Wednesday, May 27, 2015

Mengenang Gempa Tektonik 2006 di Yogyakarta dan Sekitarnya

Gempa bumi tektonik berkekuatan 5,9 skala Richter, Sabtu 27 Mei 2006 pukul 5.53 WIB telah meluluhlantakkan wilayah Kabupaten Bantul, Kota Yogyakarta, Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten Sleman, Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Magelang, Kabupaten Purworejo dan sekitarnya.
13696097752008760676
peta lokasi gempa tektonik 2006 (sumber: www.pu.go.id)
Data dari Satkorlak Penanggulangan Bencana Alam di Yogyakarta, hingga pukul 22.15 WIB, di hari pertama tercatat 2.986 orang dinyatakan tewas, puluhan ribu pasien dirawat di beberapa rumah sakit serta rumah penduduk/bangunan rusak berat, roboh rata-tanah dan porak poranda, belum dapat terhitung secara pasti.
Jumlah korban tewas diperkirakan masih akan bertambah, mengingat para korban yang luka berat, patah tulang akibat reruntuhan bangunan masih dirawat di rumah-rumah sakit. Sementara pihak rumah sakit yang berada di Kabupaten Bantul, Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman kewalahan dan tidak mampu lagi menampung pasien korban gempa.
Tidak sedikit pasien menempati lorong-lorong, bahkan dirawat di halaman-halaman rumah sakit, menyusul didirikan berbagai tenda darurat telah dijadikan tempat pasien korban gempa mendapat pertolongan.
Beberapa saat setelah gempa, listrik di semua tempat padam seketika, sambungan telepon terputus, termasuk penggunaan telepon selular macet total, tak berfungsi sehingga kontak ke luar daerah bencana sulit dilakukan. Komunikasi berhenti, sementara upaya pertolongan terhadap para korban terus berlangsung.
Di tengah para warga yang bersedih dan duka merenungi nasib keluarga yang menjadi korban, serta hancurnya harta benda, secara tiba-tiba muncul isu/rumor atau desas-desus bahwa segera datang tsunami.
Datangnya sebuah informasi yang tidak jelas sumbernya dan menyebar serentak dari mulut ke mulut, semakin membuat masyarakat menjadi panik, cemas serta bingung, sebagian besar mengajak sanak saudaranya mengungsi ke arah utara atau mencari tempat berlindung yang lebih tinggi dan aman. Kontan, jalan-jalan dari Bantul ke arah utara, yaitu Kota Yogyakarta, ke arah Sleman, Magelang macet dipenuhi kendaraan roda dua dan roda empat maupun pejalan kaki.
Beruntung bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitar yang masih berpola pikir rasional, mereka tidak goyah atas hembusan informasi tak bertanggung jawab tersebut. Para warga yang tetap bertahan ini memilih mencari tahu lewat sumber-sumber informasi yang bisa dipercaya. Satu-satunya jalan di tengah perasaan cemas dan gelisah, banyak pihak yang sedang dirundung duka mendalam, medium radio menjadi sarana komunikasi paling andal saat itu.
Adalah stasiun Radio Sonora FM, yang bermarkas di nDalem Tejokusuman Yogyakarta ternyata tetap on air dan secara simultan melakukan siaran sepanjang hari, melaporkan peristiwa gempa serta apa yang terjadi. Di saat yang sama, RRI sebenarnya juga sedang melakukan siaran, hanya saja mengingat stasiun radio siaran ini kurang komprehensif dalam meliput dan menyiarkan segala peristiwa tentang gempa bumi, selanjutnya cenderung diabaikan pendengar.
Dengan demikian, keandalan siaran yang dipancarluaskan Radio Sonora FM menjadi pilihan utama, bahkan lewat stasiun radio siaran ini persoalan berkait rumor/desas-desus tentang datangnya tsunami dapat ditepis sehingga membuat masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya lega.
Tersebarnya reporter Radio Sonora FM di hampir semua lokasi strategis wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitar, ditampilkannya informan serta tokoh-tokoh kunci (key person) baik tokoh formal maupun non-formal yang berhasil diwawancari dan disiarkan secara live, juga laporan langsung dari masyarakat semakin menambah kepercayaan pendengar untuk mengikuti siaran radio ini tanpa henti.
Malam pertama sesudah gempa, di tengah gelap gulita dan guyuran hujan deras malam hari, rasa panik masih mencekam karena gempa-gempa susulan, medium radio menjadi satu-satunya sarana untuk mengakses informasi yang dibutuhkan masyarakat di lokasi gempa.
Yogyakarta bersedih dan berduka! Demikian inti liputan yang diungkap media massa. Belum lagi aktivitas Gunung Merapi di wilayah utara mereda, disusul gempa tektonik di wilayah selatan yang justru membawa ribuan korban jiwa. Daerah yang paling parah akibat gempa tektonik adalah Kabupaten Bantul, karena berdekatan dengan episentrum (pusat gempa) yang berada di Samudera Indonesia.
Berdasarkan analisis Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), gempa tektonik berkekuatan 5,9 skala Richter berpusat di 8,2 LU, 110 BT, berada 37 kilometer selatan Yogyakarta di kedalaman 33 kilometer. Namun sumber lain menyebutkan gempa berkekuatan 6,3 skala Richter.
Akibat gempa yang mengguncang Yogyakarta dan sekitar, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengemukakan, Provinsi DIY kini dinyatakan dalam keadaan darurat selama lima hingga tujuh hari ke depan, prioritas difokuskan pada penanganan para korban gempa dengan baik.
“Ini keadaan darurat. Dalam kondisi darurat agar masyarakat hilang dari traumatik, menolong pasien terluka itu adalah prioritas. Mereka perlu disuplai melalui sistem distribusi makanan dan sebagainya yang perlu dikonsolidasikan,” ujarnya. Ditegaskan Sultan, penanganan pasien korban gempa harus didahulukan. Setelah itu baru memikirkan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam kunjungan di Yogyakarta bersama beberapa menteri, Sabtu (27/5) petang langsung menemui para pejabat DIY di Rumah Dinas Bupati Bantul, HM Idham Samawi. Presiden menaruh perhatian serius dan mengingatkan kepada Gubernur DIY dan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) serta para bupati dan walikota yang daerahnya terkena bencana gempa, agar menggunakan sumber dana yang ada untuk membantu korban bencana.
Dikatakan SBY, Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Alam sudah bekerja dan harus siap bertindak melakukan penanganan dan memberikan yang diperlukan, merawat korban yang luka-luka dan memakamkan yang meninggal, serta mengevakuasi yang belum tertolong. Kebutuhan medis diprioritaskan pengadaan obat-obatan dan tenaga paramedis.
Untuk tanggap darurat, Presiden meminta Gubernur DIY, walikota dan bupati yang daerahnya terkena bencana alam agar membantu sepenuhnya. “Besok (28/5) beberapa rumah sakit lapangan akan segera datang dari Jakarta,” kata SBY. Presiden berpesan kepada masyarakat agar tenang dan jangan panik. Sesuai informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), tidak bakal terjadi lagi gempa susulan yang kuat seperti terjadi Sabtu pukul 5.53 WIB lalu. Gempa susulan hanya terjadi dalam skala kecil.
SBY pun meminta kepada wartawan untuk menyebarluaskan informasi sebenar-benarnya kepada masyarakat supaya tetap tenang. Dalam kunjungannya, Presiden SBY sempat meninjau pasien korban gempa di rumah sakit serta mendatangi tenda-tenda pengungsi. Ikut dalam rombongan SBY sejumlah menteri, antara lain Menko Kesra Aburizal Bakrie, Mensos Bachtiar Chamsyah, Seskab Sudi Silalahi, Mendiknas Bambang Sudibyo, Menkes Siti Fadilah Supari, Mendagri Ma’ruf, Menko Polkam Widodo AS, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, serta KASAD Jenderal TNI Djoko Santoso.
Menurut juru bicara kepresidenan, Andi Mallarangeng, Presiden bersama sejumlah menteri untuk sementara waktu berkantor di Istana Presiden, Gedung Agung Yogyakarta guna memantau langsung penanganan korban gempa.
Beberapa gedung/bangunan rusak berat
Dari amatan langsung ke lokasi bencana, bangunan yang tampak mengalami kerusakan akibat gempa adalah Kampus STIE Kerja Sama di Jalan Parangtritis Yogyakarta, tembok/gedungnya rontok, Gedung BPKP yang letaknya juga di Jalan Parangtritis bangunan menjadi miring, rusak berat. Bandara Adisutjipto lumpuh setelah terminal penumpang domestik ambruk.
Selanjutnya diberitakan media bahwa gempa tektonik telah merusak benda cagar budaya (heritage) di antaranya Tembok Situs Tamansari, Bangsal Trajumas Keraton Yogyakarta, Kediaman GKR Pembayun- puteri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X, beberapa rumah pangeran dari Keraton Yogyakarta, Pojok Beteng Wetan, Pojok Beteng Kulon, Puro Pakualaman (Bangsal Sewotomo), Benteng Makam Panembahan Senopati, Monumen Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX (Pacak Suji, Kotagede), Candi Prambanan, Stasiun Prambanan, Masjid Pathok Negari, tak terkecuali makam raja-raja di Imogiri.
Di wilayah Klaten juga diwartakan kerusakan dialami Matahari Plaza berlantai 4 yang sebagian tembok retak dan jebol, Stadion Trikoyo temboknya roboh menutup bahu jalan. Di lokasi Candi Prambanan, empat candi yang mengalami kerusakan yaitu Candi Plaosan, Sojiwan, Brahma dan Siwa. Arca dan stupa yang berada di empat candi tersebut roboh. Candi Brahma yang berada di bagian barat mengalami rusak paling berat, pagar dan gapura candi juga mengalami kerusakan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta rombongan telah menyempatkan waktu untuk meninjau kompleks Candi Prambanan yang rusak akibat diguncang gempa.
Hingga hari kedua (28/5) setelah gempa, korban tewas mencapai 4.374 orang, jumlah ini diperkirakan bertambah mengingat evakuasi masih terus dilakukan. Korban tewas dari Bantul ternyata paling besar yaitu 3.080 orang, Klaten 844 orang, Yogyakarta 317 orang, Sleman 76 orang, Gunungkidul 46 orang, Kulonprogo 7 orang, Boyolali 4 orang. Sementara korban luka berat dan ringan di seluruh lokasi gempa diperkirakan lebih 20 ribu orang.
Di Bantul tercatat luka berat 2.700 orang dan luka ringan 3.100 orang. Sedangkan di Klaten luka berat 552 orang, luka ringan 1.800 orang, semua korban luka berat dan ringan kini mendapat perawatan di rumah sakit terdekat, bahkan mengingat daya tampung rumah sakit terbatas maka sebagian pasien ada yang dikirim ke rumah sakit di Solo, Boyolali, Semarang, Magelang, Purworejo, Kebumen, Purwokerto serta daerah lain. Jumlah kerugian materi di seluruh lokasi gempa belum bisa dipastikan, diperkirakan mencapai trilyunan rupiah.
Dari on the spot saya ke lokasi gempa di Bantul (28-29 Juni 2006), khususnya di Kecamatan Sewon, Jetis, Pleret, Imogiri, Pundong, Kretek hampir semua korban gempa mulai mendapat pertolongan, kecuali yang berada di pelosok masih ditangani secara sederhana. Setidaknya, itu semua berkat gotong royong antarwarga untuk menemukenali sanak saudara di kampung masing-masing. Di Karangtalun (Imogiri) seorang dinyatakan masih belum ditemukan dan diperkirakan masih berada di antara reruntuhan tembok/bangunan rumah yang roboh-rata dengan tanah.
Masalah penanganan korban gempa serta bantuan pangan dan obat-obatan selanjutnya mulai dipusatkan di masing-masing lokasi dengan didirikannya posko induk. Demikian halnya jumlah bantuan dari pihak-pihak lain yang yang perduli korban, nampak terus berlangsung.
Bantuan sandang-pangan yang bersifat personal serta bantuan dari lembaga-lembaga swasta (LSM) lebih cepat diterima dan dimanfaatkan oleh mereka yang membutuhkan. Sedangkan bantuan lewat jalur birokrasi seperti dikatakan seorang korban luka ringan yang rumahnya roboh di Dusun Ponggok I, Jetis, Bantul ketika mengurus permintaan tenda harus pulang dengan tangan hampa, ia ditolak karena tidak membawa kartu identitas atau Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Dalam amatan penulis, distribusi bantuan akomodasi serta logistik melalui jalur formal nampak belum berjalan optimal, belum merata memenuhi kebutuhan para korban seperti diharapkan. Khususnya di daerah-daerah yang tidak terjangkau kendaraan roda empat dan berada di pelosok dusun, hanya memperoleh bantuan dalam jumlah sangat terbatas.
Kebutuhan tenda, selimut, pakaian layak hingga lampu senter serta lampu penerangan untuk setiap tenda pengungsi di malam hari belum juga tercukupi. Sejak hari pertama setelah gempa, di mana jalur-jalur komunikasi terputus, semua telepon seluler belum berfungsi optimal sehingga untuk mengetahui lokasi mana yang sangat membutuhkan bantuan menjadi sulit dipetakan.
Terlebih setiap malam selalu diguyur hujan deras, kondisi lokasi korban gempa cukup gelap, masyarakat korban gempa yang masih diselimuti rasa panik/trauma dituntut untuk survival, sebagian warga yang rumahnya hancur berantakan, terpaksa tidur berkelompok di tempat-tempat pengungsian ala kadarnya sambil menjaga lingkungan dan berdekatan dengan puing-puing atau reruntuhan rumah masing-masing.
Hari ketiga (29/5) pascagempa, korban tewas di DIY dan Jateng terus bertambah. Hingga pukul 23.00 wib tercatat korban tewas sebanyak 5.162 orang. Berdasarkan sumber Pemprov dan Satkorlak DIY, korban tewas berasal dari Bantul 3.082 orang, Sleman 184 orang, Kota Yogyakarta 151 orang, Gunungkidul 58 orang, Kulonprogo 15 orang, sedangkan sebanyak 1.672 orang berasal dari berbagai kota di Jateng (Klaten, Boyolali, Sokoharjo dan sekitarnya).
Sedangkan jumlah kerugian material yang berhasil dirilis Pemprov DIY yaitu mencapai Rp 2,8 triyun. Ini masih dalam jumlah sementara, diperkirakan kerugian akan bertambah karena data yang masuk masih sebagian, belum semua daerah korban gempa melaporkan data kerusakan seperti tempat ibadah, sekolah, serta bangunan pemerintah.
Kerugian paling besar akibat gempa tektonik adalah di Kabupaten Bantul. Berdasarkan laporan dari Satkorlak DIY (29/5) tercatat sebanyak 33.616 rumah penduduk yang rusak parah, sebanyak 19.593 ada di DIY, sedangkan sisanya yaitu 14.023 berada di wilayah sebagian Jateng. Sampai hari ketiga, Tim SAR RI dan relawan berbagai lembaga serta tim dari negara-negara asing masih terus melakukan evakuasi.
Sampai hari ketiga pascagempa, hilir-mudik mobil ambulan dari berbagai lembaga terus menelusuri daerah korban gempa menolong korban, termasuk helikopter Badan SAR Nasional (Basarnas) mengangkut korban sebagai langkah evakuasi ke Mini Hospital, yang sudah dipersiapkan di kompleks Gedung Olahraga UNY, Kampus Karangmalang, Yogyakarta.
Lambatnya distribusi bantuan kepada para pengungsi korban gempa segera disikapi Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Gubernur mengambil langkah taktis dengan memutuskan jalur distribusi tidak lagi melalui Satuan Pelaksana (Satlak) yang berpusat di Pemkab Bantul.
Bantuan langsung didistribusikan ke masing-masing kecamatan. Dari kecamatan, bantuan tersebut didistribusikan ke desa dan dusun-dusun korban bencana. “Kita putuskan bantuan tidak lagi melalui Satlak. Semua bantuan dari provinsi langsung ke kecamatan-kecamatan,” jelasnya.
Gubernur yang juga sebagai Ketua Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) DIY mengatakan, dalam kondisi tanggap darurat, pihaknya sangat berharap agar para camat dan lurah yang daerahnya terkena bencana bertindak proaktif. Sebab merekalah yang paham dan tahu detail lokasi yang menjadi korban bencana.
Kepada media massa atau wartawan, Sultan minta untuk menginformasikan jika memang masih ada wilayah yang belum tersentuh penanganan atau bantuan, atau masih sangat minim bantuan yang diterima agar segera disampaikan ke Satkorlak Penanggulangan Bencana DIY.
Gubernur juga mengeluarkan pengumuman dan seruan yang meminta seluruh PNS segera kembali bekerja agar pelayanan masyarakat bisa berjalan optimal. Mereka yang mengurus keluarga karena rumahnya rusak atau ada anggota keluarga yang hilang/meninggal atau dirawat di rumah sakit diimbau segera melapor kepada atasan langsung.
Menanggapi munculnya isu-isu yang bisa menyesatkan pascagempa, seperti bakal segera datang gempa yang lebih besar lagi, menurut Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X hanyalah isu/rumor yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Sebab kata Sultan, berdasarkan kajian teknis yang dilakukan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), meski masih ada gempa kecil susulan, namun keadaan sudah akan kembali normal.
Seperti dikatakan Kepala BMG Yogyakarta, Jaya Murjaya bahwa menurut prediksinya, dalam 11 hari lagi akan mendekati stabil meski intensitasnya terus mengalami penurunan namun belum bisa mencapai o (nol). Masyarakat tidak perlu khawatir, berdasarkan data masih ada gempa susulan skala kecil. Atas dasar itu, Sri Sultan meminta kepada masyarakat untuk tidak lagi tidur di luar rumah, karena dikhawatirkan justru mudah terkena serangan penyakit.
Sementara kepada para pedagang eceran/grosir dan pedagang di pasar-pasar serta penyedia jasa lain yang masih layak buka, sedapat mungkin supaya mengusahakan untuk bisa beroperasi atau bekerja kembali, agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan.
Diharapkan pula kepada seluruh warga juga dapat menerima musibah sebagai cobaan Tuhan Yang Maha Kuasa, agar semua eling lan waspada, juga agar mampu bangkit kembali menunaikan tugas dan kewajiban masing-masing. Kegiatan masyarakat yang bersifat keramaian agar menyesuaikan dengan kondisi masyarakat yang penuh keperihatinan.
13696125841996728303
peta lokasi korban gempa tektonik 2006 (sumber: www.pu.go.id)
Empat hari pascagempa, berdasarkan laporan Satlak Bantul, Satkorlak DIY dan Jateng serta berbagai rumah sakit tercatat korban tewas mencapai 5.737 orang. Jumlah itu terdiri atas korban dari Bantul 3.481 orang, Sleman 326 0rang, Kota Yogyakarta 163 orang, Gunungkidul 69 orang, Kulonprogo 26 orang. Selebihnya yakni 1.672 korban tewas berasal dari daerah Jawa Tengah. Di Kabupaten Klaten, korban tewas hingga hari ke-empat tercatat 1.044 orang dan korban luka sebanyak 8.904 orang.
Tiga kecamatan paling parah dan banyak menderita akibat gempa tektonik di Kabupaten Klaten adalah Kecamatan Gantiwarno, Wedi dan Prambanan. Dalam kunjungannya di Posko Kecamatan Gantiwarno dan Wedi, Klaten (30/5), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengemukakan, pemerintah terlebih dulu mengutamakan pemulihan kesehatan, pendidikan, dan mengobati warga yang masih mengalami luka-luka. Kebutuhan logistik harus terpenuhi, jika memang masih ada kekurangan akan dikerahkan bantuan. Diharapkan bantuan logistik sebaiknya langsung diserahkan ke desa atau kelurahan, berlanjut ke RW/RT dan jangan dibelokkan.
Di hari keempat itu pula, Bandara Adisumarmo (Solo) mulai dipenuhi pesawat-pesawat asing silih berganti mendarat, siap memberikan pertolongan terhadap korban gempa. Demikian halnya sejak Selasa (30/5) bantuan asing di Yogyakarta terus berdatangan, bantuan personel militer Amerika Serikat tiba di Bandara Adisutjipto (30/5) pukul 10.00 wib dengan menggunakan 7 pesawat Hercules. Selain personel, juga membantu sejumlah peralatan untuk melakukan evakuasi dan pertolongan lain kepada pengungsi.
Bantuan yang dikoordinasikan oleh Deplu dan Departemen Pertahanan AS (PACOM) melalui Deplu AS ini membawa 100 personel yang dikerahkan dari unit Angkatan Udara AS di Guam, membawa peralatan bedah, perawatan gigi, X-ray, peralatan laboratorium dan kebutuhan medis lainnya. Direktur PACOM, Brigjen Dana Atkins menyebutkan, tujuan utama kedatangan PACOM adalah mengurangi angka kematian dan meringankan penderitaan para korban gempa.
Sedangkan dari World Food Programm (WFP), melalui juru bicara Barry Came mengatakan, pihaknya mencadangkan bantuan pangan paling tidak untuk jangka waktu dua bulan bagi korban gempa di Yogyakarta. Untuk bulan pertama, bantuan pangan akan diberikan kepada 80.000 korban gempa dan bulan kedua akan menjangkau 50.000 korban.
Sesudah itu program akan ditinjau dan tahap selanjutnya tergantung kebutuhan. WFP mengakui bahwa masih banyak ketimpangan dalam upaya pemberian bantuan untuk menolong korban gempa. Karena itu pihaknya mengisi bidang-bidang yang perlu penanganan segera, termasuk pangan, kesehatan, shelter dan perlindungan anak. WFP prihatin masih banyak korban gempa yang tidak mendapatkan makanan selama berhari-hari dan tidak memperoleh pelayanan kesehatan.
Pada bagian lain, Manager Administrasi dan Keuangan Angkasa Pura I Yogyakarta, Aryadi menyebutkan, tim medis dari negara-negara sahabat terus berdatangan, tim medis dari Jepang beranggotakan 25 orang langsung diterjunkan di depan Rumah Sakit Muhammadiyah Bantul dilengkapi peralatan kesehatan ultrasonografi dan X-ray, tim medis dari Cina tiba di Yogyakarta (30/5) terdiri dari 40 dokter.
Sejak Senin (29/5) juga sudah mendarat 5 pesawat Hercules yang datang dari Singapura dan satu Hercules PBB dari Amerika Serikat yang berangkat dari pangkalannya, satu Hercules dari Malaysia. Pesawat-pesawat Hercules tersebut membawa sejumlah bantuan, berupa tim medis, obat-obatan dan makanan. Di samping juga membawa tim penjejak bersama puluhan anjing pelacak, ambulan, alat-alat berat juga kendaraan operasional seperti truk dan kendaraan lain.
Rabu (31/5), hari kelima pascagempa, para korban mulai frustrasi. Terutama kebutuhan pangan yang mulai menipis dan tersendatnya bantuan logistik, bahkan ada daerah yang belum mendapat bantuan, wakil mereka segera mendatangi Posko Satkorlak Provinsi DIY.
Jumlahnya sekitar ratusan orang berasal dari Kabupaten Bantul, Sleman dan Kota Yogyakarta, dengan penuh emosi meminta segera dikirim logistik. “Jangan kami diminta untuk terus bersabar. Kami sudah terancam kelaparan. Semua sudah ludes terkena gempa,” kata Warsono dari Sleman. Tak lama berselang, begitu puluhan truk pengangkut beras datang di Posko Satkorlak di Kompleks Kepatihan, massa tersebut langsung berlomba naik ke bak-bak truk untuk berebut mengambil beras. Para petugas Satkorlak kewalahan menghadapi warga yang emosional tersebut.
Hingga hari kelima (31/5), Pemprov DIY terus melakukan pendataan korban dan kerugian akibat gempa. Tidak ada perubahan yang signifikan mengenai jumlah korban yang meninggal, sampai dengan pukul 23.00 wib, di wilayah DIY tercatat korban tewas bertambah 4 orang berdasar data Satkorlak Provinsi DIY.
Sejak hari Rabu, tanggal 31 Mei 2006, bantuan dana bagi keluarga korban gempa tektonik sudah mulai cair. Pemerintah merealisasikan bantuan uang tunai kepada para korban di Kabupaten Bantul. Kali pertama bantuan uang tunai tersebut diberikan kepada warga yang bertempat tinggal di Kelurahan Sabdodadi dan Trirenggo. Para warga menerima uang makan Rp 3.000/jiwa perhari, uang pakaian Rp 100.000/jiwa (sekali diberikan), uang perabot rumah tangga Rp 100.000/kepala keluarga.
Penyerahan bantuan senilai Rp 1 milyar secara simbolis dilakukan Menko Kesra Aburizal Bakrie kepada Bupati Bantul HM Idham Samawi di Balai Desa Sabdodadi. “Bantuan uang makan itu kita berikan selama dalam pengungsian, uang perabot dan pakaian kita berikan sekali,” ujar Bakrie.
Ditambahkan pula, uang bantuan dari pemerintah pusat sudah ada di Yogyakarta. Kini tinggal kecepatan para kepala desa untuk mendata jumlah warga yang menjadi korban bencana gempa. Menko Kesra juga meminta seluruh aparatur yang menangani bencana jangan mempersulit birokrasi, jangan ada yang menyunat uang bantuan, rakyat sangat membutuhkan.
Selain bantuan uang, pemerintah juga menyediakan dana rekonstruksi rumah dan bangunan. Setiap rumah yang rusak berat mendapat jatah maksimal Rp 30 juta, rusak sedang/ringan Rp 10 juta, bantuan ini akan diberikan setelah selama satu bulan (Juni) dilakukan verifikasi pendataan atas rumah yang terkena gempa oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Satlak. Pemerintah juga akan menyantuni pembangunan sarana MCK sebesar Rp 500 ribu untuk 50 orang. Dana bantuan untuk rumah itu dihitung berdasarkan swakelola dengan tingkat kerusakannya. Sementara untuk bangunan umum seperti sekolah, tempat ibadah dan lainnya belum ditentukan.
Hingga 1 Juni 2006, data sementara yang dilansir Departemen Sosial RI, tercatat korban tewas akibat gempa bumi di Yogyakarta dan sekitarnya mencapai 6.234 orang, sedangkan korban luka berat mencapai 33.231 orang, luka ringan 12.917 orang. Rincian korban tewas di Bantul berjumlah 3.968 orang, Sleman 326 orang, Yogyakarta 165 orang, Gunungkidul 69 orang, Kulonprogo 26 orang. Total jumlah korban tewas di DIY adalah 4.554 orang. Sedangkan di Jawa Tengah tercatat korban tewas 1.680 orang, dengan rincian Klaten 1.668 orang, Purworejo 5 orang, Boyolali 3 orang, Magelang 3 orang, Sukoharjo 1 orang.
Korban luka berat di Bantul berjumlah 13.989 orang, Sleman 1.146 orang, Gunungkidul 1034 orang, Kulonprogo 252 orang, Kota Yogyakarta 224 orang. Total jumlah korban luka berat di DIY yakni 16.645 orang. Sedangkan di Kalaten korban luka berat mencapai 16.496 orang, Sukoharjo 67 orang, Boyolali 23 orang, Magelang dan Purworejo data belum masuk. Total jumlah korban luka berat untuk sementara di Jateng ini mencapai 16.586.
Korban luka ringan di Bantul sebanyak 8.612 orang, Sleman 4.075 orang, Kulonprogo 171 orang, Kota Yogyakarta 59 orang, Gunungkidul data belum masuk. Total korban luka ringan di DIY mencapai 12.917 orang. Untuk korban luka ringan di Jateng masih dalam pendataan.
Mengenai jumlah kerusakan rumah/bangunan dipaparkan jumlahnya mencapai 233.237 unit. Dari jumlah itu dapat dirinci melalui tiga kategori yaitu kategori rata dengan tanah berjumlah 67.505 unit, rumah rusak ringan sejumlah 93.599 unit, dan rusak berat/roboh mencapai 72.133 unit. Dibeberkan pula, rumah rusak rata dengan tanah di Bantul ada 22.123 unit, di Sleman 4.972 unit, Gunungkidul 1.404 unit, Kota Yogyakarta 2.016 unit dan Kulonprogo 1.470 unit. Total rumah yang rusak rata-tanah di DIY mencapai 31.985 unit.
Rumah rusak berat atau roboh di Bantul sebanyak 15.403 unit, Sleman 14.765 unit, Gunungkidul 6.640 unit, Kota Yogyakarta 3.727 unit, Kulonprogo 3.024 unit. Total jumlah rumah/bangunan roboh di DIY sementara berjumlah 43.559 unit. Sedangkan rumah rusak ringan jumlah totalnya mencapai 61.691 unit, terinci yakni di Bantul 12.965 unit, Sleman 29.278 unit, Gunungkidul 13.685 unit, Kota Yogyakarta 1.108 unit, Kulonprogo 4.655 unit.
Di wilayah Jateng, rumah rata-tanah mencapai 35.520 unit, terinci di Klaten 33.916 unit, Sukoharjo 1.604 unit, Boyolali, Purworejo dan Magelang data belum masuk. Untuk rumah rusak berat/roboh di Klaten berjumlah 28.554 unit, data dari kota lainnya belum masuk. Rumah yang mengalami rusak ringan di Klaten sebanyak 31.908 unit, data dari kota lainnya belum masuk. Tercatat pula, rumah ibadah di DIY dan Jateng yang mengalami kerusakan sebanyak 36 unit, kerusakan bangunan sekolah tercatat 23 unit, serta bangunan pemerintah mencapai 294 unit.
Setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meninggalkan kantornya di Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta dan kembali ke Jakarta, Wakil Presiden Jusuf Kalla (1/6) menyusul menggantikannya. Dalam kunjungan ke Provinsi DIY dan Jateng mengingatkan, jangan sekali-sekali mempersulit warga yang sedang meminta bantuan, apalagi gara-gara tidak membawa KTP. “Nanti kalau ada yang minta bantuan, tidak perlu menunjukkan KTP lagi. Orang kesusahan jangan dipersulit,” tegasnya di Rumah Dinas Bupati Bantul.
Menindaklanjuti program rekonstruksi pascagempa di wilayah Provinsi DIY dan sebagian wilayah Jateng, pemerintah akan mengalokasikan dana Rp 30 juta untuk korban gempa yang rumahnya roboh atau rusak berat. Tanggal 10 Juni semua data lengkap kerusakan rumah harus disampaikan ke Satkorlak.
Menurut Wakil Koordinator Operasi II Bakornas Penanganan Bencana, Budi Atmadji (3/6) di Kompleks Kepatihan, bahwa keputusan itu belum final dan akan dimatangkan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dijelaskan pula, bantuan sebesar Rp 30 juta hanya untuk rumah rusak berat atau roboh dengan hitungan Rp 750.000/m3 termasuk kontribusi kepada lingkungan Rp 1 juta. Rumah rusak sedang dalam arti dinding dan rangka masih ada dibantu Rp 20 juta/rumah dengan hitungan Rp 500.000/m3 sudah termasuk Rp 500.000/rumah untuk kontribusi lingkungan.
Sedangkan untuk rumah rusak ringan dibantu Rp 10 juta/rumah dengan hitungan Rp 250.000/m3 termasuk kontribusi lingkungan Rp 500.000. Pelaksanaan pembangunan rumah warga korban gempa sepenuhnya dilakukan secara mandiri oleh masyarakat dengan bimbingan teknis dari Departemen PU atau pemerintah desa setempat. Selain itu, para korban gempa meninggal dunia juga akan mendapatkan santunan Rp 2 juta/ahli waris sebagai tanda duka dari pemerintah.
Pemerintah juga memberikan bantuan beras 10 kg/orang perbulan, lauk pauk Rp 3000/orang perhari, Rp 100.000/orang untuk beli pakaian dan Rp 100.000/keluarga untuk beli peralatan rumah tangga. Bantuan beli pakaian dan alat rumah tangga diberikan satu kali.
Semua program tersebut sedang digodok dan akan difinalkan Senin (5/6) mendatang oleh Wapres Jusuf Kalla agar secara teknis aman dan dapat diterima masyarakat serta mampu menggerakkan roda ekonomi di daerah bencana.
Berkait hal itu, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan, detail rekonstruksi pascagempa akan dibahas minggu ketiga. Yang pasti rekonstruksi rumah korban warga dikerjakan masyarakat sendiri. “Pemerintah membantu dana. Harga maksimum sekian, tapi tolong dikerjakan masyarakat sendiri. Tidak ada pemborong dengan harapan ekonomi setempat tumbuh. Kalau ada pemborong, sing untung pemborong ning ekonomi setempat tidak tumbuh,” tegasnya.
Di tengah trauma dan perasaan panik yang masih melekat pada sebagian besar warga di Provinsi DIY dan Jateng, serta masih munculnya gempa-gempa susulan, kemudian kembali santer diisukan/rumor akan terjadi gempa dahsyat, berkekuatan lebih besar yaitu pada tanggal 07 Juni 2006.
Isu/rumor yang telah beberapa hari beredar melalui pesan pendek (sms) atau media online dan telah menyebarluas dari mulut ke mulut tanpa diketahui secara pasti sumbernya, bisa semakin meresahkan warga. Sebagai salah satu contoh isu/rumor dapat dipetik dari e-mail massal beranting yang juga pernah ditujukan kepada alamat saya berbunyi sebagai berikut:
From: Oky
To: HRD
Sent: Monday, June 05, 2006 2:36 PM
Subject: bsk akan terjadi tsunami
Menurut CNN, disiarkan 3 hari yang lalu bahwa lempeng bumi di australia sedang bergerak ke utara menuju asia.diperkirakan bisa bertubrukan dengan lempeng bumi di selatan pulau jawa.Diperkirakan 11 hari setelah gempa jogja, atau rabu besok(7 juni) akan ada gempa dahsyat dan memungkinkan terjadinya tsunami. Mohon doanya n plis forward ke temen-temen laen, jangan sampai putus di tangan kamu

Menanggapi menyebarluasnya isu/rumor tersebut, Tim Tanggap Darurat, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) mengatakan, gempa susulan yang terjadi sampai Kamis (2/6) pukul 23.45 wib dengan intensitas III Skala MMI magnitudo atau kekuatan gempa 3,5 skala Richter (SR) dan dirasakan sebagian warga di Provinsi DIY, merupakan gempa yang tidak berbahaya. “Gempa ini tidak berbahaya,” kata Dr Surono dari Tim Posko DESDM di Kepatihan, Yogyakarta. Sebab berdasar pengamatan sudah terjadi penurunan jumlah dan intensitas gempa bumi susulan setelah terjadi gempa utama (27/5) lalu.
Menurutnya, kecil kemungkinan terjadi gempa bumi susulan dengan magnitudo yang sama atau lebih besar dari gempa 27 Mei 2006 silam yang berkekuatan 5,9 SR. “Oleh karena itu, masyarakat harap tenang, tidak mempercayai isu-isu/rumor yang menyebutkan akan terjadi gempa bumi dengan magnitudo lebih besar. Masyarakat dapat menghuni kembali rumah masing-masing yang tidak mengalami kerusakan.
Hal sama dikatakan ahli geologi UPN “Veteran” Yogyakarta, Dr Heru Sigit dalam menepis isu/rumor akan terjadi gempa lebih besar dalam waktu dekat ini. Menurutnya, gempa bumi dengan kekuatan lebih dari gempa yang terjadi Sabtu (27/5) lalu tidak akan terjadi lagi di wilayah DIY dalam kurun waktu satu hingga tiga tahun ke depan.
Penduduk aman menempati kembali rumah-rumah yang masih utuh atau hanya mengalami kerusakan ringan. Heru yakin tidak akan terjadi gempa lebih besar lagi di Yogyakarta dalam waktu dekat. Posisi lempeng benua dan samudera yang aktif bergerak dan menyebabkan gempa, telah mencapai keadaan seimbang hingga satu sampai tiga tahun. Sebagian energi yang tersisa sudah dilepaskan di tempat lain dan trend-nya sudah menurun.
Berdasarkan cacatan gempa yang pernah terjadi, gempa besar akan terjadi satu hingga tiga tahun ke depan tetapi tidak bisa dipastikan terjadi di Yogyakarta, melainkan bisa dimana pun di daerah patahan di seluruh dunia. Gempa berkekuatan 5,9 skala Richter biasanya tidak menimbulkan kerusakan sehebat dampak gempa Yogyakarta dan sebagian daerah Jateng seperti yang terjadi sekarang. Gempa Sabtu lalu itu dirembetkan sesar lama yang sebetulnya sudah tidak aktif. Sesar memanjang sesuai aliran Sungai Opak dan berlanjut ke arah timur laut sampai wilayah Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, Jateng.
Pada bagian lain, dalam mengatasi persoalan pendidikan pascagempa, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DIY, Drs Sugito Msi menyatakan, sekolah darurat dengan tenda direncana didirikan di setiap sekolah yang mengalami kerusakan. Jumlahnya disesuaikan dengan jumlah sekolah yang rusak, kapasitas sesuai jumlah siswa.
Sedangkan sekolah yang berdekatan dengan sekolah lain yang masih bagus dan aman, digabung melaksanakan pendidikan bersama. Saat ini dicarikan tenda sesuai jumlah siswa. Langkah awal, akan menyembuhkan trauma guru dan siswa korban gempa.
Menurutnya, mengenai rencana pembangunan sekolah ini sudah dibicarakan dengan UNICEF, Departemen Pendidikan Nasional, Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota. Perencanaan sedang digodok sampai final, karena memang harus secepatnya diselesaikan.
Begitu juga santunan guru dan siswa yang meninggal. Rencananya, pemerintah pusat, provinsi dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) siap membantu. Berdasarkan data Posko Gempa Bumi, Dinas Pendidikan DIY per 1 Juni 2006 pukul 09.00 wib, jumlah bangunan sekolah yang rusak mencapai 1.470 sekolah, baik SLB, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK termasuk Perguruan Tinggi. Sedangkan jumlah korban mencapai 222 orang terdiri dari 108 meninggal meliputi 24 guru, 2 karyawan, dan 82 siswa. Luka berat tercatat 82 siswa, dan 34 luka ringan.
Sementara itu di Klaten, kegiatan belajar mengajar di SMP 1 Prambanan dan SMP 2 Gantiwarno Klaten, mulai Kamis (1/6) telah dimulai kelas-kelas tenda yang dibangun Yayasan Sampoerna Foundation (YSF). Meski dari 2 tenda hanya bisa dilaksanakan kegiatan belajar mengajar untuk 4 kelas, itu pun tidak utuh diikuti peserta didik. Namun sekolah yang semula memiliki 18 kelas dengan 716 siswa itu diselenggarakan dalam 2 shift.
Kegiatan belajar mengajar yang baru kali pertama dilaksanakan pascagempa dan dilangsungkan di tengah kekhawatiran gempa susulan, hanya diselenggarakan sekitar 2 jam. Sekitar pukul 11.00 wib, suasana kelas tenda di SMP 1 Prambanan tersebut sudah lengang, karena kelas telah bubar.
Communication Director Sampoerna Foundation, Sapto Handoyo Sakti mengemukakan, pihaknya memberikan fokus perhatian pascabencana ini untuk jangka panjang, utamanya di bidang pendidikan. Kami memilih fokus pendidikan memang menjadi concern kegiatan selama ini. Karena itulah Sampoerna Foundation (SF) bekerjasama dengan NGO Internasional sedang mengupayakan penghilangan trauma dengan mengajak anak kembali ke sekolah.
Diakui, hal ini bukan merupakan pekerjaan gampang. Bukan hanya karena sekolah yang rusak, namun juga kondisi psikologis siswa yang belum pulih. Kondisi SMP 1 Prambanan Klaten rusak berat, 30% papan tulis dan 50% meja kursi masih bisa dipergunakan sehingga dimanfaatkan untuk kelas tenda. Selain tambahan tenda besar untuk kelas, jelas Sapto Handoyo, siswa memerlukan buku pelajaran tahun ajaran 2006/2007 dan buku tulis bagi siswa dibutuhkan untuk belajar, sementara rumah mereka hancur.
Adanya duplikasi dalam laporan dan pencatatan menyebabkan data jumlah korban meninggal dan luka-luka akibat gempa tektonik di wilayah DIY dan sebagian wilayah Jateng simpang siur. Pemerintah, sejak Jum’at (2/6) akhirnya menghentikan sementara pencatatan korban dan melakukan verifikasi data untuk mendapatkan kepastian.
Kahumas Departemen Sosial (Depsos), Heri Kris Sritanto menjelaskan, terjadi perbedaan jumlah korban antara data yang dikeluarkan Depsos dengan data yang dikeluarkan Satlak di tingkat kabupaten. Duplikasi ini dimungkinkan terjadi karena ada masyarakat yang telah melaporkan ke Posko tentang jumlah korban yang meninggal di suatu tempat. Setelah itu, kamar jenazah juga melaporkan korban yang sama.
Berkait hal tersebut Depsos menghentikan hitungan dan akan berkoordinasi dengan Bakornas, sebagai satu-satunya sumber yang memiliki kewenangan untuk merilis jumlah korban. Data jumlah korban nantinya dikaitkan dengan pengaturan santunan yang akan diberikan kepada para korban.
Data sampai Jum’at (2/6) berdasarkan penghitungan Posko Satlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsi Pemprov DIY, tercatat korban tewas di seluruh DIY sebanyak 4.039 orang. Di Kabupaten Bantul korban tewas sebanyak 3.561 orang, Kabupaten Sleman 215 orang, Kota Yogyakarta 163, Kabupaten Kulonprogo 21, dan Kabupaten Gunungkidul 79 orang. Sedangkan korban luka berat dan ringan di seluruh DIY sebanyak 15.181 orang.
Sementara Posko Satlak Penanggulangan Bencana Pemkab Klaten menyebutkan jumlah korban meninggal akibat gempa di Kabupaten Klaten sebanyak 983 orang, sedangkan korban luka mencapai 18.286 orang. Sedangkan kerusakan rumah sebanyak 40.904 unit. Di Kabupaten Boyolali dilaporkan jumlah keseluruhan rumah rusak tercatat sebanyak 1.711 unit, terdiri rusak berat 696 unit, roboh 307 unit dan rusak ringan 708 unit.
Di tengah repotnya warga korban gempa mulai berbenah membersihkan puing-puing dan sisa reruntuhan rumahnya yang porak-poranda, sebagian besar penerangan listrik di lokasi-lokasi korban gempa belum menyala, lagi-lagi muncul isu/rumor penjarahan dan pencurian. Informasi yang menyebar dan terlanjur masuk ke telinga para korban gempa ini menggugah sikap resisten para warga korban gempa.
Dari amatan ke beberapa lokasi, khususnya di beberapa dusun di wilayah Kecamatan Pleret, Imogiri, Jetis, Sewon, Kasihan, bahkan di Kota Yogyakarta di pintu-pintu masuk jalan utama/gang perkampungan dijaga ketat, jalan-jalan kampung yang diperkirakan menjadi jalur pintas “tamu tak diundang” segera ditutup menjelang petang.
Setiap malam, banyak masyarakat yang berusia remaja dan dewasa berjaga-jaga untuk mengamankan kampung masing-masing, lengkap dengan senjata tradisionalnya. “Setiap malam kami sekarang melakukan pengamanan. Kampung-kampung lain juga begitu,” jelas Muchyidin di Desa Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul.
Penjagaan dilakukan bersamaan sejak munculnya desas-desus akan terjadi gempa lebih dahsyat. “Biasanya muncul segerombolan penjarah. Ini sudah diakui oleh banyak desa,” tambahnya. Dikatakan pula, modus yang digunakan para penjarah itu, menurut banyak pihak, ada berbagai macam. Ada yang menggunakan mobil boks dengan spanduk bertuliskan “relawan.” Ada pula yang berlagak sebagai tim survei dari calon penyumbang.
Menanggapi kondisi tersebut, Kapolres Bantul, AKBP Drs Dedy Munazat Msi menegaskan, isu penjarahan dan pencurian tidak benar, berita itu dihembuskan oleh orang-orang tak bertanggung jawab, saya minta masyarakat tetap tenang. Sementara warga Pandansimo, Srandakan, Busam, menuturkan penjarahan pernah terjadi saat warga meninggalkan rumah karena panik ketika beredar isu/rumor tsunami beberapa saat setelah terjadi gempa (27/5) lalu. Sebanyak 3 sepeda motor saat itu hilang dicuri.
Di Klaten, Kapolwil Surakarta Kombes Pol Drs Yotje Mende mengungkapkan, selama ini pihaknya sudah dua kali menerima laporan adanya aksi pencurian dan penjarahan di lokasi bencana gempa. Dua laporan pencurian berasal dari Kragilan, Gantiwarno dan Wedi. “Data mengenai adanya pencurian dan penjarahan di lokasi bencana masih simpang siur. Selama ini kami dua kali menerima laporan dan langsung melakukan cek ke lapangan, ternyata tidak ada,” jelasnya.
Selanjutnya guna meningkatkan pengamanan saat ini dilakukan penjagaan di setiap tenda pengungsi oleh Satlak dan Satkorlak, selain permintaan Kapolwil agar masyarakat menggiatkan kembali Siskamling. Yotje Mende mengimbau masyarakat tetap waspada karena disinyalir ada pihak tertentu sengaja mengambil kesempatan dalam situasi ini.
Pangdam IV Diponegoro, Mayjen TNI Sunarso juga menegaskan, sampai saat ini tidak ada penjarahan terhadap harta benda milik korban gempa di DIY maupun Jateng, melainkan hanya pencegatan distribusi bantuan di jalan yang dilakukan sekelompok orang yang memang butuh bantuan terutama bahan makanan. Berkait dengan pengamanan pascagempa, Pangdam meminta agar TNI/Polri di wilayahnya terus melakukan patroli secara rutin.
Hingga hari keenam dan ketujuh pasca gempa, mengenai bantuan pangan dan obat-obatan serta layanan kesehatan sudah hampir merata menjangkau seluruh wilayah korban gempa. Di titik-titik strategis telah didirikan rumah sakit lapangan atau pos-pos layanan kesehatan bantuan luar negeri, seperti tim medis dari Jepang telah mengambil lokasi kecamatan Prambanan dan Berbah.
Tim ini beranggotakan 120 orang (dokter dan paramedis) yang dipimpin Hoyabuchi dibagi dalam tiga yaitu 1 tim stasioner di Daleman, Sumberharjo, Prambanan, 1 tim keliling melakukan penyisiran di kecamatan Prambanan, dan 1 tim lagi melakukan penyisiran terhadap korban gempa di wilayah kecamatan Berbah.
Demikian halnya tim Red Crenzet of Iran (Palang Merah Iran) telah membuka klinik kesehatan di SD Kanisius Ganjuran, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul terdiri 40 personal untuk membantu pemulihan pascagempa berkait masalah kesehatan dan logistik.
Di lapangan Pleret, tim medis dari Korea Selatan, Turki secara serius menangani setiap penderitaan korban gempa, mereka membantu kesehatan dan bantuan pangan. Tim medis Perancis, Medecins Sans Frontieres (MSF), sejak Senin (5/6) membangun tenda-tenda perawatan di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta. Tenda-tenda diperuntukkan pasien korban gempa rujukan berbagai rumah sakit yang butuh perawatan lanjutan dan dialihkan karena daya tampung rumah sakit terbatas.
Koordinator MSF, Fabrice Resorges mengatakan, timnya juga menyusuri wilayah Bantul untuk melihat kondisi korban gempa yang membutuhkan perawatan lanjutan. Demikian halnya tim-tim medis yang berasal dari mancanegara terus berdatangan, masing-masing secara proaktif mencari titik-titik strategis dan membangun rumah sakit lapangan khusus bagi para korban gempa yang belum terjangkau layanan kesehatan secara layak.
Dari hasil amatan di lapangan, persoalan yang sekarang dihadapi bersamaan musim kemarau sudah tiba, sementara para korban yang masih tidur di tenda-tenda pengungsian perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh. Hawa di malam hari yang begitu dingin menusuk mulai dirasakan, kebutuhan selimut atau pakaian tebal dan makanan bergizi serta pemantauan terhadap kondisi kesehatannya menjadikan hal mendesak untuk dipenuhi, terutama bagi mereka yang tergolong lanjut usia (lansia) dan anak-anak di bawah umur lima tahun (balita).
Di samping telah dilakukan penanganan berupa bantuan fisik, ternyata dampak psikologis pascagempa menjadi hal yang juga tak dapat disepelekan. Dampak-dampak psikologis seperti trauma, panik serta beban mental lainnya layak mendapat perhatian karena pemulihan ini justru lebih mempunyai pengaruh positif berjangka panjang.
Sampai dengan Senin (5/6), berdasar sumber Media Center di DIY, jumlah korban gempa di seluruh wilayah DIY dan sebagian Jateng tercatat korban meninggal sebanyak 5.857 orang, luka-luka 37.229 orang. Rumah rusak rata tanah mencapai 84.643 unit, rusak berat 135.048, dan rusak ringan 188.234 unit.
13696171291270577938
bangunan rusak akibat gempa 2006 (sumber: ciptakarya.pu.go.id)
Jumlah tersebut dapat dirinci: di Kabupaten Bantul meninggal 4.280 orang, luka-luka 12.023 orang, rumah rata tanah 28.939 unit, rusak berat 40.038 unit, rusak ringan 30.906 unit. Di Kabupaten Sleman meninggal 235 orang, luka-luka 3.792 orang, rumah rata tanah 5.243 unit, rusak berat 16.003 unit, rusak ringan 33.233 unit.
Di Kota Yogyakarta meninggal 185 orang, luka-luka 320 orang, rumah rata tanah 2.164 unit, rusak berat 4.577 unit, rusak ringan 2.617 unit. Di Kabupaten Kulonprogo meninggal 21 orang, luka-luka 1.508 orang, rumah rata tanah 3.872 unit, rusak berat 5.251 unit, rusak ringan 8.888 unit. Di Kabupaten Gunungkidul meninggal 84 orang, luka-luka 1.059 orang, rumah rata tanah 13.543 unit, rusak berat 4.718 unit, rusak ringan 16.742 unit.
Di Kabupaten Klaten meninggal 1.036 orang, luka-luka 18.128 orang, rumah rata tanah 30.298 unit, rusak berat 61.224 unit, rusak ringan 93.628 unit. Di Kabupaten Magelang meninggal 10 orang, luka-luka 24 orang, rumah rata tanah 199 unit, rusak berat 507 unit, rusak ringan 658 unit.
Di Kabupaten Boyolali meninggal 4 orang, luka-luka 300 orang, rumah rata tanah 307 unit, rusak berat 696 unit, rusak ringan 708 unit. Di Kabupaten Sukoharjo meninggal 1 orang, luka-luka 67 orang, rumah rata tanah 51 unit, rusak berat 1.808 unit, tidak ada/tidak tercatat rumah rusak ringan.
Di Kabupaten Wonogiri meninggal tidak ada/tidak tercatat, luka-luka 4 orang, rumah rata tanah 17 unit, rusak berat 12 unit, rumah rusak ringan 74 unit. Di Kabupaten Purworejo meninggal 1 orang, luka-luka 4 orang, rumah rata tanah 10 unit, rusak berat 214 unit, rumah rusak ringan 780 unit.
Sementara menurut Menneg PPN/Kepala Bappenas, Paskah Suzetta, jumlah kerugian akibat gempa di DIY dan Jateng mencapai Rp 29,2 trilyun. Angka tersebut merupakan hasil kajian antara Bappenas dengan Koordinator Negara-negara Donor, yaitu Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB).
Memasuki masa rehabilitasi dan rekonstruksi, persoalan data dan siapa yang layak memperoleh bantuan dana untuk membangun kembali rumahnya perlu mendapat perhatian seksama. Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X berharap masa tanggap darurat di DIY selesai Juni 2006.
Menurutnya, bantuan biaya hidup (living cost) berupa uang lauk-pauk Rp 3.000/orang perhari, beras 10 kg/orang perbulan, uang pakaian Rp 100.000/orang sekali diberikan dan uang peralatan masak Rp 100.000/keluarga juga sekali diberikan, semuanya ini difasilitasi Bakornas Penanggulangan Bencana selaku wakil pemerintah dan selanjutnya mem-back up Satkorlak (provinsi) dan Satlak (kabupaten/kota).
Berkait bantuan dana rehabilitasi dan rekonstruksi rumah korban, Wapres Jusuf Kalla memberikan waktu seminggu lagi (terhitung sejak tanggal 5 Juni 2006) untuk melakukan verifikasi ke lapangan, hal ini mengingat masih ditemui perbedaan data jumlah calon penerima dana bantuan. Dalam keputusan final yang telah diperhitungkan pemerintah pusat disebutkan bahwa bantuan rumah roboh ditetapkan Rp 30 juta/unit, rusak berat dibantu Rp 20 juta/unit, dan rusak sedang/ringan menerima Rp 10 juta/unit (namun dalam realisasinya, setelah dilakukan evaluasi lebih lanjut, rusak berat mendapat bantuan Rp 15 juta, rusak sedang Rp 4 juta, dan rusak ringan Rp 1 juta).
Bantuan hanya diberikan kepada rumah-rumah warga yang berpenghasilan rendah yang telah ditetapkan melalui kerjasama pemerintah daerah, perguruan tinggi dan forum masyarakat. Informasi mengenai bantuan biaya hidup dan bantuan untuk rumah dari sumber resmi ini mestinya perlu disosialisasikan secara luas dan benar oleh instansi atau lembaga berwenang, terutama disampaikan kepada mereka yang berhak sebagai calon penerima bantuan agar hidup layak dan membangun kembali rumahnya akibat gempa tektonik yang telah mengguncang wilayah Provinsi DIY dan sebagian wilayah Provinsi Jateng.
Mencari model-model maupun bentuk komunikasi yang efektif, selanjutnya dapat ditepis kemungkinan munculnya distorsi informasi yang seringkali berakibat atau menimbulkan persoalan baru lebih rumit. (bahan tulisan: on the spot ke lokasi gempa 2006,  dilengkapi berbagai sumber).
Tulisan ini bisa juga dibaca di blog pribadi penulis http://jok-website.blogspot.com/ posted by joko martono | 
sumber : 

http://sosbud.kompasiana.com/2013/05/27/mengenang-gempa-tektonik-2006-di-yogyakarta-dan-sekitarnya-3-habis-559552.html