Thursday, May 21, 2015

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG


Pada tanggal 21 April, dua orang cewek sedang terlihat asyik memperbincangkan ibu Kartini.

Cewek I : Seandainya jaman dulu udah ada FB atau Twitter, pasti ibu Kartini banyak Followernya atau subscribernya ….

Cewek II : Kenapa begitu?

Cewek I: Ibu Kartini kan sering GALAU memikirkan nasib Wanita di jamannya, sehingga dia menuliskan kegalauannya kepada teman-temannya yang pada gilirannya surat-surat tsb dibukukan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”

Cewek II: Bukan seperti itu sejarahnya terbitnya buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”

Cewek I: Trus seperti apa dong?

Cewek II: Jadi jaman dulu, para wanita memakai sanggul itu di depan wajahnya. Nah ibu Kartinilah wanita pertama yang menemukan pemakaian sanggul di belakang kepala. Lalu dia menuliskannya ke sebuah buku yang dia beri judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, dan sejak saat itu para wanita mulai mengerti bahwa memakai sanggul dibelakang kepala, membuat dunia lebih terang drpd memakainya di muka kepala ..

Cewek I : Kalah Gemblung gw sama elu …#$#@#$!!

TNI Menang Mutlak di Kejuaraan Menembak Australia


KOMPAS.com — Di tengah peringatan ke-107 Hari Kebangkitan Nasional Indonesia tahun 2015, para prajurit TNI hampir dipastikan meraih kemenangan mutlak dalam Lomba Menembak Tahunan di Australia.

Tim TNI telah mengumpulkan 28 medali emas, sedangkan tim Amerika Serikat bahkan belum meraih medali apa pun.
Kejuaraan tahunan yang diselenggarakan oleh Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) ini berlangsung pada 20-23 Mei 2015 di Puckapunyal, negara bagian Victoria.
Ada 17 tim dari 14 negara berlaga dalam kejuaraan yang mempertandingkan keterampilan menembak ini.
Selain 28 medali emas, tim TNI juga merebut 16 medali perak dan 10 medali perunggu, mengalahkan tuan rumah Australia di posisi kedua dengan 4 medali emas, 7 medali perak, dan 5 medali perunggu.
Ketangguhan para penembak TNI bahkan tidak dapat disaingi oleh tim penembak asal Inggris yang baru meraih 3 medali emas, 5 medali perak dan 3 medali perunggu, apalagi tim penembak Amerika Serikat yang belum meraih medali apa pun.
Diperkirakan perolehan medali akan tim penembak TNI terus bertambah hingga pertandingan berakhir pada 23 Mei 2015.
Dalam rilis yang dikirim oleh KBRI, Duta Besar Nadjib Riphat Kesoema memuji prestasi yang diraih regu tembak Indonesia.
"Prestasi yang membanggakan ini menunjukkan betapa tangguhnya anggota TNI dan persenjataan buatan Indonesia di medan laga," ujar Dubes Nadjib.
Atase Militer KBRI Canberra, Taufan Gestoro, yang mendampingi tim Indonesia selama perlombaan menambahkan, "Di bawah tekanan dan kompetisi internasional yang ketat, para peserta dari TNI bertanding dengan semangat luar biasa dan menyelesaikan tiap kompetisi dengan profesionalisme dan skill yang tinggi."
Total 21 orang penembak dari Indonesia terdiri dari pejabat dan petembak profesional dari lingkungan TNI AD serta teknisi dari PT Pindad.
Selama perlombaan, tim Indonesia menggunakan empat jenis senjata, yaitu senapan buatan dalam negeri SS-2 V-4 Heavy Barrel dan pistol G-2 (Elite & Combat) dari PT Pindad, senapan SO-Minimi buatan Belgia, senapan GPMG (General Purpose Machine Gun) buatan Belgia, dan senjata sniper AW buatan Inggris.
Selain perlombaan kategori beregu, juga diadakan perlombaan kategori perorangan. Untuk kategori perorangan, diraih oleh:
1. Letda Inf Safrin Sihombing (Kopassus)
2. Serda Misran (Kostrad)
3. Serda Suwandi (Kostrad)
4. Serda Woli Hamsan (Kostrad)

sumber :

http://internasional.kompas.com/read/2015/05/21/11485921/TNI.Menang.Mutlak.di.Kejuaraan.Menembak.Australia        

Ternate dan Tidore pusat Rempah Dunia.

Pulau-pulau di gugusan Maluku bagian utara adalah sumber cengkeh dunia yang melegenda. Pedagang India, Arab, Cina dan Jawa sering berkunjung ke Ternate, Tidore, dan Banda yang menjadi sumber rempah-rempah dunia. Mereka pulang membawa komoditi berharga itu ke negara asal untuk dijual dengan harga tinggi. Cengkeh, bersama-sama dengan pala dan fuli itu begitu berharga sebanding dengan emas kerena digunakan sebagai bumbu makanan dan untuk mengawetkan makanan atau sebagai bahan obat-obatan.

Setelah Perang Salib, rute perdagangan ke Timur ditutup Kesultanan Otoman bagi pedagang Eropa sehingga Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda bertekad untuk menemukan sendiri kepulauan yang menjadi sumber rempah-rempah itu.


Vasco da Gama adalah orang pertama yang berlayar ke Tanjung Harapan di Afrika untuk mencapai India. Kemudian, dari India, Portugis akhirnya menemukan rute ke Maluku pada tahun 1521, dan tiba di kepulauan rempah-rempah dimaksud, yaitu: Ternate, Tidore, dan Banda. Untuk sampai di sana, pelaut Portugis berlayar sejauh 14.000 kilometer - hampir 9.000 mil - menyebrangi laut yang belum terpetakan, menghadapi badai, ombak tinggi dan angin muson tropis.


Saat kedatangan pedagang Eropa itu, sudah ada kesultanan yang berkembang di Ternate dan Tidore sehingga persaingan perdangan dan upaya monopoli pun terjadi. Pedagang Spanyol, Belanda dan Inggris pun tergiur membentuk armada perang untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah hingga akhirnya dimenangkan oleh Belanda.

Menjelang akhir abad ke-16, Gubernur Jendral Belanda Jan Pieterszoon Coen menanam cengkeh di Ambon dan menghancurkan semua tanaman cengkeh di Ternate dan Tidore secara brutal. Tindakan ini dikenal sebagai ekspedisi hongi dan langsung dilawan oleh Kesultanan Ternate dan Tidore. Berikutnya perlawanan Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore melawan kolonialis pun tercatat dalam banyak halaman sejarah.


Ternate dan Tidore adalah dua pulau kecil yang hampir sama besarnya. Berlokasi di sebelah barat pulau utama, yaitu Halmahera. Kedua pulau ini saling berhadapan satu sama lain dan dipancang oleh gunung api yang muncul dari Laut Maluku yang dalam.

Pulau Ternate sendiri memiliki luas sekira 1.118 km persegi dan sejatinya adalah bagian dari tubuh Gunung Gamalama yang kakinya terbenam di bawah laut. Ketinggian Gunung Gamalama bila diukur dari permukaan laut hanya 1.715 meter namun jika diukur dari dasar laut mencapai 3.000 meter. Kota Ternate menjadi rumah bagi dua pertiga dari penduduk pulau yang mayoritas Muslim. Di sini, Anda dapat mengunjungi banyak peninggalan sejarah dan menyaksikan tradisi budaya lokal yang luar biasa. Kota ini juga merupakan pusat perdagangan pulau dengan fasilitas pendukung bisnis, jaringan transportasi, dan pariwisata.


Gunung api di pulau Ternate memberikan tanah subur dan pantai dengan pasir hitam yang berkilauan. Anda akan melihat seluruh pulau dihiasi oleh perahu berwarna-warni dalam berbagai ukuran berbaring di air dangkal berbatu virus dan terlindung oleh pohon kelapa yang menari-nari terkibas angin sejuk.


Apabila Ternate adalah kota pulau yang diperlengkapi dengan denyut aktivitas pemerintahan dan niaga maka berbeda pada kota pulau kembarannya, Tidore. Pulau ini lebih besar dari Ternate namun kontras karena masih terbilang sepi tetapi begitu tentram. Di sini akan Anda temui banyak masjid di sepanjang jalannya. Hampir selang beberapa ratus meter bahkan puluhan meter akan didapati masjid atau musala. Mayarakat Tidore terkenal kuat menjalankan ajaran Islam dan ramah pada pengunjung.


Meskipun hanya memiliki luas 15 km2, Pulau Ternate memiliki sejumlah pemandangan dan pengalaman yang patut untuk dijelajah.
Mendaki puncak gunung berapi. Untuk setiap pengunjung yang datang ke pulau Ternate, mengunjungi Gunung Gamalama adalah keharusan. Wisata ke gunung tersedia dan menawarkan cara yang aman untuk menjelajah gunung berapi. Seorang pemandu lokal akan mengantar Anda melalui perjalanan selama 5 jam ke puncak gunung, 1.271 meter di atas permukaan laut.


Pelajari tentang kehidupan bangsawan Ternate dengan mengunjungi Istana Kedaton atau Sultan. Dibangun pada tahun 1796, sebagaian masih berfungsi sebagai rumah tinggal. Ada bagian bangunan khusus Kedaton yang berfungsi sebagai museum, di mana adik Sultan menyediakan informasi tentang Ternate dan tempat-tempat terkait dalam bahasa Inggris yang sangat baik bagi para pengunjung. Jika Anda telah berencana dan memperoleh izin dari Sultan, Anda dapat melihat mahkota Sultan yang hanya dikenakan pada penobatan. Legenda mengatakan bahwa mahkota memiliki 'rambut tumbuh', yang harus dipangkas sacara teratur. Orang-orang percaya dengan memamerkan mahkota di sekitar pulau dapat mencegah bencana, dan telah mencegah Gunung Gamalama meletus di masa lalu.


Masjid Sultan juga merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi. Sempatkan diri Anda untuk mengagumi interior kayu di tempat ini.
Hiburan lainnya di Ternate termasuk Benteng Oranye yang pernah menjadi kantor Hindia Belanda (VOC) dan juga sebagai tempat tinggal bagi gubernur Belanda di Ternate.


Berjalan di sekitar benteng Tolukko kuno. Dibangun tahun 1512 oleh Portugis, benteng yang pertama kali dibangun di Ternate. Benteng Kayu Merah juga layak untuk dikunjungi karena pemandangannya yang menakjubkan.


Kunjungi Danau Tolire Besar yang menakjubkan, sebuah danau kawah yang spektakuler di Utara pulau. Menikmati pemandangan dramatis, terutama danau megah yang dikelilingi oleh hutan lebat.

http://www.kaskus.co.id/thread/549040bf529a455f448b456d/ternate-dan-tidore-pusat-rempah-dunia/

Indonesia Jadi Opsi Tuan Rumah MotoGP 2017

JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia menjadi salah satu negara opsi tuan rumah MotoGP 2017. Sirkuit Internasional Sentul, Bogor, diproyeksikan sebagai tempat penyelenggaraan.

Peluang terbuka setelah CEO Dorna SL, Carmelo Ezpelata, datang ke Jakarta untuk menanyakan ketertarikan Indonesia menjadi tuan rumah. Ia disambut oleh Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya dan Direktur Sirkuit Sentul Tinton Soeprapto.

"Pengembangan MotoGP di Indonesia sangat penting. Bukan cuma untuk pebalap, melainkan juga pabrikan motor," kata Ezpelata di Gedung Sapta Pesona, Rabu (20/5/2015).

"Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan Indonesia. Kami berharap, pemerintah bisa segera menindaklanjuti hal ini. Namun, kami sudah berjanji untuk bekerja keras sehingga hal ini terealisasi," tambah pria berkebangsaan Spanyol tersebut.

Sementara itu, Menpar menangkap adanya potensi keuntungan sangat besar dari penyelenggaraan MotoGP di Tanah Air. "Menurut perhitungan sementara, dalam empat hari berlangsungnya MotoGP, akan ada pengeluaran sekitar 91,73 juta dollar AS atau setara Rp 1,4 triliun," ujarnya.

Oleh karena itu, Menpar meminta adanya kerja sama lintas kementerian guna menyiapkan diri. Selanjutnya, dalam kurun waktu tiga bulan, pemerintah diharapkan sudah menandatangani MoU dengan Dorna, seraya menantikan perombakan Sirkuit Sentul.

Tinton pun antusias dengan wacana ini. Ia berjanji, dalam kurun waktu sebulan, pihaknya bakal merancang program-program agar Sirkuit Sentul memenuhi syarat. "Jika Sentul sudah menjadi grade A, semua kejuaraan internasional bisa digelar di sini," katanya.

Pada 1996 dan 1997, Sirkuit Sentul sudah pernah jadi tuan rumah Grand Prix. Mick Doohan (Australia) dan Tadayuki Okada (Jepang) jadi juara saat itu untuk kelas 500 cc.

Pemimpin klasemen sementara MotoGP 2015, Valentino Rossi, juga pernah merasakan balapan di Sentul. Dia memulai karier balap pada 1996 di kelas 125 cc, dan finis pada posisi ke-11 di Sentul. Tahun berikutnya, dia finis pada posisi pertama.

 sumber :

http://www.kaskus.co.id/thread/555d0dec5a516365658b456a/?ref=homelanding&med=hot_thread