Wednesday, April 8, 2015

Peringatan MEROKOK MEMBUNUHMU adalah Tipu Muslihat Kartel Rokok Luar Negeri


Di dalam sejarah pertanian kita, belum pernah ada semangat memojokkan tembakau, termasuk produk olahannya, seperti terjadi saat ini.

Berbagai cara ditempuh, demi mencapai tujuan pokoknya. Tapi jika diamati baik-baik, tampaknya, alhamdulillah, semangat itu tidak mematikan, dan boleh jadi tidak akan pernah mematikan. Nafsu untuk— istilah mereka—memuseumkan ”keretek”, produk olahan tembakau tadi, tak bakalan bisa dicapai.

Kita tahu dasar pertimbangan yang disiarkan secara global semangat itu dibangun demi alasan yang begitu indah dan manusiawi: kesehatan masyarakat. Tapi jika ditelusuri secara lebih saksama dan lebih mendalam, semangat itu berdiri di belakang perang dagang.

Pemilik industri olahan tembakau di luar negeri, yang ingin mencaplok secara serakah bisnis di bidang itu, dengan canggih tapi penuh tipu muslihat, dan bohong, menggunakan isu kesehatan untuk memenangkan pertarungan di negeri kita. Isu bahwa merokok merusak kesehatan, dengan berbagai macam penjelasan yang menakutkan, di sini tidak mempan.

Para perokok tetap merokok. Kelihatannya mereka tak begitu takut pada ancaman itu. Ketika isu kesehatan tak mengubah keadaan, dipakailah isu ekonomi, yang kelihatannya sama saja. Suara mereka tak begitu didengar orang. Muncul isu lain, yang merupakan kalkulasi strategis, dengan melihat bahwa dilihat dari komposisi penduduk kita, mayoritas kita pemeluk Islam.

Di sana kata halal-haram menjadi isu moral yang luar biasa penting, karena hal itu langsung berhubungan dengan Tuhan. Maka strategi canggih mereka, disertai dana besar yang pendukung strategi itu, memandang penggunaan kata haram akan manjur. Lalu disebutlah bahwa merokok itu haram. Tapi pilihan langkah ini pun membentur tembok.

Para perokok tak peduli pada fatwa itu, karena ada fatwa lain, dari komunitas orang-orang beriman yang jumlahnya lebih besar, tidak mengharamkan merokok. Status hukum merokok bagi mereka hanya makruh. Ini pilihan pribadi. Strategi yang tak mempan ini membuat mereka kecewa. Sekarang, mereka kembali lagi ke alasan semula: alasan kesehatan.

Ancaman yang menyebutkan bahwa, dulu, merokok mengganggu kesehatan ini dan itu, kini diganti, merokok: ”membunuhmu”. Ini bukan bahasa ilmu pengetahuan, bukan pula kebijakan yang dilandasi oleh suatu temuan yang meyakinkan, melainkan cerminan dari bahasa politik dagang yang tak melarang menggunakan kebohongan di sana sini.

Bahasa ancaman, dan manipulasi di dalamnya, boleh dipakai, asal bisa dianggap mendukung langkah untuk menuju kemenangan. Kelihatannya perlu sekali diwaspadai, bahwa ancaman ”merokok membunuhmu”, yang dipasang di tiap-tiap bungkus keretek, disertai gambargambar mengerikan, itu contoh strategi politik dagang. untuk memenangkan persaingan di pasar bebas.

Sekali lagi, ”merokok membunuhmu”, merupakan ancaman agar industri olahan tembakau di negeri kita tidak berkembang. Untuk sementara, mereka dibunuh dulu, dengan dukungan para pejabat kita sendiri. Kalau industri kita sudah mati, gampanglah mengatur strategi baru, sesudah semuanya dikuasai dan sepenuhnya di tangan bangsa asing.


Mungkin kelak mereka akan berteriak: merokok tanda orang sehat? Sekarang ini, ancaman ”merokok membunuhmu”, sebetulnya tidak lain dari sikap politik dagang, dan kebijakan pemerintah yang mendukung politik dagang bangsa asing itu, untuk memenangkan perang dagang yang didambakan bangsa asing di negeri kita ini.

Sikap pemerintah yang lebih mengutamakan impor tembakau sebesar-besarnya, jelas dirasuki semangat membunuh petani tembakau kita sendiri. Pejabat kita hanya tampil sebagai orang netral? Kalau mereka netral, tanpa unsur pengaruh kepentingan asing, itu sudah mulia.

Netral pun mereka tidak. Kecenderungannya jelas: mereka memojokkan petani tembakau kita sendiri. Selain itu, berbagai langkah ditempuh agar petani beralih ke pertanian lain yang bukan tembakau. Kalau mereka mendengar saran berbahaya ini—tapi tidak ada petani yang menggubris ajakan pejabat—tanaman tembakau mati.

Dan kelak, sebentar lagi, bangsa asing yang datang sesudahnya, akan menghidupkan kembali tanaman tembakau itu untuk kepentingan dagang yang sangat menguntungkan itu.

Langkah menaikkan cukai, dari tahun ke tahun selalu naik, dan kini cukai kita menghasilkan sumbangan ratusan triliun buat APBN, apa artinya bila bukan untuk membunuh industri kita sendiri, dan menggelar karpet merah bagi usaha dagang asing di negeri kita?

Semangat menaikkan cukai ini telah membunuh tiga ratusan ”home industries” di bidang pengolahan tembakau, yang merupakan kebanggaan daerah masing masing, dan itu artinya juga kebanggaan bangsa kita. Tapi mengapa kekejaman ini ditempuh terus menerus, hingga kini, jumlah industri kita tinggal ibarat ”segenggam”, dan jumlah pengusaha asing makin meningkat dan makin meningkat?

Dalam bulan bulan terakhir ini, isu menaikkan cukai dikutuk media, sebagai langkah pemerintahan yang malas, yang tak bisa mencari sumber APBN yang lain. DPR menyesalkan dan minta kenaikan cukai ditunda. Dan berbagai unsur masyarakat sipil menyuarakan semangat yang sama, sebagai tanda komitmen kebangsaan yang besar.

Omong kosong apakah yang ada di balik ”merokok membunuhmu” itu, ketika kita ketahui bangsa produksi tahunan industri keretek asing, yang ada di negeri kita ini malah meningkat dan meningkat menjadi produk maha raksasa yang keuntungannya menggiurkan para pedagang?

Merokok membunuh orang, tapi produk rokok mereka meningkat begitu mengerikannya. Apakah mereka sengaja mau mengabaikan peringatan itu? Tidak. Mereka orang baik dan sangat manusiawi. Pedagang bukan pembunuh. Mereka hanya ingin menggaet untung besar, sebesar-besarnya, tanpa saingan, tanpa musuh.

Pendeknya, mereka hanya akan melakukan monopoli datang. Hanya itu. Selebihnya, pemerintah kita membantu, dan siap berdiri di belakang kepentingan asing itu. Mereka bersuara seperti nabi-nabi yang ingin menyelamatkan manusia di dunia, tapi intinya bukan itu. Tujuan mereka jelas hanya satu: memenangkan persaingan dagang.

Dan bukan urusan kesehatan. Kelak, sesudah menang dalam persaingan, barulah bicara keuntungan yang pasti sudah ada dalam genggaman. Selain itu, kebohongan apa lagi yang ada di balik ”merokok membunuhmu” kalau kenyataannya, pengusaha demi pengusaha asing, kelihatan berebut lahan bisnis pengolahan tembakau di negeri kita, dengan keserakahan seperti serigala berebut mangsa di hutan belantara?

Apa mereka mau mengabaikan ancaman ”merokok membunuhmu” tadi? Tidak. Sama sekali tidak. Mereka tak peduli pada omongan itu. Apa yang mereka cari, dengan berbagai cara untuk menang, ialah keuntungan, duit, keuntungan dan duit, dan kejayaan.

Bangsa-bangsa asing yang jauh, dan bangsa-bangsa asing di Asia, yang dekat, hadir di sini, saling mencakar saling ”menubruk” untuk menguasai tembakau dan produk olahannya. Mereka bersuara seperti nabi-nabi baru, untuk menyelamatkan manusia di bumi. Tapi sebenarnya mereka tak punya rasa peduli apa pun kecuali berbisnis dan merebut keuntungan dan keuntungan.

Mereka nabi-nabi palsu di dalam bisnis tembakau yang kejam. Suara mereka seolah hendak menyelamatkan manusia di bumi ini, tapi sebenarnya mereka mencari selamat sendiri-sendiri.

oleh :
Mohamad Sobary
Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan. Email: dandanggula@hotmail.com


http://nasional.sindonews.com/read/985555/18/nabi-palsu-bisnis-tembakau-1428290033/2 



Di dalam sejarah pertanian kita, belum pernah ada semangat memojokkan tembakau, termasuk produk olahannya, seperti terjadi saat ini.

Berbagai cara ditempuh, demi mencapai tujuan pokoknya. Tapi jika diamati baik-baik, tampaknya, alhamdulillah, semangat itu tidak mematikan, dan boleh jadi tidak akan pernah mematikan. Nafsu untuk— istilah mereka—memuseumkan ”keretek”, produk olahan tembakau tadi, tak bakalan bisa dicapai.

Kita tahu dasar pertimbangan yang disiarkan secara global semangat itu dibangun demi alasan yang begitu indah dan manusiawi: kesehatan masyarakat. Tapi jika ditelusuri secara lebih saksama dan lebih mendalam, semangat itu berdiri di belakang perang dagang.

Pemilik industri olahan tembakau di luar negeri, yang ingin mencaplok secara serakah bisnis di bidang itu, dengan canggih tapi penuh tipu muslihat, dan bohong, menggunakan isu kesehatan untuk memenangkan pertarungan di negeri kita. Isu bahwa merokok merusak kesehatan, dengan berbagai macam penjelasan yang menakutkan, di sini tidak mempan.

Para perokok tetap merokok. Kelihatannya mereka tak begitu takut pada ancaman itu. Ketika isu kesehatan tak mengubah keadaan, dipakailah isu ekonomi, yang kelihatannya sama saja. Suara mereka tak begitu didengar orang. Muncul isu lain, yang merupakan kalkulasi strategis, dengan melihat bahwa dilihat dari komposisi penduduk kita, mayoritas kita pemeluk Islam.

Di sana kata halal-haram menjadi isu moral yang luar biasa penting, karena hal itu langsung berhubungan dengan Tuhan. Maka strategicanggihmereka, disertai dana besar yang pendukung strategi itu, memandang penggunaankataharamakanmanjur. Lalu disebutlah bahwa merokok itu haram. Tapi pilihan langkah ini pun membentur tembok.

Para perokok tak peduli pada fatwa itu, karena ada fatwa lain, dari komunitasorang-orangberiman yang jumlahnya lebih besar, tidak mengharamkan merokok. Status hukum merokok bagi mereka hanya makruh. Ini pilihan pribadi. Strategi yang tak mempan ini membuat mereka kecewa. Sekarang, mereka kembali lagi ke alasan semula: alasan kesehatan.

Ancaman yang menyebutkan bahwa, dulu, merokok mengganggu kesehatan ini dan itu, kini diganti, merokok: ”membunuhmu”. Ini bukan bahasa ilmu pengetahuan, bukan pula kebijakan yang dilandasi oleh suatu temuan yang meyakinkan, melainkan cerminan dari bahasa politik dagang yang tak melarang menggunakan kebohongan di sana sini.

Bahasa ancaman, dan manipulasi di dalamnya, boleh dipakai, asal bisa dianggap mendukung langkah untuk menuju kemenangan. Kelihatannya perlu sekali diwaspadai, bahwa ancaman ”merokok membunuhmu”, yang dipasang di tiap-tiap bungkus keretek, disertai gambargambar mengerikan, itu contoh strategi politik dagang. untuk memenangkan persaingan di pasar bebas.

Sekali lagi, ”merokok membunuhmu”, merupakan ancaman agar industri olahan tembakau di negeri kita tidak berkembang. Untuk sementara, mereka dibunuh dulu, dengan dukungan para pejabat kita sendiri. Kalau industri kita sudah mati, gampanglah mengatur strategi baru, sesudah semuanya dikuasai dan sepenuhnya di tangan bangsa asing.

source: http://nasional.sindonews.com/read/985555/18/nabi-palsu-bisnis-tembakau-1428290033/

Di dalam sejarah pertanian kita, belum pernah ada semangat memojokkan tembakau, termasuk produk olahannya, seperti terjadi saat ini.

Berbagai cara ditempuh, demi mencapai tujuan pokoknya. Tapi jika diamati baik-baik, tampaknya, alhamdulillah, semangat itu tidak mematikan, dan boleh jadi tidak akan pernah mematikan. Nafsu untuk— istilah mereka—memuseumkan ”keretek”, produk olahan tembakau tadi, tak bakalan bisa dicapai.

Kita tahu dasar pertimbangan yang disiarkan secara global semangat itu dibangun demi alasan yang begitu indah dan manusiawi: kesehatan masyarakat. Tapi jika ditelusuri secara lebih saksama dan lebih mendalam, semangat itu berdiri di belakang perang dagang.

Pemilik industri olahan tembakau di luar negeri, yang ingin mencaplok secara serakah bisnis di bidang itu, dengan canggih tapi penuh tipu muslihat, dan bohong, menggunakan isu kesehatan untuk memenangkan pertarungan di negeri kita. Isu bahwa merokok merusak kesehatan, dengan berbagai macam penjelasan yang menakutkan, di sini tidak mempan.

Para perokok tetap merokok. Kelihatannya mereka tak begitu takut pada ancaman itu. Ketika isu kesehatan tak mengubah keadaan, dipakailah isu ekonomi, yang kelihatannya sama saja. Suara mereka tak begitu didengar orang. Muncul isu lain, yang merupakan kalkulasi strategis, dengan melihat bahwa dilihat dari komposisi penduduk kita, mayoritas kita pemeluk Islam.

Di sana kata halal-haram menjadi isu moral yang luar biasa penting, karena hal itu langsung berhubungan dengan Tuhan. Maka strategicanggihmereka, disertai dana besar yang pendukung strategi itu, memandang penggunaankataharamakanmanjur. Lalu disebutlah bahwa merokok itu haram. Tapi pilihan langkah ini pun membentur tembok.

Para perokok tak peduli pada fatwa itu, karena ada fatwa lain, dari komunitasorang-orangberiman yang jumlahnya lebih besar, tidak mengharamkan merokok. Status hukum merokok bagi mereka hanya makruh. Ini pilihan pribadi. Strategi yang tak mempan ini membuat mereka kecewa. Sekarang, mereka kembali lagi ke alasan semula: alasan kesehatan.

Ancaman yang menyebutkan bahwa, dulu, merokok mengganggu kesehatan ini dan itu, kini diganti, merokok: ”membunuhmu”. Ini bukan bahasa ilmu pengetahuan, bukan pula kebijakan yang dilandasi oleh suatu temuan yang meyakinkan, melainkan cerminan dari bahasa politik dagang yang tak melarang menggunakan kebohongan di sana sini.

Bahasa ancaman, dan manipulasi di dalamnya, boleh dipakai, asal bisa dianggap mendukung langkah untuk menuju kemenangan. Kelihatannya perlu sekali diwaspadai, bahwa ancaman ”merokok membunuhmu”, yang dipasang di tiap-tiap bungkus keretek, disertai gambargambar mengerikan, itu contoh strategi politik dagang. untuk memenangkan persaingan di pasar bebas.

Sekali lagi, ”merokok membunuhmu”, merupakan ancaman agar industri olahan tembakau di negeri kita tidak berkembang. Untuk sementara, mereka dibunuh dulu, dengan dukungan para pejabat kita sendiri. Kalau industri kita sudah mati, gampanglah mengatur strategi baru, sesudah semuanya dikuasai dan sepenuhnya di tangan bangsa asing.

source: http://nasional.sindonews.com/read/985555/18/nabi-palsu-bisnis-tembakau-1428290033/
Di dalam sejarah pertanian kita, belum pernah ada semangat memojokkan tembakau, termasuk produk olahannya, seperti terjadi saat ini.

Berbagai cara ditempuh, demi mencapai tujuan pokoknya. Tapi jika diamati baik-baik, tampaknya, alhamdulillah, semangat itu tidak mematikan, dan boleh jadi tidak akan pernah mematikan. Nafsu untuk— istilah mereka—memuseumkan ”keretek”, produk olahan tembakau tadi, tak bakalan bisa dicapai.

Kita tahu dasar pertimbangan yang disiarkan secara global semangat itu dibangun demi alasan yang begitu indah dan manusiawi: kesehatan masyarakat. Tapi jika ditelusuri secara lebih saksama dan lebih mendalam, semangat itu berdiri di belakang perang dagang.

Pemilik industri olahan tembakau di luar negeri, yang ingin mencaplok secara serakah bisnis di bidang itu, dengan canggih tapi penuh tipu muslihat, dan bohong, menggunakan isu kesehatan untuk memenangkan pertarungan di negeri kita. Isu bahwa merokok merusak kesehatan, dengan berbagai macam penjelasan yang menakutkan, di sini tidak mempan.

Para perokok tetap merokok. Kelihatannya mereka tak begitu takut pada ancaman itu. Ketika isu kesehatan tak mengubah keadaan, dipakailah isu ekonomi, yang kelihatannya sama saja. Suara mereka tak begitu didengar orang. Muncul isu lain, yang merupakan kalkulasi strategis, dengan melihat bahwa dilihat dari komposisi penduduk kita, mayoritas kita pemeluk Islam.

Di sana kata halal-haram menjadi isu moral yang luar biasa penting, karena hal itu langsung berhubungan dengan Tuhan. Maka strategicanggihmereka, disertai dana besar yang pendukung strategi itu, memandang penggunaankataharamakanmanjur. Lalu disebutlah bahwa merokok itu haram. Tapi pilihan langkah ini pun membentur tembok.

Para perokok tak peduli pada fatwa itu, karena ada fatwa lain, dari komunitasorang-orangberiman yang jumlahnya lebih besar, tidak mengharamkan merokok. Status hukum merokok bagi mereka hanya makruh. Ini pilihan pribadi. Strategi yang tak mempan ini membuat mereka kecewa. Sekarang, mereka kembali lagi ke alasan semula: alasan kesehatan.

Ancaman yang menyebutkan bahwa, dulu, merokok mengganggu kesehatan ini dan itu, kini diganti, merokok: ”membunuhmu”. Ini bukan bahasa ilmu pengetahuan, bukan pula kebijakan yang dilandasi oleh suatu temuan yang meyakinkan, melainkan cerminan dari bahasa politik dagang yang tak melarang menggunakan kebohongan di sana sini.

Bahasa ancaman, dan manipulasi di dalamnya, boleh dipakai, asal bisa dianggap mendukung langkah untuk menuju kemenangan. Kelihatannya perlu sekali diwaspadai, bahwa ancaman ”merokok membunuhmu”, yang dipasang di tiap-tiap bungkus keretek, disertai gambargambar mengerikan, itu contoh strategi politik dagang. untuk memenangkan persaingan di pasar bebas.

Sekali lagi, ”merokok membunuhmu”, merupakan ancaman agar industri olahan tembakau di negeri kita tidak berkembang. Untuk sementara, mereka dibunuh dulu, dengan dukungan para pejabat kita sendiri. Kalau industri kita sudah mati, gampanglah mengatur strategi baru, sesudah semuanya dikuasai dan sepenuhnya di tangan bangsa asing.

source: http://nasional.sindonews.com/read/985555/18/nabi-palsu-bisnis-tembakau-1428290033/

KESENIAN TRADISIONAL KHAS PURWOREJO “TARI DOLALAK”


Kesenian dolalak adalah salah satu kesenian tradisional kerakyatan yang tumbuh dan berkembang di daerah kabupaten Purworejo sangat pesat, terbukti hampir disetiap Kecamatan ada group kesenian dolalak. kesenian ini menjadi kebanggaan masyarakat Purworejo sebagai bentuk kesenian tradisional khas.

Asal mula kesenian dolalak adalah tari alkulturasi budaya barat ( Belanda ) dan timur ( Jawa ). Pada zaman pemerintahan Belanda, daerah Kabupaten Purworejo terkenal dengan daerah MILISI ( tempat melatih SERDADU / tentara ) dimana anggota milisi itu terdiri dari orang-orang pribumi yang tidak saja berasal dari Purworejo tetapi juga orang-orang dari Purworejo dan para pelatihnya adalah para Serdadu dari belanda. Mereka hidup dalam tangsi / asrama yang jauh dari sanak saudara dan keluarga.

Rupanya kehidupan itu membosankan, mereka mencari hiburan baik didalam maupun diluar tangsi saat istirahat dari latihan militer dengan bernyanyi-nyanyi sambil menari. Bagi mereka yang biasa menari, bagi yang biasa pencak / silat mereka pencak,yang biasa dansa mereka dansa. Hal itu mereka lakukan hanya sekedar untuk menghibur diri dan menghilangkan kebosanan.

Gerakan-gerakan dan lagu yang dirasa menarik itu kemudian menjadi inspirasi pengembangan dari kesenian yang sudah ada  yaitu  kesenian rebana ( Kemprang )dari tiga orang pemuda dari dukuh Sejiwan desaTrirejo kecamatan Loano bernama Rejo Taruno, Duliat dan Ronodimejo ( mereka bersaudara ). Kesenian ini semula dinamai Bangilun ( Berasal dari bahasa Arab FA'ILUN, yang berarti Syiar ). Dalam proses perkembangannya dari pengaruh jaman dan kondisi kemasyarakatan serta penyajiannya maka kesenian ini kemudian menjadi Dolalak yang berasal dari notasi do-la-la. Menurut keterangan dari para ahli warisnya didesa Trirejo bahwa 3 orang tokoh tersebut memiliki kepiawaian yang berbeda, masing-masing dalam hal tari( Duliat ), iringan    (rejo taruno) dan membuat pantun yang kemudian menjadi syair dalam tembang-tembang Dolalak.

Busana yang dikenakan oleh para penarinya ada pngaruh nuansa Belanda, hal ini dapat dilihat dari baju lengan panjang dan celana pendek/tanggung dengan warna gelap(hitam), pangkat/rumbai yang ada di bahu dan di dada,topi pet juga kaca mata hitam. Sampur digunakan sebagai pelengkap busana sekaligus properti, merupakan suatu kebiasaan orang Jawa yang sedang menari selalu menggunakan sampur (selendang).

Dari perkembangan fungsi yang penyajiannya maka lebih mengedepankan fungsi hiburannya daripada syiarnya sedang dalam penyajiannya unsur tari lebih mendominasi. Iringan terdiri dari kemprang, bedhug (jedhur) dan kendang dengan syair yang ditembangkan menjadi penuntun ritme dan “ruh” tarian. Biasa disajikan oleh delapan sampai sepuluh orang penari diatas panggung. Semula penarinya putra namun dalam perkembangannya pun muncul penari putri (sekitar tahun 1978). Hadirnya penariyang mendem (trance) merupakan bumbu/daya tarik penyajiannya, inipun baru muncul sekitar tahun 1945 (keterangan dari mbah Amat Kasan 82 tahun dari desa Kaliharjo Kecamatan Kaligesing).

Tari Dolalak lestari hingga sekarang karena memang masyarakatnya secara turun temurun mencintai dan berusaha mempertahankan keberadaan dengan selalu memelihara dan mengembangkannya agar tidak punah oleh perkembangan jaman. Tari Dolalak telah terbukti sebagai kesenian tradisional khas Purworejo. Keunikan tari Dolalak menjadi daya tarik tersendiri.