Perang Aceh. Jadi baru setelah tahun 1912, Belanda benar-benar menjajah seluruh wilayah yang kemudian menjadi wilayah Republik
Indonesia (kecuali Timor Timur). Jangan lupa pula bahwa antara 1811-1816, Pemerintah Hindia Belanda sempat diselingi oleh pemerintahan interregnum (pengantara) Inggris di bawah Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles.

Saat-saat akhir

Pada 7 Desember 1941, Angkatan Udara Jepang di bawah pimpinan Laksamana Nagano melancarkan serangan mendadak ke pangkalan angkatan laut AS di
Pearl Harbour, Hawaii. Akibat serangan itu kekuatan angkatan laut AS di Timur Jauh lumpuh. AS pun menyatakan perang terhadap Jepang. Demikian pula Belanda sebagai salah satu sekutu AS menyatakan perang terhadap Jepang.

Pada 18 Desember 1941, pukul 06.30, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer melalui radio menyatakan perang terhadap Jepang. Pernyataan perang tersebut kemudian direspons oleh Jepang dengan menyatakan perang juga terhadap Pemerintah Hindia Belanda pada 1 Januari 1942. Setelah armada Sekutu dapat dihancurkan dalam pertempuran di Laut Jawa maka dengan mudah pasukan Jepang mendarat di beberapa tempat di pantai utara Pulau Jawa.

Pemerintah Kolonial Hindia Belanda memusatkan pertahanannya di sekitar pegunungan
Bandung. Pada waktu itu kekuatan militer Hindia Belanda di Jawa berjumlah empat Divisi atau sekitar 40.000 prajurit termasuk pasukan Inggris, AS, dan Australia. Pasukan itu di bawah komando pasukan sekutu yang markas besarnya di Lembang dan Panglimanya ialah Letjen H. Ter Poorten dari Tentara Hindia Belanda (KNIL). Selanjutnya kedudukan Pemerintah Kolonial Belanda dipindahkan dari Batavia (Jakarta) ke Kota Bandung.

Pasukan Jepang yang mendarat di Eretan Wetan adalah Detasemen Syoji. Pada saat itu satu detasemen pimpinannya berkekuatan 5.000 prajurit yang khusus ditugasi untuk merebut Kota Bandung. Satu batalion bergerak ke arah selatan melalui Anjatan, satu batalion ke arah barat melalui Pamanukan, dan sebagian pasukan melalui Sungai Cipunagara. Batalion Wakamatsu dapat merebut lapangan terbang Kalijati tanpa perlawanan berarti dari Angkatan Udara Inggris yang menjaga lapangan terbang itu.

Pada 5 Maret 1942, seluruh detasemen tentara Jepang yang ada di Kalijati disiapkan untuk menggempur pertahanan Belanda di Ciater dan selanjutnya menyerbu
Bandung. Akibat serbuan itu tentara Belanda dari Ciater mundur ke Lembang yang dijadikan benteng terakhir pertahanan Belanda.

Pada 6 Maret 1942, Panglima Angkatan Darat Belanda Letnan Jenderal Ter Poorten memerintahkan Komandan Pertahanan Bandung Mayor Jenderal J. J. Pesman agar tidak mengadakan pertempuran di Bandung dan menyarankan mengadakan perundingan mengenai penyerahan pasukan yang berada di garis Utara-Selatan yang melalui Purwakarta dan Sumedang. Menurut Jenderal Ter Poorten,
Bandung pada saat itu padat oleh penduduk sipil, wanita, dan anak-anak, dan apabila terjadi pertempuran maka banyak dari mereka yang akan jadi korban.

Pada 7 Maret 1942 sore hari, Lembang jatuh ke tangan tentara Jepang. Mayjen J. J. Pesman mengirim utusan ke Lembang untuk merundingkan masalah itu. Kolonel Syoji menjawab bahwa untuk perundingan itu harus dilakukan di Gedung Isola (sekarang gedung Rektorat UPI Bandung). Sementara itu, Jenderal Imamura yang telah dihubungi Kolonel Syoji segera memerintahkan kepada bawahannya agar mengadakan kontak dengan Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer untuk mengadakan perundingan di Subang pada 8 Maret 1942 pagi. Akan tetapi, Letnan Jenderal Ter Poorten meminta Gubernur Jenderal agar usul itu ditolak.

Jenderal Imamura mengeluarkan peringatan bahwa "Bila pada 8 Maret 1942 pukul 10.00 pagi para pembesar Belanda belum juga berangkat ke Kalijati maka Bandung akan dibom sampai hancur." Sebagai bukti bahwa ancaman itu bukan sekadar gertakan, di atas Kota Bandung tampak pesawat-pesawat pembom Jepang dalam jumlah besar siap untuk melaksanakan tugasnya.

Melihat kenyataan itu, Letnan Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda beserta para pembesar tentara Belanda lainnya berangkat ke Kalijati sesuai dengan tanggal dan waktu yang telah ditentukan. Pada mulanya Jenderal Ter Poorten hanya bersedia menyampaikan kapitulasi
Bandung. Namun, karena Jenderal Imamura menolak usulan itu dan akan melaksanakan ultimatumnya. Akhirnya, Letnan Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda menyerahkan seluruh wilayah Hindia Belanda kepada Jepang tanpa syarat. Keesokan harinya, 9 Maret 1942 pukul 08.00 dalam siaran radio Bandung, terdengar perintah Jenderal Ter Poorten kepada seluruh pasukannya untuk menghentikan segala peperangan dan melakukan kapitulasi tanpa syarat.

Itulah akhir kisah penjajahan Belanda. Setelah itu Jepang pun menduduki
Indonesia hingga akhirnya merdeka 17 Agustus 1945. Jepang hanya berkuasa tiga tahun lima bulan delapan hari.



Analisis

Berdasarkan uraian di atas, kita bisa menghitung berapa lama sesungguhnya
Indonesia dijajah Belanda. Kalau dihitung dari 1596 sampai 1942, jumlahnya 346 tahun. Namun, tahun 1596 itu Belanda baru datang sebagai pedagang. Itu pun gagal mendapat izin dagang. Tahun 1613-1645, Sultan Agung dari Mataram, adalah raja besar yang menguasai seluruh Jawa, kecuali Banten, Batavia, dan Blambangan. Jadi, tidak bisa dikatakan Belanda sudah menjajah Pulau Jawa (yang menjadi bagian Indonesia kemudian).

Selama seratus tahun dari mulai terbentuknya Hindia Belanda pascakeruntuhan VOC (dengan dipotong masa penjajahan Inggris selama 5 tahun), Belanda harus berusaha keras menaklukkan berbagai wilayah di Nusantara hingga terciptanya Pax Neerlandica. Namun, demikian hingga akhir abad ke-19, beberapa kerajaan di
Bali, dan awal abad ke-20, beberapa kerajaan di Nusa Tenggara Timur, masih mengadakan perjanjian sebagai negara bebas (secara hukum internasional) dengan Belanda. Jangan pula dilupakan hingga sekarang Aceh menolak disamakan dengan Jawa karena hingga 1912 Aceh adalah kerajaan yang masih berdaulat. Orang Aceh hanya mau mengakui mereka dijajah 33 tahun saja.

Kesimpulannya, tidak benar kita dijajah Belanda selama 350 tahun. Yang benar adalah, Belanda memerlukan waktu 300 tahun untuk menguasai seluruh Nusantara. ***


Kesimpulannya, tidak benar kita dijajah Belanda selama 350 tahun. Yang benar adalah, Belanda memerlukan waktu 300 tahun untuk menguasai seluruh Nusantara.

Penulis, Guru Besar Ilmu Sejarah Unpad/Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat/Ketua Pusat Kebudayaan Sunda Fakultas Sastra Unpad.

link: _http://pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id= 14579

Sejarah Majapahit

SEJAK akhir abad ke-19, setelah penemuan naskah Pararaton yang menguraikan keluarga raja-raja Majapahit, para ahli sejarah mulai menyusun sejarah kerajaan Hindu terbesar di Jawa itu secara ilmiah, sebab data Pararaton ternyata banyak yang sesuai dengan prasasti-prasasti dari zaman Majapahit. Sayangnya, uraian Pararaton mengenai keluarga raja-raja Majapahit sering terlampau singkat, kurang lengkap, dan kadang-kadang membingungkan, sehingga para ilmuwan harus jeli dalam membaca dan menafsirkannya. Itulah sebabnya sampai awal abad ke-21 sekarang rekonstruksi sejarah Majapahit belumlah tuntas. Tulisan ini khusus membahas hubungan kekeluargaan dinasti Majapahit dan diharapkan dapat menjembatani perbedaan penafsiran naskah Pararaton di kalangan para ahli sejarah.

Terlebih dahulu kita catat daftar raja-raja Majapahit.
Raja pertama, Kertarajasa Jayawardhana Dyah Sanggramawijaya yang dikenal dengan Raden Wijaya (1294–1309), digantikan putranya, Jayanagara Raden Kalagemet (1309-1328). Jayanagara digantikan adik wanitanya, Tribhuwana Wijayottunggadewi Dyah Gitarja (1328–1350). Lalu tahta kerajaan diwarisi putra Tribhuwana,Rajasanagara Dyah Hayam Wuruk (1350–1389). Hayam Wuruk digantikan keponakan dan menantunya, Wikramawardhana Hyang Wisesa (1389–1429). Setelah itu naik tahta putri Wikramawardhana, Prabhu Stri Dyah Suhita (1429–1447). Selanjutnya Suhita digantikan adiknya, Wijayaparakramawardhana Dyah Kertawijaya (1447–1451). Kemudian tahta Majapahit secara berturut-turut diwarisi oleh tiga orang putra Kertawijaya: Rajasawardhana Dyah Wijayakumara Sang Sinagara (1451–1453); Girisawardhana Dyah Suryawikrama Hyang Purwawisesa (1456–1466); serta Singawikramawardhana Dyah Suraprabhawa(1466–1478).

Majapahit tiga kali mengalami pertikaian tahta di antara keluarga kerajaan. Pertikaian pertama berlangsung 30 tahun (1376–1406) ketika kadaton wetan memisahkan diri dari pusat pemerintahan. Pertikaian kedua terjadi pada tahun 1453-1456 sehingga Majapahit tidak mempunyai raja selama tiga tahun. Pertikaian terakhir tahun 1468–1478 menyebabkan keruntuhan Majapahit.

Penafsiran data Pararaton harus didasari pemahaman terhadap konsep kosmogoni Siwa-Buddha yang menganggap suatu kerajaan sebagai perwujudan Gunung Mahameru tempat kediaman Bhatara Indra. Itulah sebabnya keluarga Majapahit menamakan diri mereka Girindrawangsa, dan berabad-abad sebelumnya keluarga Sriwijaya juga mengklaim sebagai Sailendrawangsa, yang sama-sama berarti ‘Keluarga Gunung Indra’.
Pusat kerajaan Majapahit (di sekitar Mojokerto sekarang) dikelilingi daerah-daerah bawahan (mandala-mandala) yang meliputi delapan penjuru (lokapala), yaitu Kahuripan, Tumapel, Paguhan, Wengker, Daha, Lasem, Pajang, dan Kabalan. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Dr.Boechari, “While the kingdom is compared with Mount Meru and Indra’s heaven, the king is thought to be Indra on earth, and that the eight Lokapala are incorporated in his nature” (MIISI, V/1, 1973). Dua mandala utama, yaitu Kahuripan (Janggala, Jiwana) dan Daha (Kadiri, Panjalu), merupakan poros yang menyangga kestabilan sistem, dan hal ini sudah dibakukan sejak zaman raja Airlangga pada abad ke-11. Itulah sebabnya kombinasi wilwatikta-janggala-kadiri (Majapahit-Kahuripan-Daha) banyak dijumpai dalam prasasti-prasasti.

Sebagai kepala pemerintahan, raja atau ratu Majapahit bergelar Bhatara Prabhu (Bhre Prabhu) atau Sri Maharaja. Para anggota keluarga kerajaan diberi gelar Bhatara(Bhre) dari mandala tertentu, misalnya Bhre Kahuripan, Bhre Daha, Bhre Tumapel, dan sebagainya. (Gelar apanage semacam ini sekarang masih berlaku di Kerajaan Inggris: suami Ratu Elizabeth diberi gelar Duke of Edinburgh, sedangkan putra mereka bergelar Prince of Wales.)

Sesuai dengan keseimbangan gender, gelar Bhre Tumapel, Bhre Paguhan dan Bhre Wengker dijabat oleh pria, sedangkan gelar Bhre Lasem, Bhre Pajang dan Bhre Kabalan jatah untuk wanita. Adapun gelar Bhre Kahuripan dan Bhre Daha, sebagai daerah poros (axis region), boleh disandang pria atau wanita asalkan hubungan kerabatnya dekat dengan sang prabhu. Sebagaimana ditegaskan oleh Prof. Bertram Johannes Otto Schrieke, “Kahuripan and Daha were the regions assigned to the most highly placed members of the royal family” (Ruler and Realm in Early Java, 1957). Jika anggota keluarga kerajaan cukup banyak, mandala diperluas menurut kebutuhan, misalnya Bhre Mataram, Bhre Matahun, Bhre Wirabhumi, dan sebagainya.

PERIODE AWAL MAJAPAHIT (1294–1375)

Kertarajasa Jayawardhana Dyah Sanggramawijaya, yang naik tahta pada tahun 1294, beristri empat putri Kertanagara (raja terakhir Singasari), yaitu Tribhuwaneswari, Mahadewi, Jayendradewi, Rajapatni Gayatri. Kertarajasa juga beristri Dara Petak Sri Indreswari, putri dari Malayu. Dari Gayatri, Kertarajasa memperoleh dua putri: Bhre Kahuripan(I) Tribhuwana Wijayottunggadewi Dyah Gitarja dan Rajadewi Maharajasa Dyah Wiyat. Putri-putri Kertanagara yang lain tidak berketurunan. Dari Dara Petak, Kertarajasa berputra Bhre Daha(I)Jayanagara Raden Kalagemet, yang diakui sebagai putra permaisuri Tribhuwaneswari. Setelah Kertarajasa wafat tahun 1309, Jayanagara menjadi raja Majapahit, dan gelar Bhre Daha(II) disandang oleh Rajadewi.

Ketika Jayanagara wafat tanpa keturunan tahun 1328, Tribhuwana menjadi ratu Majapahit. Dia bersuami Bhre Tumapel(I) Kertawardhana Raden Cakradhara, dan memperoleh sepasang putra-putri: Bhre Kahuripan(II) Rajasanagara Dyah Hayam Wuruk dan Bhre Pajang(I) Rajasaduhiteswari Dyah Nartaja. Kertawardhana dari selir juga berputra Raden Sotor. Adapun Bhre Daha(II) Rajadewi bersuami Bhre Wengker(I) Wijayarajasa Raden Kudamerta, dan memperoleh putri Bhre Lasem(I)Rajasaduhita Indudewi. Wijayarajasa dari selir juga berputri Sri Sudewi Padukasori.

Pada tahun 1350 Hayam Wuruk menggantikan sang ibunda di atas tahta Majapahit, dan Tribhuwana kembali bergelar Bhre Kahuripan(I). Hayam Wuruk menikahi Sri Sudewi, dan berputri Bhre Kabalan(I) Kusumawardhani. Dari selir, Hayam Wuruk memperoleh seorang putra yang tidak jelas namanya. Bhre Pajang(I) Dyah Nartaja bersuami Bhre Paguhan(I) Singawardhana Raden Sumana, memperoleh satu putra dan dua putri: Bhre Mataram(I) Wikramawardhana, Bhre Wirabhumi(I)Nagarawardhani, dan Bhre Pawanawan Surawardhani atau Rajasawardhani. Adapun Bhre Lasem(I) Indudewi bersuami Bhre Matahun(I) Rajasawardhana Raden Larang. Oleh karena pasangan ini tidak berketurunan, mereka mengadopsi putra Hayam Wuruk dari selir.

Kemudian terjadilah pernikahan antar sepupu: Kusumawardhani bersuami Wikramawardhana; Nagarawardhani bersuami putra Hayam Wuruk dari selir; dan Surawardhani bersuami Bhre Pandansalas(I) Ranamanggala Raden Sumirat, putra Raden Sotor. Setelah Bhre Daha(II) Rajadewi dan Bhre Kahuripan(I) Tribhuwana wafat antara tahun 1372 dan 1375, terjadilah rotasi gelar: Indudewi menjadi Bhre Daha(III); Nagarawardhani menjadi Bhre Lasem(II), dan suaminya menyandang gelar Bhre Wirabhumi(II). Adapun gelar Bhre Kahuripan(III) paling layak diwarisi putra mahkota Wikramawardhana, meskipun hal ini tidak disebutkan dalam Pararaton.

Wikramawardhana dan Kusumawardhani memperoleh tiga putra dan satu putri: putra sulung Bhre Mataram(II) Rajasakusuma yang mewarisi gelar ayahnya, putra kedua yang tidak jelas namanya, putri Suhita, dan putra bungsu Kertawijaya. Ranamanggala dan Surawardhani memperoleh satu putra dan dua putri: Ratnapangkaja yang menjadi suami Suhita, putri sulung yang menjadi istri putra kedua Wikramawardhana, dan putri bungsu Jayeswari yang menjadi istri Kertawijaya. Bhre Wirabhumi(II) dan Nagarawardhani memperoleh putra Bhre Pakembangan yang wafat dalam ‘perburuan’ (ketika berburu di hutan ataukah ketika menjadi buronan politik?) serta tiga orang putri.


PERIODE KADATON WETAN (1376–1406)

Pertikaian tahta mulai terjadi ketika muncul kerajaan separatis yang dalam Pararaton disebut kadaton wetan (istana timur), untuk membedakannya dari kerajaan Majapahit yang disebut kadaton kulon (istana barat). Hal ini diungkapkan oleh Pararaton dengan kalimat tumuli hana gunung anyar i saka 1298 (“lalu terjadi gunung baru pada 1298 Saka = 1376 Masehi”). Oleh karena ‘gunung’ melambangkan tahta kekuasaan, informasi ini mengisyaratkan munculnya kerajaan baru.

Kerajaan tandingan ini tercatat dalam kronik Cina Ming-shih (Sejarah Dinasti Ming).Kronik Ming-shih menerangkan dua rombongan utusan dari Jawa tahun 1377, yang diterjemahkan W.P.Groeneveldt sebagai berikut: “In this country there is a western and an eastern king. The latter is called Wu-lao-wang-chieh and the former Wu-lao-po-wu. Both of them sent envoys with tribute”. Para ahli sejarah tidak sulit mengenali tokoh kerajaan barat, Wu-lao-po-wu, sebagai ‘Bhatara Prabhu’, yaitu raja Hayam Wuruk. Akan tetapi baru pada tahun 1964 Prof.George Coedes mampu mengidentifikasi tokoh kerajaan timur, Wu-lao-wang-chieh, sebagai ‘Bhatara Wengker’.

Bhre Wengker pada zaman Hayam Wuruk adalah Wijayarajasa, suami Rajadewi bibi Hayam Wuruk. Wijayarajasa juga mertua Hayam Wuruk sebab merupakan ayah dari permaisuri Sri Sudewi. Dari kitab Nagarakretagama yang ditulis pujangga Prapanca tahun 1365 kita memperoleh gambaran bahwa Wijayarajasa memang mempunyai ambisi untuk berkuasa. Setelah Patih Gajah Mada wafat tahun 1364, lalu disusul oleh wafatnya Tribhuwana dan Rajadewi antara 1372 dan 1375, Wijayarajasa mewujudkan ambisinya sebab tokoh-tokoh yang diseganinya tidak ada lagi. Pada tahun 1376 dia memproklamasikan kadaton wetan yang lepas dari Majapahit.



Tahun berikutnya Majapahit dan kadaton wetan sama-sama mengirimkan utusan kepada Dinasti Ming di Cina.

Di manakah letak kadaton wetan? Menurut Pararaton dan prasasti Biluluk, Wijayarajasa bergelar Bhatara Parameswara ring Pamotan (Yang Dipertuan di Pamotan). Oleh karena kata muwat bersinonim dengan nanggung, maka Pamotan (Pamuwatan) barangkali adalah Gunung Penanggungan di sebelah timur Mojokerto sekarang. Wijayarajasa agaknya sengaja memilih tempat itu menjadi pusat kerajaan sebagai pembenaran tindakan separatisnya. Daerah Penanggungan atau Pamotan merupakan tempat suci raja Airlangga, sehingga Wijayarajasa kiranya ingin menunjukkan bahwa pembentukan negara baru itu mengikuti tradisi Airlangga yang pernah membagi dua kerajaannya.


Di manakah letak kadaton wetan? Menurut Pararaton dan prasasti Biluluk, Wijayarajasa bergelar Bhatara Parameswara ring Pamotan (Yang Dipertuan di Pamotan). Oleh karena kata muwat bersinonim dengan nanggung, maka Pamotan (Pamuwatan) barangkali adalah Gunung Penanggungan di sebelah timur Mojokerto sekarang. Wijayarajasa agaknya sengaja memilih tempat itu menjadi pusat kerajaan sebagai pembenaran tindakan separatisnya. Daerah Penanggungan atau Pamotan merupakan tempat suci raja Airlangga, sehingga Wijayarajasa kiranya ingin menunjukkan bahwa pembentukan negara baru itu mengikuti tradisi Airlangga yang pernah membagi dua kerajaannya.

Adanya kadaton wetan menyebabkan keluarga Majapahit pecah menjadi dua kelompok. Sebagian besar tetap setia kepada Hayam Wuruk. Akan tetapi mereka yang berkerabat dengan Wijayarajasa terpaksa hijrah memihak kadaton wetan, yaitu Bhre Daha(III) Indudewi dengan suaminya Bhre Matahun(I) Raden Larang, dan anak angkat mereka Bhre Wirabhumi(II) dengan istrinya Bhre Lasem(II) Nagarawardhani, serta tiga orang putri Bhre Wirabhumi(II). Hayam Wuruk segan bertindak tegas menghadapi negara separatis itu sebab Wijayarajasa adalah mertuanya, Indudewi adalah sepupunya, dan Bhre Wirabhumi(II) adalah putranya dari selir. Selagi tokoh-tokoh senior masih hidup, kadaton kulon dan kadaton wetan saling menenggang rasa sehingga konfrontasi terbuka dapat dihindari.

Akan tetapi keadaan seperti itu tidaklah dapat dipertahankan setelah para tokoh senior meninggal dunia. Pada tahun 1386 Kertawardhana (ayah Hayam Wuruk) wafat. Dua tahun berikutnya, 1388, wafat pula secara berturut-turut permaisuri Sri Sudewi, Dyah Nartaja (adik Hayam Wuruk) dan suaminya Raden Sumana. Dua tokoh kadaton wetan, Raden Larang dan Wijayarajasa sendiri, juga wafat. Akhirnya mangkat pula raja Hayam Wuruk tahun 1389.
Wikramawardhana menjadi raja Majapahit dan kemudian dikenal dengan Hyang Wisesa, sedangkan tahta kadaton wetan diwarisi Bhre Wirabhumi(II). Gelar Bhre Kahuripan(IV) disandang Surawardhani, dan putra kedua Wikramawardhana digelariBhre Tumapel(II). Suhita dan suaminya, Ratnapangkaja, masing-masing kiranya menjadi Bhre Pajang(II) dan Bhre Paguhan(II), meskipun tidak disebutkan dalam Pararaton. Wikramawardhana bertindak konfrontatif terhadap kadaton wetan dengan memberikan gelar Bhre Lasem (padahal sedang disandang adiknya, Nagarawardhani) kepada permaisurinya, Kusumawardhani. Dalam Pararaton, Kusumawardhani disebut Bhre Lasem Yang Cantik (Sang Ahayu) dan Nagarawardhani disebut Bhre Lasem Yang Gemuk (Sang Alemu).

Putra mahkota Rajasakusuma wafat tahun 1399 dan bergelar anumerta Hyang Wekas ing Sukha. Tahun 1400 wafat pula Bhre Lasem(II) Nagarawardhani, Bhre Lasem(III)Kusumawardhani, Bhre Kahuripan(IV) Surawardhani, dan Bhre Pandansalas(I) Ranamanggala. Maka terjadilah regenerasi gelar bagi yang muda. Ratnapangkaja menjadi Bhre Kahuripan(V), dan adiknya, istri Bhre Tumapel(II), menjadi Bhre Lasem(IV). Gelar Bhre Pandansalas(II) disandang oleh Raden Jagulu, adik Ranamanggala. Dua orang putra Bhre Tumapel(II) dengan Bhre Lasem(IV) masing-masing diberi gelar Bhre Wengker(II) dan Bhre Paguhan(III). Satu-satunya tokoh senior yang masih hidup saat itu adalah Bhre Daha(III) Indudewi yang mendampingi anak angkatnya, Bhre Wirabhumi(II), di kadaton wetan.

Konfrontasi antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi(II) akhirnya menimbulkanPerang Paregreg tahun 1405–1406. Kadaton wetan mengalami kekalahan dengan gugurnya Bhre Wirabhumi(II), sehingga Majapahit utuh kembali setelah pecah 30 tahun. Untuk menghilangkan benih balas dendam, tiga putri Bhre Wirabhumi(II) masing-masing dinikahi oleh Wikramawardhana, Bhre Tumapel(II) putra Wikramawardhana dan Bhre Wengker(II) cucu Wikramawardhana. Ketiga putri itu berturut-turut diberi gelar Bhre Mataram(III), Bhre Lasem(V), dan Bhre Matahun(II).Sungguh suatu pernikahan yang sangat unik: tiga putri bersaudara bersuamikan orang-orang tiga generasi!

PERIODE PASCA PAREGREG (1406–1453)

Seusai Perang Paregreg, Bhre Daha(III) Indudewi diboyong pulang oleh Wikramawardhana ke Majapahit dan dihormati sebagai sesepuh. Saudara sepupu Hayam Wuruk ini wafat tahun 1415 bersama-sama Bhre Mataram(III) dan Bhre Matahun(II). Gelar Bhre Daha(IV) paling layak diwarisi oleh Suhita, dan adiknya, Kertawijaya, kiranya menjadi Bhre Mataram(IV). Istri Kertawijaya, Jayeswari, pantas menjadi Bhre Kabalan(II).
Bhre Tumapel(II) dan putranya, Bhre Wengker(II), wafat tahun 1427. Dua tahun kemudian, 1429, mangkat pula raja Wikramawardhana, dan Suhita menjadi ratu Majapahit. Kertawijaya menjadi Bhre Tumapel(III), sedangkan gelar Bhre Daha(V)diwarisi Jayeswari. Sekitar tahun 1430 wafat pula Bhre Lasem(IV), Bhre Lasem(V), dan Bhre Pandansalas(II).

Oleh karena Suhita tidak berketurunan, maka yang mewarnai sejarah Majapahit selanjutnya adalah keturunan Bhre Tumapel(II) dan Bhre Tumapel(III) Kertawijaya.
Bhre Tumapel(II) dengan istrinya Bhre Lasem(V) mempunyai tiga putri dan satu putra:Bhre Jagaraga Wijayendudewi Dyah Wijayaduhita, Bhre TanjungpuraManggalawardhani Dyah Suragharini, Bhre Pajang(III) Dyah Sureswari, dan putra bungsu Bhre Keling(I). Bhre Jagaraga dinikahi Ratnapangkaja, sedangkan Bhre Tanjungpura dan Bhre Pajang(III) menjadi istri Bhre Paguhan(III). Bhre Keling(I) beristri Bhre Kembangjenar Rajanandaneswari Dyah Sudharmini, putri Bhre Pandansalas(II) Raden Jagulu. Menurut Pararaton, semua pernikahan di atas tidak membuahkan keturunan.

Bhre Tumapel(III) Wijayaparakramawardhana Dyah Kertawijaya dengan istrinya Bhre Daha(V) Jayawardhani Dyah Jayeswari mempunyai tiga putra, yaitu Bhre Pamotan(I)Rajasawardhana Dyah Wijayakumara, Bhre Wengker(III) Girisawardhana Dyah Suryawikrama, dan Bhre Pandansalas(III) Singawikramawardhana Dyah Suraprabhawa. Setelah Bhre Paguhan(III) wafat tahun 1440, Rajasawardhana menikahi Bhre Tanjungpura Manggalawardhani. Girisawardhana beristri Bhre Kabalan(III) Mahamahisi Dyah Sawitri, putri Bhre Wengker(II) dengan Bhre Matahun(II). Suraprabhawa menikahi Bhre Singapura Rajasawardhanidewi Dyah Sripura, putri Bhre Paguhan(III) dari selir.
Bhre Kahuripan(V) dan Bhre Keling(I) wafat tahun 1446. Rajasawardhana menjadi Bhre Keling(II). Setelah ratu Suhita mangkat tahun 1447, Kertawijaya mewarisi tahta Majapahit, dan gelar Bhre Tumapel(IV) disandang Suraprabhawa. Rajasawardhana yang kini putra mahkota kembali bertukar gelar menjadi Bhre Kahuripan(VI) dan kelak dikenal dengan julukan Sang Sinagara. Daftar keluarga Majapahit pada masa Kertawijaya tercantum lengkap dalam prasasti Waringin Pitu tahun 1447.

Pararaton menyebutkan bahwa putra-putra Sang Sinagara ada empat orang. Dalam prasasti Waringin Pitu tercantum nama-nama putra pertama dan kedua, yaitu Bhre Matahun(III) Wijayaparakrama Dyah Samarawijaya serta Bhre Keling(III) Girindrawardhana Dyah Wijayakarana. Putra ketiga dan keempat belum lahir pada tahun 1447. Menurut prasasti Waringin Pitu, Samarawijaya dan Wijayakarana sejak kecil dijodohkan masing-masing dengan Bhre Wirabhumi(III) Rajasawardhanendudewi Dyah Pureswari dan Bhre KalinggapuraKamalawarnadewi Dyah Sudayita, yaitu putri-putri Bhre Wengker(III) Girisawardhana dengan Bhre Kabalan(III) Sawitri.
Bhre Kabalan(III) Sawitri dan Bhre Pajang(III) Sureswari wafat tahun 1450. Setahun kemudian mangkat pula raja Kertawijaya, dan Rajasawardhana naik tahta Majapahit tahun 1451. Gelar Bhre Kahuripan(VII) diwarisi putra mahkota Samarawijaya, sedangkan adiknya, Wijayakarana, menjadi Bhre Mataram(V).Kiranya saat itu putra ketiga dan keempat Rajasawardhana sudah lahir, yang masing-masing menyandang Bhre Pamotan(II) dan Bhre Kertabhumi. Nama-nama dua orang yang terakhir ini tercantum dalam prasasti Trailokyapuri, yaitu Singawardhana Dyah Wijayakusuma dan Girindrawardhana Dyah Ranawijaya.

PERIODE AKHIR MAJAPAHIT (1453–1478 )

Ketika Rajasawardhana Sang Sinagara mangkat tahun 1453, terjadilah pertikaian tahta antara Bhre Kahuripan(VII) Samarawijaya dan Bhre Wengker(III) Girisawardhana. Kemelut paman dan keponakan ini menyebabkan Majapahit tiga tahun tidak mempunyai raja (telung tahun tan hana prabhu, kata Pararaton). Kevakuman tahta ini berakhir tahun 1456 tatkala Girisawardhana menjadi raja dengan gelar Hyang Purwawisesa. Kiranya Samarawijaya yang masih muda mengalah terhadap paman yang sekaligus mertuanya, dan rela menjadi putra mahkota untuk kedua kalinya. Peranan ibu suri Bhre Daha(V) Jayeswari tentu sangat besar dalam proses rekonsiliasi tersebut.

Bhre Daha(V) Jayeswari wafat tahun 1464, dan gelar Bhre Daha(VI) disandang Manggalawardhani. Ketika Bhre Jagaraga Wijayaduhita dan raja Girisawardhana wafat pula tahun 1466, sengketa kekuasaan muncul kembali.
Adik bungsu Sang Sinagara, Bhre Tumapel(IV) Suraprabhawa, ternyata berambisi juga menjadi raja. Dia menduduki tahta Majapahit. Sudah tentu para keponakannya sakit hati. Baru saja dua tahun Suraprabhawa bertahta (prabhu rong tahun), yaitu tahun 1468, keempat putra Sang Sinagara memperlihatkan sikap oposisi dengan ‘pergi dari istana’ (tumuli sah saking kadaton putranira sang sinagara), yaitu Bhre Kahuripan(VII) Samarawijaya, Bhre Mataram(V) Wijayakarana, Bhre Pamotan(II) Wijayakusuma, dan si bungsu Bhre Kertabhumi Ranawijaya. Mereka menyingkir ke Jinggan (antara Mojokerto dan Surabaya sekarang), menyusun kekuatan untuk merebut hak mereka atas tahta. Sejak itu Samarawijaya disebut Sang Munggwing Jinggan (Yang Berdiam di Jinggan).
Pada tahun 1478 Sang Munggwing Jinggan Samarawijaya dan adik-adiknya memimpin pasukan dalam penyerbuan ke ibukota Majapahit, yang menyebabkan runtuhnya kerajaan Hindu terbesar di Jawa itu. Pararaton menutup uraian sejarah Majapahit dengan kalimat kapernah paman, bhre prabhu sang mokta ring kadaton i saka 1400 (“paman mereka, sang raja, mangkat di istana tahun 1478”).

Ungkapan mokta ring kadaton (‘mangkat di istana’) mengisyaratkan bahwa Suraprabhawa mati terbunuh. Jika kematiannya wajar, tentu dipakai kalimat yang berbau surga, misalnya mokta ring wisnubhawana, mokta ring somyalaya, dan semacamnya. Raja Jayanagara yang terbunuh tahun 1328 diungkapkan Pararaton dengan istilah mokta ring pagulingan (‘mangkat di tempat tidur’). Kiranya Suraprabhawa bernasib serupa. Raja terakhir Majapahit ini gugur di istana ketika bertempur melawan para keponakannya.

Kemenangan putra-putra Sang Sinagara ternyata harus ditebus dengan ikut gugurnya Sang Munggwing Jinggan Samarawijaya. Prasasti Petak menyebutkan kadigwijayanira sang munggwing jinggan duk ayun-ayunan yudha lawaning majapahit (“kemenangan Sang Munggwing Jinggan yang naik-jatuh berperang melawan Majapahit”). Ungkapanayun-ayunan (‘naik-jatuh’) berarti meraih kemenangan tetapi gugur dalam pertempuran (won the war but lost the battle).

istana ketika bertempur melawan para keponakannya.

Kemenangan putra-putra Sang Sinagara ternyata harus ditebus dengan ikut gugurnya Sang Munggwing Jinggan Samarawijaya. Prasasti Petak menyebutkan kadigwijayanira sang munggwing jinggan duk ayun-ayunan yudha lawaning majapahit (“kemenangan Sang Munggwing Jinggan yang naik-jatuh berperang melawan Majapahit”). Ungkapanayun-ayunan (‘naik-jatuh’) berarti meraih kemenangan tetapi gugur dalam pertempuran (won the war but lost the battle).

KERAJAAN KELING DAN DAHA (1478–1527)

Sesudah Majapahit runtuh tahun 1478, tiga orang adik Sang Munggwing Jinggan, yaitu Wijayakarana, Wijayakusuma, dan Ranawijaya, mendirikan kerajaan baru di Keling(antara Mojokerto dan Kediri sekarang). Mereka bertiga secara berturut-turut menjadi raja dengan gelar Sri Maharaja Bhatara Keling. Mula-mula Girindrawardhana Dyah Wijayakarana bertahta (1478–1486), dan setelah wafat berjuluk Sang Mokta ring Amertawisesalaya. Dia digantikan oleh Singawardhana Dyah Wijayakusuma yang memerintah mungkin hanya beberapa bulan, lalu mendadak wafat dan berjuluk Sang Mokta ring Mahalayabhawana. Akhirnya Girindrawardhana Dyah Ranawijayamenjadi raja (1486–1527), yang dikenal sebagai Bhatara Wijaya atau Brawijaya.

Ranawijaya mengeluarkan prasasti Petak dan Trailokyapuri tahun 1486. Prasasti Petak menceritakan kemenangan Sang Munggwing Jinggan melawan Majapahit. Prasasti Trailokyapuri menguraikan upacara sradha mengenang 12 tahun wafatnya Bhatara Daha Sang Mokta ring Indranibhawana, ibunda Ranawijaya (janda Sang Sinagara), yaitu Bhre Daha(VI) Manggalawardhani Dyah Suragharini yang wafat tahun 1474.

Pada tahun 1513, pengembara Portugis bernama Tome Pires mengunjungi Jawa Timur. Dia berdiam di Malaka dari 1512 sampai 1515 dan menuliskan kisah perjalanannya dalam buku Suma Oriental (Catatan Dunia Timur). Tome Pires mengatakan bahwa raja Jawa saat itu adalah Batara Vigiaya, dan raja sebelumnya adalah Batara Mataram, yang menggantikan ayahnya, Batara Sinagara. Informasi ini diperoleh Tome Pires dari Pate Vira (Adipati Wira), penguasa Tuban yang beragama Islam tetapi sangat setia kepada Batara Vigiaya.

Uraian Tome Pires bahwa Batara Mataram menjadi raja menggantikan Batara Sinagara jelas tidak benar. Sang Sinagara wafat tahun 1453, sedangkan Bhre Mataram Wijayakarana naik tahta tahun 1478 setelah dia dan saudara-saudaranya meruntuhkan Majapahit. Tetapi uraian Tome Pires mudah kita pahami, sebab dia memperoleh informasi dari pihak Ranawijaya. Putra-putra Sang Sinagara tentu beranggapan bahwa paman-paman mereka, Girisawardhana dan Suraprabhawa, ‘kurang sah’ menjadi raja.

Tome Pires mengatakan Batara Vigiaya bertahta di Daha. Ini berarti antara tahun 1486 dan 1513 (sekitar tahun 1500) Ranawijaya memindahkan pusat kerajaan dari Keling ke Daha. Menurut Tome Pires, Batara Vigiaya hanyalah raja boneka, sebab kekuasaan negara dipegang mertuanya, Guste Pate Amdura. Persahabatan Guste Pate dengan Portugis membuat marah Pate Rodin Senior, raja Demak yang merupakan musuh Portugis. Pate Rodin Senior mempunyai putra Rodin Junior dan mempunyai menantu Pate Unus yang pernah menyerang benteng Portugis di Malaka. Yang disebut Pate Rodin Senior, Pate Unus, dan Rodin Junior oleh Tome Pires tiada lain adalah sultan-sultan Demak: Raden Patah (1481–1518), Pangeran Sabrang Lor Adipati Yunus (1518–1521), dan Raden Trenggana (1521–1546). Kesultanan Demak menaklukkan Daha tahun 1527 pada masa pemerintahan Trenggana, sehingga berakhirlah zaman kerajaan Hindu di Jawa Timur.

ISLAM DAN MAJAPAHIT

Masyarakat Islam sudah eksis di Jawa Timur sejak abad ke-11, dua abad sebelum berdirinya Majapahit. Di Leran, dekat Gresik, ditemukan nisan bertuliskan huruf Arab yang menerangkan wafatnya Fatimah binti Maimun tanggal 7 Rajab 475 Hijri (2 Desember 1082). Beberapa istilah bahasa Arab sudah dipakai dalam Kakimpoi Ghatotkacasraya gubahan Mpu Panuluh, pujangga kerajaan Panjalu abad ke-12. Pemakaman kuno di Tralaya, lokasi bekas keraton Majapahit, dipenuhi batu nisan yang bertuliskan huruf Arab, dan ada yang dilengkapi kutipan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Tiga buah makam berasal dari zaman raja Hayam Wuruk, masing-masing bertarikh 1290, 1298 dan 1302 Saka (1368, 1376 dan 1380 Masehi).
Hal ini merupakan bukti nyata bahwa agama Islam sudah dianut oleh sebagian penduduk ibukota Majapahit pada masa kerajaan Hindu itu mencapai kejayaannya.

Sebuah makam bertarikh 1370 Saka (dikenal masyarakat sebagai makam Putri Cempa yang beragama Islam. Mungkin ini ucapan lidah Jawa untuk “Putri Jeumpa” yang menyatakan asal putri itu dari Aceh Serambi Mekkah. Menurut Babad Tanah Jawi, Putri Cempa adalah permaisuri Brawijaya. Istilah ‘Brawijaya’ (singkatan dari Bhatara Wijaya) harus kita cermati, sebab ada tujuh orang keluarga Majapahit yang namanya memakai kata wijaya, yaitu Sanggramawijaya (raja pertama), Kertawijaya (raja ke-7), Wijayakumara (Sang Sinagara, raja ke-8), serta putra-putra Sang Sinagara: Samarawijaya, Wijayakarana, Wijayakusuma, dan Ranawijaya. Jika cerita tentang Putri Cempa ini benar, barangkali dia adalah selir Kertawijaya (1447–1451), sebab sang permaisuri adalah Bhre Daha(V) Jayeswari.

Babad Tanah Jawi yang ditulis pada masa kesultanan Mataram menerangkan tujuh raja Majapahit yang bergelar Brawijaya, dan tahta Brawijaya terakhir diruntuhkan putranya sendiri, Raden Patah, adipati Demak yang beragama Islam. Mitos yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa itu jelas menyesatkan, sebab Majapahit runtuh tahun 1478 lantaran pertikaian sesama keluarga kerajaan itu sendiri. Justru kevakuman kekuasaan akibat runtuhnya Majapahit dimanfaatkan oleh Demak untuk tampil sebagai kesultanan Islam pertama di Jawa.

Kerajaan Hindu yang ditaklukkan oleh Demak bukanlah Majapahit, melainkan Kerajaan Daha, yaitu tahta Girindrawardhana Dyah Ranawijaya (Brawijaya terakhir) yang tidak pernah menjadi raja Majapahit. Justru Majapahit runtuh oleh serangan Ranawijaya dan kakak-kakaknya. Dengan demikian, Babad Tanah Jawi ternyata mencampuradukkan dua fakta sejarah yang berlainan: (1) runtuhnya Majapahit tahun 1478 akibat serangan putra-putra Sang Sinagara, serta (2) runtuhnya tahta Brawijaya di Daha tahun 1527 akibat penaklukan oleh Demak.

sumber :

http://www.krucil.net/showthread.php/392323-Histori-MajaPahit