Libur Natal dan Tahun Baru sekaligus liburan sekolah sudah mau usai. Saat itu Pula Tiba saatku untuk menjemput Keluargaku yang sedang berlibur berkunjung ke tempat neneknya di Semarang. Aku pikir suasana perjalanan pasti akan sangat padat dan jalanan pasti macet dikarenakan bertepatan dengan malam pergantian tahun ke 2016. Perkiraanku sungguh tepat. Bis yang aku tumpangi sarat oleh para penumpang. Tak pelak Pak Sopir dan Pak Kondektur sangat suka suasana seperti ini, penumpang di tumpuk-tumpuk didalam bis yang sudah sangat sesak. Mungkin mereka berpikir kapan lagi dapat penumpang banyak.
Kota demi kota terlalui oleh bis yang aku tumpangi. Sepanjang jalan itu juga semakin banyak penumpang yang seolah dijejalkan untuk masuk ke dalam bis. Beruntung pas aku naik tadi masih rada kosong sehingga aku dapat tempat duduk yang nyaman. Mungkin kadar oksigen tinggal 25 % saja karena padatnya penumpang.
Suasana menjadi semakin dramatis. Kemacetan jalan yang tadi kuperkirakan terjadi juga. Barisan mobil beraneka jenis seperti tronton, mobil pribadi dan bis mengular beberapa ratus meter seolah membentuk barisan yang rapi. Ketika macet seperti inilah suasana sangat tidak enak didalam bis karena panas sekali dan pengap. Aku duduk di barisan belakang bis berjajar 6 penumpang. Seorang bapak bapak setengah baya disampingku terlihat gelisah, terlihat ia mencari cari sesuatu didalam kantongnya. Setelah lama mencari akhirnya ia mengeluarkan sebungkus rokok Gudang Garam Merah dan ia nyalakan. Ia hisap perlahan rokok itu kemudian dilepaskan. Aku melihat beberapa penumpang perempuan mengibas-ibaskan tanganya tanda terganggu oleh asap si bapak tadi. Si Bapak perokok tadi terlihat cuek saja sebal-sebul dengan rokoknya itu. Sebagai seorang yang sudah berhenti merokok sebetulnya saya terusik dengan prilaku si Bapak Perokok ini, tapi hanya saya batin saja. Dalam benakku apakah enak merokok dalam kondisi yang menurutku sangat tidak nyaman, penuh sesak penumpang dan gerah karena macet. Kalau dulu pas saya merokok pasti tidak akan melakukan hal yang demikian, karena bagaimana mungkin bisa menikmati rokok itu sedangkan udara yang akan kita gunakan untuk bernapas saja sangat terbatas di dalam bis yang penuh sesak oleh penumpang. Tapi aku mencoba menjadi orang yang berpikir netral, mungkin si bapak ini stress dengan suasana sesaknya bis sehingga ia lampiaskan dengan merokok tetapi didalam sudut pikiran yang lain seolah ingin menghakimi si bapak tadi, betapa terganggunya orang-orang disekitarnya akibat asap rokonya.
Sekedar pencerahan untuk para pembaca yang budiman, sesuatu yang kita kerjakan akan terlihat pantas kalau dilakukan ditempat yang pantas dan tepat. demikian juga merokok akan pantas dan tepat mungkin untuk dilakukan ketika suasana santai dan leluasa. saya sangat tahu rasanya menikmati rokok agar terasa nikmat dan nyaman karena dulu saya juga merokok. So terakhir pesan untuk para pembaca " Jadilah Orang Yang Pandai Menempatkan Diri " dimana saja.
