Tuesday, April 14, 2015

HALAL BIHALAL LEBARAN


Secara umum mungkin Lebaran mungkin masih lama,  walaupun ini sudah memasuki bulan Rajab, yang setelah itu Ruwah, Ramadhan terus Syawal. Tapi saya yakin untuk sebagian masyarakat khususnya yang merantau sudah merencanakan Ritual Mudik Lebaran yang tiap tahunnya tak akan kalian lewatkan. Banyak Status-status Facebook atau Twit di Twitter yang sudah mulai membicarakan Berburu tiket Kereta Online setiap jam 00.00 WIB tiap malamnya atau sekedar memesan Mobil Rental yang mungkin akan sulit di dapat ketika lebaran sudah dekat. Lebaran adalah saat yang sakral di mana setiap anak pasti akan rindu untuk sungkem kepada orang tuanya di desa atau sekedar bertemu kawan lama yang mungkin terpisah karena sama-sama merantau di lain kota, atau sekedar bertemu pacar lama. Well .... pastinya suasana lebaran sangat di nanti-nanti oleh semua kalangan.

Pada posting kali ini saya akan meceritakan kegiatan yang sudah umum untuk setiap lebaran yaitu Halal Bihalal atau kalau masyarakat Tegalmiring menyebutnya Balalan. Balalan atau Halal Bihalal secara bahasa adalah kata majemuk dalam bahasa Arab dan berarti halal dengan halal atau sama-sama halal. Tapi kata majemuk ini tidak dikenal dalam kamus-kamus bahasa Arab maupun pemakaian masyarakat Arab sehari-hari. Masyarakat Arab di Makkah dan Madinah justru biasa mendengar para jamaah haji Indonesia –dengan keterbatasan kemampuan bahasa Arab mereka- bertanya ‘halal?’ saat bertransaksi di pasar-pasar dan pusat perbelanjaan. Mereka menanyakan apakah penjual sepakat dengan tawaran harga yang mereka berikan, sehingga barang menjadi halal untuk mereka. Jika sepakat, penjual akan balik mengatakan “halal”. Atau saat ada makanan atau minuman yang dihidangkan di tempat umum, para jamaah haji biasa bertanya “halal?” untuk memastikan bahwa makanan / minuman tersebut gratis dan halal untuk mereka.

Kata majemuk ini tampaknya memang ‘made in Indonesia’. Kata halal bihalal justru diserap Bahasa Indonesia dan diartikan sebagai “hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan pada saat setelah selesai Sholat ied yaitu dengan muter-muter berkunjung ke rumah tonggo teparo sambil menikmati aneka makanan atau Kue yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Dan lagi bagi anak-anak kecil Balalan adalah waktu untuk mendapatkan Sangu dari para saudara-saudara atau mbah-mbahnya . Hal itu sudah mendarah daging pada setiap masyarakat Indonesia khususnya Bagian Tegalmiring.

Masih berhubungan dengan halal bihalal atau balalan. Semenjak Kepala Desa Seborokrapyak dijabat oleh Bp. Asip Rubangi mulai tahun 2012 yang lalu, ada kegiatan yang tampak berbeda dari periode-periode kepemimpinan sebelumnya. Yang menurut kami hal tersebut teramat positif. Di halaman rumah beliau dipasang tenda tarub untuk menerima para tamu yang mau balalan ke beliau. Yang pasti sangatlah antusias di datangi oleh segenap warga Desa Seborokrapyak. Tak lupa pula di setiap malamnya di gunakan untuk temu kangen antara Pak Kades dengan para perantau yang menghadirkan suasana akrab antara sesama warga Seborokrapyak baik perantau maupun warga yang tidak merantau. Semuanya larut dalam kebahagiaan dan keceriaan lebaran.

Momen Itu juga tak luput untuk kami, para perangkat desa. Pada suatu kesempatan kami Sarimbitan di undang secara Khusus oleh beliau untuk Halal Bihalal. Acaranya sedikit resmi walaupun tetap dalam suasana hangat. Dimulai dari Asrah pangluputan dari pihak yang muda kemudian di terima dan di jawab oleh Beliau, Setelah itu setelah memanjatkan doa bersama-sama kemudian makan bersama.

Hal yang membuat kami merasa nyaman lagi adalah setelah acara tersebut, Beliau mengajak kami sarimbitan dengan istri masing-masing bersilaturahmi dan halal bihalal ke sejumlah para pinisepuh Desa Seborokrapyak. Diantaranya Bp. H. Mantan Harun Rasyid (Lurah Desa Seborokrapyak tahun 1945-1989), Bp. Agung Kholik Budairi (Mantan Kades Seborokrapyak 1998-2012), Bp. H. Mohammad Hadi Supomo, Bp. Kyai Awan Sidiq Sya'bani, Bp. H. Rosjidan, S.Ag, Bp. Drs. H. Sumarso, M.M., Bp. H. Suroto, Bp. Drs. Zainal Arifin dan Bp. Drs. H. Zaenal Abidin Abdul Kadir. beliau mengajak kami semua asrah pangluputan di hari Lebaran tersebut, dan sebagai tradisi agar yang muda menghormati yang lebih tua dan melanjutkan pembangunan desa untuk masa depan melanjutkan cita-cita para pendahulu yang mungkin belum tercapai. Suasana di setiap rumah sesepuh tersebut begitu hangat walaupun paling hanya kurang lebih 5 menit di setiap rumahnya.

Selanjutnya, sudahkan tiket ada dalam genggaman anda untuk mudik? atau bagi yang mau merental mobil, sudah fix kah booking mobil rentalnya. Silahkan berjibaku untuk memperjuangkan mudik kalian. Kami tunggu kedatangan kalian .... semoga besok dalam perjalanan aman dan nyaman selamat sampai rumah, tiada aral suatu apapun yang melintang. Selamat berjuang .........................







Saturday, April 11, 2015

AWAL MULA NAMA BAGELEN

Nama Bagelen muncul dalam sejarah nasional sejak adanya Perjanjian Giyanti 13 Februari 1775, yang membagi kerajaan Mataram menjadi dua, yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Perjanjian Giyanti tersebut terjadi akibat dari perang saudara antara Susuhunan Paku Buwono III dengan Pangeran Mangkubumi atau Pangeran Sambernyowo yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono I. Baik oleh Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Yogyakarta afdeling (wilayah) Bagelen tidak masuk dalam “wilayah negara”. Oleh sebab itu, afdeling tersebut dinamakan Mancanegara Kilen (sebab letaknya disebelah barat negara). Dalam perjanjian giyanti juga disebutkan Bagelen yang sebelumnya menjadi wilayah “negara agung” kerajaan Mataram juga dibagi menjadi dua bagian.

Sebagian masuk wilayah Kasunanan Surakarta dan sebagian masuk wilayah Kasultanan Yogyakarta. Arti negara agung adalah sebuah wilayah yang banyak berisi tanah jabatan atau tanah lungguh atau tanah bengkok milik para pejabat kerajaan dan pangeran.
Seorang Belanda bernama A. Van Poel mengatakan nama Bagelen berasal dari istilah kethol Bagelen, yaitu priyayi atau bangsawan setempat yang ada di tanah Bagelen. Menurutnya Bagelen berasal dari nama orang. Pendapat tersebut berdasarkan cerita dan data yang dikumpulkan dari para kethol Bagelen. Dari cerita para kethol Bagelen dahulu ada wanita bernama Roro Rengganis yang mempunyai keahlian menenun. Setelah dewasa Roro Rengganis yang masih merupakan ketirunan raja dipersunting oleh Joko Awu-awu Langit yang berasal dari Gunung kelir. Dan setelah menikah kemudian menjadi Adipati dan bergelar Cokropermono.

Sementara ada dua versi yang menyebutkan asal-usul Joko Awu-awu Langit yang pertama disebutkan berasal dari Gunung Kelir dan dari Ambar Ketawang. Gunung Kelir merupakan kawasan pegunungan yang sangat tinggi menjulang seperti mau merapat ke langit. Versi kedua berasal dari daerah pantai yang ujung daerah tersebut mirip merapat ke langit. Sehingga disimpulkan oleh versi kedua kalau Joko Awu-awu Langit berasal dari Ambar Ketawang. Karena Awu-awu Langit artinya memang sama dengan Ambar Ketawang. Namun A. Van Poel berkeyakinan Jko Awu-awu Lngit berasal dari Gunung Kelir. Dari hasil perkawinan antara keduanya dikarunia tiga orang anak, yaitu; Roro Taker, Roro Pitrah dan Bagus Gentho.

Pada hari selasa wage kebetulan Joko Awu-awu Langit sibuk menumpuk padi di lumbung. Sedangkan istrinya sebuk menenun, datanglah seekor anak sapi dari arah belakang yang dikiranya anaknya Bagus Gentho yang minta minum. Kemudian Roro Rengganis menyusuinya dengan cara menyampirkan payudranya ke belakang, sebab kopek. Melihat hal tersebut Joko Awu-awu Langit menegur istrinya sambil tertawa. Mendapat teguran itu Roro Rengganis merasa terhina dan marah terhadap suaminya. Akhirnya keduanya bertengkar, apalagi ketika mencari kedua anaknya yaitu Roro Taker dan Roro Pitrah. Disemua tempat tak juga diketemukan, dan akhirnya mereka diketemukan berada di bawah tumpukan jerami yang ditumpuk oleh ayahnya sendiri. Atas kejadian tersebut Roro Rengganis makin marah dan kemudian mengusir suaminya. Joko Awu-awu Langit kemudian pergi dari rumah dan membawa anaknya yang masih hidup yakni Bagus Gentho.

Sepeninggal suaminya kemudian Roro Rengganis mengalami duka yang dalam, hatinya sangat pegal (jawa-pegel). Dalam keadaan duka itu kemudian beliau pergi bertapa ke arah barat dan tidak pernah kembali. Menurut para kethol Bagelen Roro Rengganis kemudian melakukan tapa brata, dan karena kesungguhan dalan bertapa kemudian beliau bisa muksa (hilang) bersama raganya. Dengan terjadinya peristiwa dalam keluarga Adipati Cokropermono pada hari selasa wage hingga kini dianggap sebagai hari naas bagi orang Bagelen. Sedang desa tempat tinggal Roro Rengganis karena hatinya pegal sejak mengalami kehancuran keluaganya akhirnya diberi nama “Kapegelan” yang berasal dari kata “Pegel”. Dari nama kapegelan tersebut akhirnya berubah menjadi Bagelen. Demikian juga Roro Rengganis yang sering disebut Roro Wetan disebut juga Nyai Kapegelan atau Nyai Bagelen.

Sumber :
 https://www.facebook.com/notes/rara-riri-ruru/awal-mula-nama-bagelen/127695497269811   

http://krombong.blogspot.com/

SLAMET SURADIO, MASINIS KA DALAM TRAGEDI BINTARO 1987, HIDUPNYA KINI...

Tinggal di Desa, Isi Hari Tua dengan Berjualan Rokok Eceran Dua puluh tiga tahun lalu Slamet Suradio menghadapi masa-masasulit seperti yang dialami M. Halik Rusdianto, masinis Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek yangmenjadi tersangka dalam tabrakan KA di Pemalang Sabtu lalu (2/10). Kini mantan masinis berusia 71tahun itu menghabiskan masatuanya dengan menjadi penjualrokok eceran.

HENDRI UTOMO, Purworejo
TABRAKAN maut KA Argo Bromo Anggrek dengan KA Senja Utama di Stasiun Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah, Sabtu lalu mengingatkan masyarakat akan peristiwabrakan secara frontal dengan KA 220 (Tanah Abang-Merak) di kawasan Bintaro. Tangerang semacam pada 1987. Saat itu, 19 Oktober 1987, KA 225 (Rangkasbitung-Jakarta Kota) yang dimasinisi Slamet Suradio berta-

Akibatnya, 156 orang tewas mengenaskan dan sekitar 300 korban lain mengalami luka-luka. Tragedi Bintaro itu dinilai sebagai kecelakaan terburuk dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Slamet lalu ditetapkan sebagai salah seorang tersangka dalam insiden tersebut. Dia akhirnya divonis lima tahun penjara. Dia dianggap bersalah. Selain Slamet menjalani hukuman di balik terali besi, karir sebagai masi nis langsung mandek. Dia diberhentikan dari pekerjaan itu. Setelah menuntaskan hukuman, dia memilih pulang ke kampung halaman di Purworejo.

Slamet kini tinggal di sebuah rumah sederhana di Dusun Krajan Kidul, RT02/RW 02 Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo. Dia menghabiskan sisa hidupnya dalam kemiskinan dengan berjualan rokok eceran di rumah itu. "Hingga kini saya masih sering traumadan miris jika mendengar kabar kecelakaan kereta api. Sebagai mantan masinis. saya bisa membayangkan apa yang dirasakan oleh seorang masinis yang mendapatkan musibah hebat seperti itu," kenang dia.
Saat ditemui Radar Jaya (INDOPOS Group) di rumah tersebut, lelaki lanjut usia itu masih mampu mengingat dengan jelas detail tragedi Bintaro yang melibatkan dirinya. Slamet mengisahkan, tragedi Bintaro terjadi Senin Pon, 19 Oktober 1987, pukul 07.30. Saat kejadian. Slamet berada di lokomotif KRD 225. Di depannya, di rel yang sama, muncul KA 220 yang melaju dari Tanah Abang menuju Merak.

Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Slamet saat maut berada di depan matanya. Dia hanya mampu mengucapkan astagfirullahaladzim berulang-ulang sambil mencoba sekuat tenaga mengerem dan membunyikan "klakson" kereta. Slamet baru tersadar ketika sudah beradadi ruang ICU RS Kramat Jati dengan luka-luka di sekujur tubuh. Kaki kanannya patah. Kulit pinggulnya sobek. Selain itu, semua giginya rontok gara-gara terhantam handle rem kereta. Begitu tabrakan terjadi, tubuh Slamet terlempar hingga belakang jok masinis.

"Saya melihat sinyal aman ketika memasuki halte Pondok Bitung. Namun, secara bersamaan, dari arah berlawanan tiba-tiba muncul KA 220. lalu derrr...! Tabrakan maul itu tidak bisa terhindarkan," tutur dia. Kecepatan kereta yang dikemudikan oleh Slamet saat itu sekitar 40 km/jam. "Saya langsung tidak sadar dengan luka-luka di banyak bagian. Saya baru sadar ketika berada di rumah sakit," ungkap pria yang pernah tercatat sebagai pegawai negeri sipil dengan NIP 120033237 itu.

Selaku mantan masinis. Slamet secara gamblang bisa membayangkan apa yang dirasakan oleh masinis KA Argo Bromo
Anggrek M. Halik Rusdianto, yang bernasib serupa dengannya. "Dalam setiap kecelakaan KA. masinis selalu menjadi kambing hitam utama. Pertimbangannya, perannya sangat vital. Saya yakin bahwa Pak Halik pasti mendapatkan interogasi panjang setelah kejadian." tuturnya.

Untuk itu. Slamet berpesan kepada Halik untuk menceritakan apa adanya. "Setahu saya, seorang masinis baru menjalankan kereta atau memasuki stasiun ketika ada sinyal aman dari petugas pemberitahuan tentang persilangan (FTP)." tambah dia.

"Jika itu yang terjadi di Petarukan, Pemalang, secara pribadi saya tidak terima kalau masinis dikambinghrtamkan. Jika diminta menjadi saksi ahli dalam sidang nanti, saya bersedia," ungkap bapak yang ke mana-mana selalu membawa surat-surat penting kenangannya selama menjadi masinis dan dokumen proses peradilan yang menjadikannya terdakwa dalam tragedi Bintaro itu.
sumber :
https://www.facebook.com/notes/rara-riri-ruru/slamet-suradio-masinis-ka-dalam-tragedi-bintaro-1987-hidupnya-kini/162210610484966

Pembangunan Jalan di Purworejo Masa Belanda

Pasca Pangeran Diponegoro ditangkap di Magelang tanggal 25 Maret 1830 dan di asingkan ke Manado yang kemudian di pindahkan ke Makasar, banyak gangguan yang terjadi diwilayah sekitar kawasan wilayah Purworejo, terutama di perbatasan Magelang. Peristiwa ini dianggap membahayakan pemulihan ekonomi maupun keamanan Pemerintahan Hindia Belanda, maka akhirnya dibangun jalan yang hingga kini masih bisa digunakan. Hal ini dilakukan untuk menghindari wilayah yang menjadi basis pengikut Pangeran Diponegoro yang masih setia bergerilya. Pembangunan sarana transportasi berupa jalan dimulai dari tahun 1836. Pada saat itu dibangun jembatan konstruksi batu bata pada sungai Bengkal di distrik Loano, diperkuat dengan konstruksi kayu jati dan glugu.

Tahun 1838 dibuat pula jembatan pada sungai Bagawanta sepanjang 200 kaki, lebar 24 kaki dan tinggi 9 kaki. Pembangunan sarana jalan baru menurut seorang sejarah adalah akibat pelaksanaan sistem tanam paksa. Jalur ke arah utara ini dengan rute di luar daerah pengaruh Pangeran Diponegoro dari Loano melintasi bukit Cacaban, Bener, Kalijambe, Margoyoso, Salaman terus ke Magelang. Jalan baru alteratif ini dilaksanakan dengan wajib kerja umum oleh petani tanpa imbalan upah. Alasannya karena, jalan tersebut untuk kepentingan rakyat sendiri yang sudah sejak dahulu dipergunakan oleh para kuli angkut barang dari daerah Bagelen ke Semarang atau sebaliknya.asi untuk meningkatkan produksi pertanian maupun perkebunan. 

Berdasarkan prasasti tugu peringatan pembangunan jalan di kecamatan Bener, dinyatakan bahwa jalur jalan baru yang diperingati dengan tugu tersebut dibangun atas perintah penguasa Karesidenan Bagelen Jonkh J.G o.s von Schmidt Auf altenstadh dan R.de Fillietas Bousqet dibantu oleh Raden Adipati Cokronagoro, Regent (Bupati) Purworejo tahun 1845-1850. Pembangunan jalan raya baru disisi lain dilaksanakan selama 3 tahun, dari tahun 1848-1850 dengan mengerahkan petani pada waktu luang dan dibiayai sebesar f 4.000 untuk pembelian peralatan dan dana untuk kenduri atau selamatan. Dengan adanya jalan baru ini, maka lalu lintas jalan raya dan angkutan barang dialihkan, yang semula lewat jalan tradisional dilewatkan jalan baru yang dianggap lebih aman dari gangguan kraman (pemberontak). Sedangkan jalan tradisional yang ada sengaja dibiarkan terbengkalai dan tersisihkan.

Selain itu untuk wilayah barat Purworejo dibangun jalan tepatnya melalui Kedungkebo hingga Gombong dan diteruskan ke Cilacap. Jalan baru tersebut sangat penting bagi mobilitas militer dalam mengamankan politik pemerintah dan memperlancar angkutan komoditi ekspor yang akan diangkut kapal melalui pelabuhan Cilacap, pelabuhan Semarang untuk di ekspor ke pasar Eropa.

sumber :

Friday, April 10, 2015

TUGAS PRAJURIT ADALAH BERPERANG

Untuk semua anak Indonesia pasti pernah membaca buku sejarah tentang Kerajaan Majapahit yang secara garis besar saja kita mengenal Pahlawan Majapahit yang terkenal yaitu Patih Gajah Mada dengan sumpahnya yaitu Sumpah Palapa. Di mana sumpah tersebut ia ucapkan ketika diangkat sebagai Mahapatih Kerajaan Majapahit. Tak pelak, dimasa tugasnya Majapahit menjadi kerajaan yang mempunyai pengaruh dan kekuasaan besar khususnya di kawasan Asia Tenggara. Ia terkenal begitu hebat sehingga dengan sangat mudahnya menaklukkan daerah daerah di sekitar Majapahit. 

Pernahkan juga anda mendengar kisah seorang Pahlawan Yunani yang bernama Achilles yang gagah berani dan sangat hebat terlebih lagi dia adalah manusia setengah dewa. Yang ingin kami angkat bukanlah cerita kehebatan-kehebatan mereka dalam berperang ataupun menaklukkan daerah lain tapi tahukan anda di balik perjuangan mereka, tentu ada Pemimpin di atas mereka yaitu Raja. Raja Majapahit Prabu Hayam Wuruk mungkin tak akan tahu betapa Patih Gajah Mada mengorbankan seluruh jiwa raga dan kehebatanya dalam berperang. Yang ia ketahui paling hanyalah hasil akhirnya yaitu daerah kekuasaan yang luas serta upeti-upeti dari daerah kekuasaan Majapahit tersebut, atau dengan mudahnya dia akan mengambil selir-selir dari daerah kekuasaanya tersebut.

Raja Agamammon juga tak akan tahu betapa seorang Achilles memepertaruhkan seluruh jiwa raga dan kehebataannya untuk merebut kerajaan Troya. Yang dia ketahui hanyalah berpesta menikmati harta dan wanita-wanita hasil rampasan perang. Itulah Prajurit dimana saja dan kapan saja, dimasa lalu atau bahkan sampai sekarang tetaplah sama yaitu bertugas untuk berperang. Mungkin dimasa sekarang bukanlah berperang dalam arti yang sebenarnya . Seorang karyawan berperang (bekerja-red) dengan sepenuh hatinya sehingga menghasilkan produk dengan kualitas bagus sehingga laris dijual sehingga perusahaannya untung besar. Seorang wartawan berusaha mencari berita sebagus-bagusnya yang mungkin masih jadi hot topik sehingga koran/majalah tempatnya bekerja dibaca dan dibeli banyak orang sehingga penerbitnya untung besar. Begitupun seorang Perangkat Desa yang rela bekerja sampai larut dan sampai penat sehingga SPJ (pekerjaan-red) yang dikerjakannya sukses diterima Pak Camat. 

Dari cerita cerita di atas kira-kira apa yang terbersit dalam benak anda? dalam hal ini penulis mencoba menarik kesimpulan seperti yang tersirat dalam posting ini .TUGAS PRAJURIT ADALAH BERPERANG. Mungkin seorang bos atau seorang pemimpin tak akan pernah tau bagaimana sulitnya mengerjakan job kita. Mereka hanya akan bangga dan puas ketika perusahaan mereka untung besar.  sekali lagi membuat setiap detail pekerjaan agar sempurna adalah tugas kita sebagai prajurit sehingga Raja Agamammon dan atau sebagainya puas dan bangga pada kita.

Wassalam .......

Thursday, April 9, 2015

Bedug Purworejo Menggema hingga Negeri Jiran

KEBERADAAN Bedug Pendawa di Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo yang diklaim sebagai bedug terbesar dan terunik di dunia, membuat daerah ini dikenal sebagi tempat pembuatan bedug.

Kualitas produk bedugnya memang sudah diakui. Bagaimana sejarah dan perkembangan kerajinan bedug dari daerah ini?

Ukuran bedug Pendawa memang super besar. Dibuat pada masa pemerintahan bupati Purworejo pertama KR Adipati Cokronagoro I. bedug tersebut terbuat dari bonggol kayu jati gelondongan utuh tanpa sambungan yang umurnya sudah mencapai ratusan tahun. bedug yang juga diberi nama bedug Kiai Bagelen itu bergaris tengah bagian depan 194 cm, garis tengah bagian belakang 180 cm, keliling lingkar bagian depan 601 cm, keliling lingkar bagian belakang 564 cm, panjang badan bedug 292 cm.

Untuk memaku kulit bedug, di bagian depan dipergunakan paku keliling sebanyak 112 buah dan bagian belakang 98 buah. Pembuatannya diperkirakan antara tahun 1834 dan 1840 Masehi.

Keberadaan bedug yang telah melegenda ini menginspirasi H Ahmad Dahlan, seorang muslim dari Desa Kroyo, Kecamatan Gebang, Purworejo untuk membuat bedug serupa dari kayu gelondongan tanpa sambungan. Keahliannya diteruskan oleh anaknya, H Chudori.

Dalam perkembangangannya, bedug kayu gelondongan ini menjadi semacam trade mark produk bedug dari Purworejo.

Taufikirrasyidin (39) dan Fauzi Latif (38) adalah generasi ketiga dari H Ahmad Dahlan yang meneruskan keahlian membuat bedug.

Fauzi menceritakan, kemampuan pembuatan bedug yang dimiliki kakeknya diperoleh dari autodidak pada zaman kolonial Belanda. ”Dulu kakek membuat bedug dengan niat ibadah membuat alat penanda waktu shalat,” katanya.

Diceritakan, keteguhan membuat bedug itu yang justru mengantarkan kakeknya dibunuh bala tentara Belanda.

”Waktu itu bedug dianggap menjadi alat untuk mengumpulkan orang. Rumah kami di sini dulu menjadi tempat pengajian dan syiar Islam. Mungkin Belanda khawatir dengan aktivfitas kakek, sehingga rumah kami dibakar dan kakek saya ditembak hingga akhirnya meninggal dunia,” katanya mengutip cerita ayahnya.

Sepeninggal H Ahmad Dahlan, usaha pembuatan bedug itu memang sempat terhenti. Namun setelah situasi memungkinkan, H Chudori yang memang sudah menguasai keahlian yang diwariskan bapaknya itu memulai membuat bedug kayu gelondongan lagi.

”Kakek berpesan agar pembuatan bedug ini diteruskan. Pikiran kakek sederhana, supaya umat muslim tidak kesulitan untuk mendapatkan alat penanda waktu shalat yang ditempatkan di masjid,” katanya.

Pesan serupa juga diwasiatkan H Chudori kepada kedua anaknya itu sebelum akhirnya meninggal dunia tahun 2001 lalu. ”Pesan itu akan terus kami jaga. Kami akan terus membuat bedug, selagi masih ada yang memesan,” katanya.

bedug karya warga RT 3 RW 4 ini memang tergolong unik dibandingkan produk bedug dari daerah lain. Dibuat utuh dari kayu gelondongan tanpa ada sambungannya. Bagian tengah kayu dibuang, baru kemudian ditutup menggunakan kulit (lulang).

Dulunya, sambung Taufik, semua kayu dibuat sebagai bahan baku bedug, terutama kayu jati yang terbukti mampu menghasilkan suara bagus. Namun dalam perkembangannya, jumlah kayu semakin terbatas. Belakangan ini Fauzi membuat bedug gelondongan dengan ukuran besar menggunakan kayu trembesi. ”Kayu jati sudah langka dan harganya mahal. Yang masih memungkinkan adalah kayu trembesi,” katanya.

Keunikan lainnya, produk bedug ini memiliki bagian yang disebut rau di kedua ujung lubangnya. Rau ini berfungsi untuk menggemakan suara. ”Rau ini menjadi ciri khas bedug kami yang tidak ada di produk bedug lainnya. Rau membuat suara bedug jadi menggema,” katanya.

Untuk mendapatkan bahan baku kayu, selain berburu di daerah sekitar Purworejo, Fauzi juga bekerja sama dengan para pedagang kayu dari luar daerah, seperti Jawa Barat dan Jawa Timur. Setiap ada informasi kayu besar, langsung didatangi untuk mengecek kelayakannya.

Sementara bahan baku lulang (kulit) diperoleh dari para pengepul di Kabupaten Purworejo. Lulang sapi betina yang dipilih, karena di samping menghasilkan suara yang lebih bagus, juga kuat karena ketebalannya merata.

Penjualan bedug ini tidak hanya di pasar lokal saja. Pesanan paling banyak justru dari luar daerah, seperti Jakarta, Jawa Timur, Semarang, Bandung. Untuk luar Jawa sudah mencapai Sulawesi dan Sumatra. Belakangan bahkan baru saja dikirim bedug berukuran besar ke negeri jiran, Malaysia.

Ukuran bedug yang dibuat bervariasi, mulai dari yang terkecil 40 cm hingga yang saat ini dikerjakan bergaris tengah 1,5 meter. ”Bahannya dari kayu trembesi, kita peroleh dari pedesaan Sutoragan, Kemiri,” kataya.

Menjelang Ramadan seperti sekarang ini, pesanan bedug melonjak drastis. Hari-hari biasa dalam sebulan rata-rata pesanan maksimal hanya dua bedug. Namun satu hingga dua bulan menjelang Ramadan, bisa mencapai sepuluh bedug.

Gejala pasar itu sudah rutin setiap tahun dan selalu bisa diantisipasi. Tujuh pekerja yang ikut membantu usaha ini telah membuat bahan dasar mentah bedug beberapa bulan sebelum Ramadan, sehingga saat dibutuhkan untuk pembuatan bedug, tinggal proses finishing. ”Pengerjaan satu bedug tergantung ukurannya. Yang kecil, paling dua minggu selesai,” katanya.

Harga yang patok bervariasi, tergantung ukurannya. Paling murah dijual dengan harga Rp 2 juta dan yang paling mahal dengan ukuran super besar bisa mencapai Rp 50 juta.

Harga itu bisa naik setiap saat, menyesuaikan harga bahan baku, terutama kayu.

Selain memproduksi bedug, Taufik dan Fauzi juga membuat perangkat rebana dan kendang. Untuk rebana harga satu setnya Rp 1,3 juta. Penjualannya menjelang Ramadan juga meningkat mencapai 50 set, sedangkan kendang dijual dengan harga Rp 1 juta.

”Untuk rebana, bahan baku kuningan didatangkan dari Tegal, sedangkan kayunya merupakan sisa kayu pembuatan bedug,” tandasnya.

Sumber: Suaramerdeka

TERNYATA ROKOK ITU TIDAK BERBAHAYA............!!!!

                                ilustrasi perokok

Banyak orang menghawatirkan bahaya rokok dan menakutinya, tapi setelah diselidiki oleh beberapa pakar dalam bidangnya ternyata rokok itu sama sekali tidak berbahaya.

Kemudian para pakar sepakat untuk membuktikannya dengan mengambil dari beberapa hikayat pada zaman dahulu kala di mana pada waktu itu nenek moyang kita pun telah membuktikannya melalui beberapa percobaan, buktinya seperti cerita di bawah ini, dia tetap sehat walafiat.

Untuk lebih jelasnya dapat dibuktikan lewat penemuan oleh beberapa dari ahli di bawah ini.
Pada zaman dahulu kala, ada tiga orang dokter. Mereka selalu bersama kemana saja mereka pergi. Tapi ketiga-tiganya memiliki kegemaran berlainan.

A. dr Jon Poni (suka main perempuan)
B. dr Jon Joni (suka minum minuman keras)
C. dr Jon Doni (suka segala jenis rokok) .

Suatu hari ketiga sahabat ini berjalan jalan tanpa tujuan. Tiba-tiba ketiganya bertemu dengan sebuah ketel/ kendi (seperti cerita Aladin). Lalu salah seorang mengambilnya lalu menggosok ketel tersebut. Sejurus kemudian asap keluar dari corong ketel tersebut dan secara perlahan berganti menjadi satu makluk yang menyeramkan yakni sesosok jin yang ganas. Lalu jin tersebut tertawa: “Ha ha ha…” dan berkata “Akulah Jin Ifrit! karena kamu telah membebaskan aku dari ketel itu maka aku akan tunaikan apa saja permintaan kamu sekalian. '

Ketiga sahabat yang pada mulanya panik dan takut menjadi gembira lalu termenung dan berpikir tentang peluang dan kemauan masing-masing yang mungkin hanya sekali mereka jumpai dalam hidup mereka. Lalu mereka memilih kemauan mengikuti kegemaran masing-masing.

Berkatalah si A,”Aku mau perempuan-perempuan muda dari berbagai bangsa di seluruh dunia dan letakkan dalam sebuah gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 10 tahun.”
Buzzz……..!! dengan sekejap mata jin itu menyempurnakan permintaan si A.

Berkata si B, “Aku mau semua jenis arak dari seluruh dunia untuk bekal selama sepuluh tahun dan letakkan dalam sebuah gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 10 tahun.”
Buzzz………. !! dengan sekejap mata jin itu menyempurnakan permintaan si B.

Berkata pula si C,”Aku mau semua jenis rokok dari seluruh dunia untuk bekal selama sepuluh tahun dan letakkan dalam sebuah gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 10
tahun.”
Buzzzz……… !! dengan sekejap mata jin itu menyempurnakan permintaan si C.

Singkat kata singkat cerita …

Setelah genap 10 tahun, maka jin tersebut muncul kembali untuk membuka pintu gua masing-masing sebagaimana yang dijanjikan. Maka jin tersebut pergi membuka pintu gua si A, ketika dibuka maka keluarlah si A dengan keadaan kurus kering, berdiri pun tidak bisa karena tidak sanggup untuk menggerakkan lutut sebab hari-hari hanya memuaskan nafsu dengan perempuan. Tiba-tiba si A pun jatuh ketanah lalu mati!!

Setelah itu jin tersebut pergi ke gua si B, ketika pintu dibuka maka keluarlah si B dengan perut yang sangat buncit karena hari-hari mabuk-mabukan. Jalan pun terhuyung-huyung.Tiba-tiba si B pun jatuh ketanah lalu mati !!

Setelah itu jin pergi ke gua si C dan membuka pintu gua. Tiba-tiba si C keluar
dalam keadaan sehat wal afiat dan terus menampar si jin. Sambil memaki si jin, ia
berkata: "Jin goblooook ….!!!! Koreknya mana???!!!"

Kesimpulan : “Rokok tidak berbahaya sepanjang tidak ada koreknya”

Wednesday, April 8, 2015

Peringatan MEROKOK MEMBUNUHMU adalah Tipu Muslihat Kartel Rokok Luar Negeri


Di dalam sejarah pertanian kita, belum pernah ada semangat memojokkan tembakau, termasuk produk olahannya, seperti terjadi saat ini.

Berbagai cara ditempuh, demi mencapai tujuan pokoknya. Tapi jika diamati baik-baik, tampaknya, alhamdulillah, semangat itu tidak mematikan, dan boleh jadi tidak akan pernah mematikan. Nafsu untuk— istilah mereka—memuseumkan ”keretek”, produk olahan tembakau tadi, tak bakalan bisa dicapai.

Kita tahu dasar pertimbangan yang disiarkan secara global semangat itu dibangun demi alasan yang begitu indah dan manusiawi: kesehatan masyarakat. Tapi jika ditelusuri secara lebih saksama dan lebih mendalam, semangat itu berdiri di belakang perang dagang.

Pemilik industri olahan tembakau di luar negeri, yang ingin mencaplok secara serakah bisnis di bidang itu, dengan canggih tapi penuh tipu muslihat, dan bohong, menggunakan isu kesehatan untuk memenangkan pertarungan di negeri kita. Isu bahwa merokok merusak kesehatan, dengan berbagai macam penjelasan yang menakutkan, di sini tidak mempan.

Para perokok tetap merokok. Kelihatannya mereka tak begitu takut pada ancaman itu. Ketika isu kesehatan tak mengubah keadaan, dipakailah isu ekonomi, yang kelihatannya sama saja. Suara mereka tak begitu didengar orang. Muncul isu lain, yang merupakan kalkulasi strategis, dengan melihat bahwa dilihat dari komposisi penduduk kita, mayoritas kita pemeluk Islam.

Di sana kata halal-haram menjadi isu moral yang luar biasa penting, karena hal itu langsung berhubungan dengan Tuhan. Maka strategi canggih mereka, disertai dana besar yang pendukung strategi itu, memandang penggunaan kata haram akan manjur. Lalu disebutlah bahwa merokok itu haram. Tapi pilihan langkah ini pun membentur tembok.

Para perokok tak peduli pada fatwa itu, karena ada fatwa lain, dari komunitas orang-orang beriman yang jumlahnya lebih besar, tidak mengharamkan merokok. Status hukum merokok bagi mereka hanya makruh. Ini pilihan pribadi. Strategi yang tak mempan ini membuat mereka kecewa. Sekarang, mereka kembali lagi ke alasan semula: alasan kesehatan.

Ancaman yang menyebutkan bahwa, dulu, merokok mengganggu kesehatan ini dan itu, kini diganti, merokok: ”membunuhmu”. Ini bukan bahasa ilmu pengetahuan, bukan pula kebijakan yang dilandasi oleh suatu temuan yang meyakinkan, melainkan cerminan dari bahasa politik dagang yang tak melarang menggunakan kebohongan di sana sini.

Bahasa ancaman, dan manipulasi di dalamnya, boleh dipakai, asal bisa dianggap mendukung langkah untuk menuju kemenangan. Kelihatannya perlu sekali diwaspadai, bahwa ancaman ”merokok membunuhmu”, yang dipasang di tiap-tiap bungkus keretek, disertai gambargambar mengerikan, itu contoh strategi politik dagang. untuk memenangkan persaingan di pasar bebas.

Sekali lagi, ”merokok membunuhmu”, merupakan ancaman agar industri olahan tembakau di negeri kita tidak berkembang. Untuk sementara, mereka dibunuh dulu, dengan dukungan para pejabat kita sendiri. Kalau industri kita sudah mati, gampanglah mengatur strategi baru, sesudah semuanya dikuasai dan sepenuhnya di tangan bangsa asing.


Mungkin kelak mereka akan berteriak: merokok tanda orang sehat? Sekarang ini, ancaman ”merokok membunuhmu”, sebetulnya tidak lain dari sikap politik dagang, dan kebijakan pemerintah yang mendukung politik dagang bangsa asing itu, untuk memenangkan perang dagang yang didambakan bangsa asing di negeri kita ini.

Sikap pemerintah yang lebih mengutamakan impor tembakau sebesar-besarnya, jelas dirasuki semangat membunuh petani tembakau kita sendiri. Pejabat kita hanya tampil sebagai orang netral? Kalau mereka netral, tanpa unsur pengaruh kepentingan asing, itu sudah mulia.

Netral pun mereka tidak. Kecenderungannya jelas: mereka memojokkan petani tembakau kita sendiri. Selain itu, berbagai langkah ditempuh agar petani beralih ke pertanian lain yang bukan tembakau. Kalau mereka mendengar saran berbahaya ini—tapi tidak ada petani yang menggubris ajakan pejabat—tanaman tembakau mati.

Dan kelak, sebentar lagi, bangsa asing yang datang sesudahnya, akan menghidupkan kembali tanaman tembakau itu untuk kepentingan dagang yang sangat menguntungkan itu.

Langkah menaikkan cukai, dari tahun ke tahun selalu naik, dan kini cukai kita menghasilkan sumbangan ratusan triliun buat APBN, apa artinya bila bukan untuk membunuh industri kita sendiri, dan menggelar karpet merah bagi usaha dagang asing di negeri kita?

Semangat menaikkan cukai ini telah membunuh tiga ratusan ”home industries” di bidang pengolahan tembakau, yang merupakan kebanggaan daerah masing masing, dan itu artinya juga kebanggaan bangsa kita. Tapi mengapa kekejaman ini ditempuh terus menerus, hingga kini, jumlah industri kita tinggal ibarat ”segenggam”, dan jumlah pengusaha asing makin meningkat dan makin meningkat?

Dalam bulan bulan terakhir ini, isu menaikkan cukai dikutuk media, sebagai langkah pemerintahan yang malas, yang tak bisa mencari sumber APBN yang lain. DPR menyesalkan dan minta kenaikan cukai ditunda. Dan berbagai unsur masyarakat sipil menyuarakan semangat yang sama, sebagai tanda komitmen kebangsaan yang besar.

Omong kosong apakah yang ada di balik ”merokok membunuhmu” itu, ketika kita ketahui bangsa produksi tahunan industri keretek asing, yang ada di negeri kita ini malah meningkat dan meningkat menjadi produk maha raksasa yang keuntungannya menggiurkan para pedagang?

Merokok membunuh orang, tapi produk rokok mereka meningkat begitu mengerikannya. Apakah mereka sengaja mau mengabaikan peringatan itu? Tidak. Mereka orang baik dan sangat manusiawi. Pedagang bukan pembunuh. Mereka hanya ingin menggaet untung besar, sebesar-besarnya, tanpa saingan, tanpa musuh.

Pendeknya, mereka hanya akan melakukan monopoli datang. Hanya itu. Selebihnya, pemerintah kita membantu, dan siap berdiri di belakang kepentingan asing itu. Mereka bersuara seperti nabi-nabi yang ingin menyelamatkan manusia di dunia, tapi intinya bukan itu. Tujuan mereka jelas hanya satu: memenangkan persaingan dagang.

Dan bukan urusan kesehatan. Kelak, sesudah menang dalam persaingan, barulah bicara keuntungan yang pasti sudah ada dalam genggaman. Selain itu, kebohongan apa lagi yang ada di balik ”merokok membunuhmu” kalau kenyataannya, pengusaha demi pengusaha asing, kelihatan berebut lahan bisnis pengolahan tembakau di negeri kita, dengan keserakahan seperti serigala berebut mangsa di hutan belantara?

Apa mereka mau mengabaikan ancaman ”merokok membunuhmu” tadi? Tidak. Sama sekali tidak. Mereka tak peduli pada omongan itu. Apa yang mereka cari, dengan berbagai cara untuk menang, ialah keuntungan, duit, keuntungan dan duit, dan kejayaan.

Bangsa-bangsa asing yang jauh, dan bangsa-bangsa asing di Asia, yang dekat, hadir di sini, saling mencakar saling ”menubruk” untuk menguasai tembakau dan produk olahannya. Mereka bersuara seperti nabi-nabi baru, untuk menyelamatkan manusia di bumi. Tapi sebenarnya mereka tak punya rasa peduli apa pun kecuali berbisnis dan merebut keuntungan dan keuntungan.

Mereka nabi-nabi palsu di dalam bisnis tembakau yang kejam. Suara mereka seolah hendak menyelamatkan manusia di bumi ini, tapi sebenarnya mereka mencari selamat sendiri-sendiri.

oleh :
Mohamad Sobary
Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan. Email: dandanggula@hotmail.com


http://nasional.sindonews.com/read/985555/18/nabi-palsu-bisnis-tembakau-1428290033/2 



Di dalam sejarah pertanian kita, belum pernah ada semangat memojokkan tembakau, termasuk produk olahannya, seperti terjadi saat ini.

Berbagai cara ditempuh, demi mencapai tujuan pokoknya. Tapi jika diamati baik-baik, tampaknya, alhamdulillah, semangat itu tidak mematikan, dan boleh jadi tidak akan pernah mematikan. Nafsu untuk— istilah mereka—memuseumkan ”keretek”, produk olahan tembakau tadi, tak bakalan bisa dicapai.

Kita tahu dasar pertimbangan yang disiarkan secara global semangat itu dibangun demi alasan yang begitu indah dan manusiawi: kesehatan masyarakat. Tapi jika ditelusuri secara lebih saksama dan lebih mendalam, semangat itu berdiri di belakang perang dagang.

Pemilik industri olahan tembakau di luar negeri, yang ingin mencaplok secara serakah bisnis di bidang itu, dengan canggih tapi penuh tipu muslihat, dan bohong, menggunakan isu kesehatan untuk memenangkan pertarungan di negeri kita. Isu bahwa merokok merusak kesehatan, dengan berbagai macam penjelasan yang menakutkan, di sini tidak mempan.

Para perokok tetap merokok. Kelihatannya mereka tak begitu takut pada ancaman itu. Ketika isu kesehatan tak mengubah keadaan, dipakailah isu ekonomi, yang kelihatannya sama saja. Suara mereka tak begitu didengar orang. Muncul isu lain, yang merupakan kalkulasi strategis, dengan melihat bahwa dilihat dari komposisi penduduk kita, mayoritas kita pemeluk Islam.

Di sana kata halal-haram menjadi isu moral yang luar biasa penting, karena hal itu langsung berhubungan dengan Tuhan. Maka strategicanggihmereka, disertai dana besar yang pendukung strategi itu, memandang penggunaankataharamakanmanjur. Lalu disebutlah bahwa merokok itu haram. Tapi pilihan langkah ini pun membentur tembok.

Para perokok tak peduli pada fatwa itu, karena ada fatwa lain, dari komunitasorang-orangberiman yang jumlahnya lebih besar, tidak mengharamkan merokok. Status hukum merokok bagi mereka hanya makruh. Ini pilihan pribadi. Strategi yang tak mempan ini membuat mereka kecewa. Sekarang, mereka kembali lagi ke alasan semula: alasan kesehatan.

Ancaman yang menyebutkan bahwa, dulu, merokok mengganggu kesehatan ini dan itu, kini diganti, merokok: ”membunuhmu”. Ini bukan bahasa ilmu pengetahuan, bukan pula kebijakan yang dilandasi oleh suatu temuan yang meyakinkan, melainkan cerminan dari bahasa politik dagang yang tak melarang menggunakan kebohongan di sana sini.

Bahasa ancaman, dan manipulasi di dalamnya, boleh dipakai, asal bisa dianggap mendukung langkah untuk menuju kemenangan. Kelihatannya perlu sekali diwaspadai, bahwa ancaman ”merokok membunuhmu”, yang dipasang di tiap-tiap bungkus keretek, disertai gambargambar mengerikan, itu contoh strategi politik dagang. untuk memenangkan persaingan di pasar bebas.

Sekali lagi, ”merokok membunuhmu”, merupakan ancaman agar industri olahan tembakau di negeri kita tidak berkembang. Untuk sementara, mereka dibunuh dulu, dengan dukungan para pejabat kita sendiri. Kalau industri kita sudah mati, gampanglah mengatur strategi baru, sesudah semuanya dikuasai dan sepenuhnya di tangan bangsa asing.

source: http://nasional.sindonews.com/read/985555/18/nabi-palsu-bisnis-tembakau-1428290033/

Di dalam sejarah pertanian kita, belum pernah ada semangat memojokkan tembakau, termasuk produk olahannya, seperti terjadi saat ini.

Berbagai cara ditempuh, demi mencapai tujuan pokoknya. Tapi jika diamati baik-baik, tampaknya, alhamdulillah, semangat itu tidak mematikan, dan boleh jadi tidak akan pernah mematikan. Nafsu untuk— istilah mereka—memuseumkan ”keretek”, produk olahan tembakau tadi, tak bakalan bisa dicapai.

Kita tahu dasar pertimbangan yang disiarkan secara global semangat itu dibangun demi alasan yang begitu indah dan manusiawi: kesehatan masyarakat. Tapi jika ditelusuri secara lebih saksama dan lebih mendalam, semangat itu berdiri di belakang perang dagang.

Pemilik industri olahan tembakau di luar negeri, yang ingin mencaplok secara serakah bisnis di bidang itu, dengan canggih tapi penuh tipu muslihat, dan bohong, menggunakan isu kesehatan untuk memenangkan pertarungan di negeri kita. Isu bahwa merokok merusak kesehatan, dengan berbagai macam penjelasan yang menakutkan, di sini tidak mempan.

Para perokok tetap merokok. Kelihatannya mereka tak begitu takut pada ancaman itu. Ketika isu kesehatan tak mengubah keadaan, dipakailah isu ekonomi, yang kelihatannya sama saja. Suara mereka tak begitu didengar orang. Muncul isu lain, yang merupakan kalkulasi strategis, dengan melihat bahwa dilihat dari komposisi penduduk kita, mayoritas kita pemeluk Islam.

Di sana kata halal-haram menjadi isu moral yang luar biasa penting, karena hal itu langsung berhubungan dengan Tuhan. Maka strategicanggihmereka, disertai dana besar yang pendukung strategi itu, memandang penggunaankataharamakanmanjur. Lalu disebutlah bahwa merokok itu haram. Tapi pilihan langkah ini pun membentur tembok.

Para perokok tak peduli pada fatwa itu, karena ada fatwa lain, dari komunitasorang-orangberiman yang jumlahnya lebih besar, tidak mengharamkan merokok. Status hukum merokok bagi mereka hanya makruh. Ini pilihan pribadi. Strategi yang tak mempan ini membuat mereka kecewa. Sekarang, mereka kembali lagi ke alasan semula: alasan kesehatan.

Ancaman yang menyebutkan bahwa, dulu, merokok mengganggu kesehatan ini dan itu, kini diganti, merokok: ”membunuhmu”. Ini bukan bahasa ilmu pengetahuan, bukan pula kebijakan yang dilandasi oleh suatu temuan yang meyakinkan, melainkan cerminan dari bahasa politik dagang yang tak melarang menggunakan kebohongan di sana sini.

Bahasa ancaman, dan manipulasi di dalamnya, boleh dipakai, asal bisa dianggap mendukung langkah untuk menuju kemenangan. Kelihatannya perlu sekali diwaspadai, bahwa ancaman ”merokok membunuhmu”, yang dipasang di tiap-tiap bungkus keretek, disertai gambargambar mengerikan, itu contoh strategi politik dagang. untuk memenangkan persaingan di pasar bebas.

Sekali lagi, ”merokok membunuhmu”, merupakan ancaman agar industri olahan tembakau di negeri kita tidak berkembang. Untuk sementara, mereka dibunuh dulu, dengan dukungan para pejabat kita sendiri. Kalau industri kita sudah mati, gampanglah mengatur strategi baru, sesudah semuanya dikuasai dan sepenuhnya di tangan bangsa asing.

source: http://nasional.sindonews.com/read/985555/18/nabi-palsu-bisnis-tembakau-1428290033/
Di dalam sejarah pertanian kita, belum pernah ada semangat memojokkan tembakau, termasuk produk olahannya, seperti terjadi saat ini.

Berbagai cara ditempuh, demi mencapai tujuan pokoknya. Tapi jika diamati baik-baik, tampaknya, alhamdulillah, semangat itu tidak mematikan, dan boleh jadi tidak akan pernah mematikan. Nafsu untuk— istilah mereka—memuseumkan ”keretek”, produk olahan tembakau tadi, tak bakalan bisa dicapai.

Kita tahu dasar pertimbangan yang disiarkan secara global semangat itu dibangun demi alasan yang begitu indah dan manusiawi: kesehatan masyarakat. Tapi jika ditelusuri secara lebih saksama dan lebih mendalam, semangat itu berdiri di belakang perang dagang.

Pemilik industri olahan tembakau di luar negeri, yang ingin mencaplok secara serakah bisnis di bidang itu, dengan canggih tapi penuh tipu muslihat, dan bohong, menggunakan isu kesehatan untuk memenangkan pertarungan di negeri kita. Isu bahwa merokok merusak kesehatan, dengan berbagai macam penjelasan yang menakutkan, di sini tidak mempan.

Para perokok tetap merokok. Kelihatannya mereka tak begitu takut pada ancaman itu. Ketika isu kesehatan tak mengubah keadaan, dipakailah isu ekonomi, yang kelihatannya sama saja. Suara mereka tak begitu didengar orang. Muncul isu lain, yang merupakan kalkulasi strategis, dengan melihat bahwa dilihat dari komposisi penduduk kita, mayoritas kita pemeluk Islam.

Di sana kata halal-haram menjadi isu moral yang luar biasa penting, karena hal itu langsung berhubungan dengan Tuhan. Maka strategicanggihmereka, disertai dana besar yang pendukung strategi itu, memandang penggunaankataharamakanmanjur. Lalu disebutlah bahwa merokok itu haram. Tapi pilihan langkah ini pun membentur tembok.

Para perokok tak peduli pada fatwa itu, karena ada fatwa lain, dari komunitasorang-orangberiman yang jumlahnya lebih besar, tidak mengharamkan merokok. Status hukum merokok bagi mereka hanya makruh. Ini pilihan pribadi. Strategi yang tak mempan ini membuat mereka kecewa. Sekarang, mereka kembali lagi ke alasan semula: alasan kesehatan.

Ancaman yang menyebutkan bahwa, dulu, merokok mengganggu kesehatan ini dan itu, kini diganti, merokok: ”membunuhmu”. Ini bukan bahasa ilmu pengetahuan, bukan pula kebijakan yang dilandasi oleh suatu temuan yang meyakinkan, melainkan cerminan dari bahasa politik dagang yang tak melarang menggunakan kebohongan di sana sini.

Bahasa ancaman, dan manipulasi di dalamnya, boleh dipakai, asal bisa dianggap mendukung langkah untuk menuju kemenangan. Kelihatannya perlu sekali diwaspadai, bahwa ancaman ”merokok membunuhmu”, yang dipasang di tiap-tiap bungkus keretek, disertai gambargambar mengerikan, itu contoh strategi politik dagang. untuk memenangkan persaingan di pasar bebas.

Sekali lagi, ”merokok membunuhmu”, merupakan ancaman agar industri olahan tembakau di negeri kita tidak berkembang. Untuk sementara, mereka dibunuh dulu, dengan dukungan para pejabat kita sendiri. Kalau industri kita sudah mati, gampanglah mengatur strategi baru, sesudah semuanya dikuasai dan sepenuhnya di tangan bangsa asing.

source: http://nasional.sindonews.com/read/985555/18/nabi-palsu-bisnis-tembakau-1428290033/

KESENIAN TRADISIONAL KHAS PURWOREJO “TARI DOLALAK”


Kesenian dolalak adalah salah satu kesenian tradisional kerakyatan yang tumbuh dan berkembang di daerah kabupaten Purworejo sangat pesat, terbukti hampir disetiap Kecamatan ada group kesenian dolalak. kesenian ini menjadi kebanggaan masyarakat Purworejo sebagai bentuk kesenian tradisional khas.

Asal mula kesenian dolalak adalah tari alkulturasi budaya barat ( Belanda ) dan timur ( Jawa ). Pada zaman pemerintahan Belanda, daerah Kabupaten Purworejo terkenal dengan daerah MILISI ( tempat melatih SERDADU / tentara ) dimana anggota milisi itu terdiri dari orang-orang pribumi yang tidak saja berasal dari Purworejo tetapi juga orang-orang dari Purworejo dan para pelatihnya adalah para Serdadu dari belanda. Mereka hidup dalam tangsi / asrama yang jauh dari sanak saudara dan keluarga.

Rupanya kehidupan itu membosankan, mereka mencari hiburan baik didalam maupun diluar tangsi saat istirahat dari latihan militer dengan bernyanyi-nyanyi sambil menari. Bagi mereka yang biasa menari, bagi yang biasa pencak / silat mereka pencak,yang biasa dansa mereka dansa. Hal itu mereka lakukan hanya sekedar untuk menghibur diri dan menghilangkan kebosanan.

Gerakan-gerakan dan lagu yang dirasa menarik itu kemudian menjadi inspirasi pengembangan dari kesenian yang sudah ada  yaitu  kesenian rebana ( Kemprang )dari tiga orang pemuda dari dukuh Sejiwan desaTrirejo kecamatan Loano bernama Rejo Taruno, Duliat dan Ronodimejo ( mereka bersaudara ). Kesenian ini semula dinamai Bangilun ( Berasal dari bahasa Arab FA'ILUN, yang berarti Syiar ). Dalam proses perkembangannya dari pengaruh jaman dan kondisi kemasyarakatan serta penyajiannya maka kesenian ini kemudian menjadi Dolalak yang berasal dari notasi do-la-la. Menurut keterangan dari para ahli warisnya didesa Trirejo bahwa 3 orang tokoh tersebut memiliki kepiawaian yang berbeda, masing-masing dalam hal tari( Duliat ), iringan    (rejo taruno) dan membuat pantun yang kemudian menjadi syair dalam tembang-tembang Dolalak.

Busana yang dikenakan oleh para penarinya ada pngaruh nuansa Belanda, hal ini dapat dilihat dari baju lengan panjang dan celana pendek/tanggung dengan warna gelap(hitam), pangkat/rumbai yang ada di bahu dan di dada,topi pet juga kaca mata hitam. Sampur digunakan sebagai pelengkap busana sekaligus properti, merupakan suatu kebiasaan orang Jawa yang sedang menari selalu menggunakan sampur (selendang).

Dari perkembangan fungsi yang penyajiannya maka lebih mengedepankan fungsi hiburannya daripada syiarnya sedang dalam penyajiannya unsur tari lebih mendominasi. Iringan terdiri dari kemprang, bedhug (jedhur) dan kendang dengan syair yang ditembangkan menjadi penuntun ritme dan “ruh” tarian. Biasa disajikan oleh delapan sampai sepuluh orang penari diatas panggung. Semula penarinya putra namun dalam perkembangannya pun muncul penari putri (sekitar tahun 1978). Hadirnya penariyang mendem (trance) merupakan bumbu/daya tarik penyajiannya, inipun baru muncul sekitar tahun 1945 (keterangan dari mbah Amat Kasan 82 tahun dari desa Kaliharjo Kecamatan Kaligesing).

Tari Dolalak lestari hingga sekarang karena memang masyarakatnya secara turun temurun mencintai dan berusaha mempertahankan keberadaan dengan selalu memelihara dan mengembangkannya agar tidak punah oleh perkembangan jaman. Tari Dolalak telah terbukti sebagai kesenian tradisional khas Purworejo. Keunikan tari Dolalak menjadi daya tarik tersendiri.   
   
       

Tuesday, April 7, 2015

Sejarah Purworejo

Hamparan wilayah yang subur di Jawa Tengah Selatan antara Sungai Progo dan Cingcingguling sejak jaman dahulu kala merupakan kawasan yang dikenal sebagai wilayah yang masuk Kerajaan Galuh. Oleh karena itu menurut Profesor Purbocaraka, wilayah tersebut disebut sebagai wilayah Pagaluhan dan kalau diartikan dalam bahasa Jawa, dinamakan : Pagalihan. Dari nama “Pagalihan” ini lama-lama berubah menjadi : Pagelen dan terakhir menjadi Bagelen. Di kawasan tersebut mengalir sungai yang besar, yang waktu itu dikenal sebagai sungai Watukuro. Nama “ Watukuro “ sampai sekarang masih tersisa dan menjadi nama sebuah desa terletak di tepi sungai dekat muara, masuk dalam wilayah Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Di kawasan lembah sungai Watukuro masyarakatnya hidup makmur dengan mata pencaharian pokok dalam bidang pertanian yang maju dengan kebudayaan yang tinggi.

Pada bulan Asuji tahun Saka 823 hari ke 5, paro peteng, Vurukung, Senin Pahing (Wuku) Mrgasira, bersamaan dengan Siva, atau tanggal    5 Oktober 901 Masehi, terjadilah suatu peristiwa penting, pematokan Tanah Perdikan (Shima). Peristiwa ini dikukuhkan dengan sebuah prasasti batu andesit yang dikenal sebagai prasasti Boro Tengah atau Prasasti Kayu Ara Hiwang.

Prasasti yang ditemukan di bawah pohon Sono di dusun Boro tengah, sekarang masuk wilayah desa Boro Wetan Kecamatan Banyuurip dan sejak tahun 1890 disimpan di Museum Nasional Jakarta Inventaris D 78 Lokasi temuan tersebut terletak di tepi sungai Bogowonto, seberang Pom Bensin Boro.

Dalam Prasasti Boro tengah atau Kayu Ara Hiwang tersebut diungkapkan, bahwa pada tanggal 5 Oktober 901 Masehi, telah diadakan upacara besar yang dihadiri berbagai pejabat dari berbagai daerah, dan menyebut-nyebut nama seorang tokoh, yakni : Sang Ratu Bajra, yang diduga adalah Rakryan Mahamantri/Mapatih Hino Sri Daksottama Bahubajrapratipaksaya atau Daksa yang di identifikasi sebagai adik ipar Rakal Watukura Dyah Balitung dan dikemudian hari memang naik tahta sebagai raja pengganti iparnya itu.

Pematokan (peresmian) tanah perdikan (Shima) Kayu Ara Hiwang dilakukan oleh seorang pangeran, yakni Dyah Sala (Mala), putera Sang Bajra yang berkedudukan di Parivutan.

Pematokan tersebut menandai, desa Kayu Ara Hiwang dijadikan Tanah Perdikan(Shima) dan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak, namun ditugaskan untuk memelihara tempat suci yang disebutkan sebagai “parahiyangan”. Atau para hyang berada.

Dalam peristiwa tersebut dilakukan pensucian segala sesuatu kejelekan yang ada di wilayah Kayu Ara Hiwang yang masuk dalam wilayah Watu Tihang.

“ … Tatkala Rake Wanua Poh Dyah Sala Wka sang Ratu Bajra anak wanua I Pariwutan sumusuk ikanang wanua I Kayu Ara Hiwang watak Watu Tihang …”

Wilayah yang dijadikan tanah perdikan tersebut juga meliputi segala sesuatu yang dimiliki oleh desa Kayu Ara Hiwang antara lain sawah, padang rumput, para petugas (Katika), guha, tanah garapan (Katagan), sawah tadah hujan (gaga).

Disebut-sebutnya “guha” dalam prasasti Kayu Ara Hiwang tersebut ada dugaan, bahwa guha yang dimaksud adalah gua Seplawan, karena di dekat mulut gua Seplawan memang terdapat bangunan suci Candi Ganda Arum, candi yang berbau harum ketika yoninya diangkat. Sedangkan di dalam gua tersebut ditemukan pula sepasang arca emas dan perangkat upacara. Sehingga lokasi kompleks gua Seplawan di duga kuat adalah apa yang dimaksud sebagai “parahyangan” dalam prasasti Kayu Ara Hiwang.

Upacara 5 Oktober 901 M di Boro Tengah tersebut dihadiri sekurang-kurangnya 15 pejabat dari berbagai daerah, antara lain disebutkan nama-nama wilayah : Watu Tihang (Sala Tihang), Gulak, Parangran Wadihadi, Padamuan (Prambanan), Mantyasih (Meteseh Magelang), Mdang, Pupur, Taji (Taji Prambanan) Pakambingan, Kalungan (kalongan, Loano).

Kepada para pejabat tersebut diserahkan pula pasek-pasek berupa kain batik ganja haji patra sisi, emas dan perak. Peristiwa 5 Otober 901 M tersebut akhirnya pada tanggal 5 Oktober 1994 dalam sidang DPRD Kabupaten Purworejo dipilih dan ditetapkan untuk dijadikan Hari jadi Kabupaten Purworejo. Normatif, historis, politis dan budaya lokal dari norma yang ditetapkan oleh panitia, yakni antara lain berdasarkan pandangan Indonesia Sentris.

Perlu dicatat, bahwa sejak jaman dahulu wilayah Kabupaten Purworejo lebih dikenal sebagai wilayah Tanah Bagelen. Kawasan yang sangat disegani oleh wilayah lain, karena dalam sejarah mencatat sejumlah tokoh. Misalnya dalam pengembangan agama islam di Jawa Tengah Selatan, tokoh Sunan Geseng diknal sebagai muballigh besar yang meng-Islam-kan wilayah dari timur sungai Lukola dan pengaruhnya sampai ke daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupatn Magelang.

Dalam pembentukan kerajaan Mataram Islam, para Kenthol Bagelen adalah pasukan andalan dari Sutawijaya yang kemudian setelah bertahta bergelar Panembahan Senapati. Dalam sejarah tercatat bahwa Kenthol Bagelen sangat berperan dalam berbagai operasi militer sehingga nama Begelen sangat disegani.

Paska Perang Jawa, kawasan Kedu Selatan yang dikenal sebagai Tanah Bagelen dijadikn Karesidenan Bagelen dengan Ibukota di Purworejo, sebuah kota baru gabungan dari 2 kota kuno, Kedungkebo dan Brengkelan.

Pada periode Karesidenan Begelen ini, muncul pula tokoh muballigh Kyai Imam Pura yang punya pengaruh sampai ke Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Hampir bersamaan dengan itu, muncul pula tokoh Kyai Sadrach, penginjil Kristen plopor Gereja Kristen Jawa (GKJ).

Dalam perjalanan sejarah, akibat ikut campur tangannya pihak Belanda dalam bentrokan antara para bangsawan kerajaan Mataram, maka wilayah Mataram dipecah mejadi dua kerajaan. Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Tanah Bagelen akibat Perjanjian Giyanti 13 pebruari 1755 tersebut sebagai wilayah Negara Gung juga dibagi, sebagian masuk ke Surakarta dan sebagian lagi masuk ke Yogyakarta, namun pembagian ini tidak jelas batasnya sehingga oleh para ahli dinilai sangat rancu diupamakan sebagai campur baur seperti “rujak”.

Dalam Perang Diponegoro abad ke XIX, wilayah Tanah Bagelen menjadi ajang pertempuran karena pangeran Diponegoro mndapat dukungan luas dari masyarakat setempat. Pada Perang Diponegoro itu, wilayah Bagelen dijadikan karesidenan dan masuk dalam kekuasaan Hindia Belanda dengan ibukotanya Kota Purworejo. Wilayah karesidenan Bagelen dibagi menjadi beberapa kadipaten, antara lain kadipaten Semawung (Kutoarjo) dan Kadipaten Purworejo dipimpin oleh Bupati Pertama Raden Adipati Cokronegoro Pertama. Dalam perkembangannya, Kadipaten Semawung (Kutoarjo) kemudian digabung masuk wilayah Kadipaten Purworejo.

Dengan pertimbangan strategi jangka panjang, mulai 1 Agustus 1901, Karesienan Bagelen dihapus dan digabungkan pada karesidenan kedu. Kota Purworejo yang semula Ibu Kota Karesidenan Bagelen, statusnya menjadi Ibukota Kabupaten.

Tahun 1936, Gubernur Jenderal Hindia belanda merubah administrasi pemerintah di Kedu Selatan, Kabupaten Karanganyar dan Ambal digabungkan menjdi satu dengan kebumen dan menjadi Kabupaten kebumen. Sedangkan Kabupaten Kutoarjo juga digabungkan dengan Purworejo, ditambah sejumlah wilayah yang dahulu masuk administrasi Kabupaten Urut Sewu/Ledok menjadi Kabupaten Purworejo. Sedangkan kabupaten Ledok yang semula bernama Urut Sewu menjadi Kabupaten Wonosobo.

Dalam perkembangan sejarahnya Kabupaten Purworejo dikenal sebagai pelopor di bidang pendidikan dan dikenal sebagai wilayah yang menghasilkan tenaga kerja di bidang pendidikan, pertanian dan militer.

Tokoh-tokoh yang muncul antara lain WR Supratman Komponis lagu Kebangsaan “Indonesia raya”. Jenderal Urip Sumoharjo, Jenderal A. Yani, Sarwo Edy Wibowo dan sebagainya.

Para tokoh maupun tenaga kerja di bidang pertanian pendidikan, militer, seniman dan pekerja lainnya oleh masyarakat luas di tanah air dikenal sebagai orang-orang Bagelen, nama kebangsaan dan yang disegani baik di dalam maupun di luar negeri.

(Sumber: Buku POTENSI WISATA PURWOREJO – Yayasan Arahiwang Purworejo Jakarta).

Kisah Inspiratif dari ARISTOTELES ONASSIS

Aristoteles Onassis dilahirkan pada tanggal 20 Januari 1906 di Simyrna, sebuah kota Yunani yang makmur di pantai Barat Turki. Di antara kesepuluh orang kaya kita, Aristotle Onassis memiliki kekayaan luar biasa, yang dihitung dalam miliaran, bukannya jutaan. Kemasyhuran namanya masih ditambah lagi dengan hubungannya yang penuh gejolak dengan Maria Callas, penyanyi opera yang terkenal, dan kemudian dengan Jacquiline Bouvier Kennedy. Dan seperti lazimnya, berbagai kisah yang dilebih-lebihkan atau setengah dongeng telah beredar, mengenai dia, terutama mengenai asal-usulnya yang sederhana. Konon, ia lahir dari sebuah keluarga miskin, yang hidupnya selalu kekurangan. Konon, ayahnya adalah penjaja dagangan buatan sendiri dari pintu ke pintu, dan ibunya pembantu rumah tangga. Onassis tidak pernah mencoba meluruskan pendapat orang banyak tentang masa lalunya, sekurang-kurangnya dimuka umum, karena kisah-kisah seperti itu biasanya malah menambah cemerlang aura misteri yang mengelilingi dirinya. Ia selalu menyadari pentingnya citra diri seseorang dalam meraih sukses, suatu hal yang akan kita bicarakan lagi nanti.

Dalam kenyataan, ayah Onassis adalah seorang pedagang grosir yang berkecukupan dan mempunyai nama sebab ia juga menjabat presiden sebuah bank dan rumah sakit setempat. Namun Onassis bukan ahli waris kekayaan ayahnya, dan ia menjadi kaya karena kekayaan keluarganya. Seperti yang akan kita lihat, ia pergi ke Amerika Serikat ketika terjadi pertikaian keluarga selagi ia berumur 17 tahun. Ia membawa bekal $450 dalam sakunya, itu pun hanya $250 adalah uang dari keluarganya. Ayahnya dengan enggan memberikan uang sebanyak itu yang baru diberikan pada saat akan terpisah, sebab ia tidak setuju dengan kepergiannya. Ayah dan anak memang tidak pernah akrab, suatu hal yang aneh di antara keluarga Yunani di tanah air. Ayah Onassis yang dibesarkan pada sebuah pertanian dengan susah payah mengumpulkan kekayaan.

Wataknya sangat disiplin dan keras. Walaupun selalu sadar akan rasa tanggung-jawab, ia bukanlah seorang yang dapat disebut hangat dan menarik.

Segera Onassis memberontak terhadap setiap bentuk disiplin. Sejak anak sampai remaja ia banyak menimbulkan keributan dan geger, duri di mata ayahnya. Hubungan mereka bertambah rumit lagi karena suatu kenyataan lain. Ibunya, Penelope, meninggal ketika Onassis baru berumur enam tahun. Hanya 18 bulan sesudah itu ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita bernama Helen. Onassis memandang ibu tirinya sebagai orang lain yang menyelundup, dan karenanya wanita ini tidak mendapat tempat sedikit pun di hatinya.

Di sekolah, ia bodoh dan suka mencari perkara, mengikuti contoh banyak orang kaya. Tidak aneh kalau ia diusir dari beberapa sekolah. Ia paling sering menduduki ranking terbawah di kelasnya. Salah seorang gurunya berkata:

Teman-teman sekelas memuja dia, tetapi gara guru dan keluarganya berputus asa. Selagi ia masih muda, dengan mudah orang dapat melihat bahwa dia akan menjadi seorang di antara mereka yang akan menghancurkan diri sama sekali atau sukses secara gilang-gemilang.

Walaupun raport Ari di sekolah jauh dari bagus, bakatnya untuk berdagang dan mencari uang telah tampak sejak dini. Mungkin anekdot berikut dapat menerangkan. Salah seorang temannya yang telah merancang sebuah kitiran kecil, sebuah mainan sederhana yang terdiri atas baling-baling kertas berpasak jarum yang ditancapkan pada sepotong kayu. Bangga atas prestasinya, anak itu dengan berani membuat beberapa buah dan mencoba menjualnya.

“Mau kau jual berapa kitiranmu ini?” tanya Onassis. “Eh…saya tidak tahu. Bagaimana kalau seharga jarum .

“Dasar bodoh!” bentak Onasiss. “Kau minta satu jarum sedang yang kau jual satu jarum, tambah baling-baling, tambah kayu, belum lagi kau hitung waktu yang kau perlukan untuk membuatnya.”

Teman Onassis mengambil kesimpulan: “Inilah pelajaran saya yang pertama tentang arti keuntungan.” Pada waktu itu tidak terpikir olehnya bahwa ia sedang mendengarkan pelajaran dari seorang jago uang masa mendatang. Sebuah kisah lain menggambarkan bakat bisnis Onasis pada masa mudanya. Pada suatu hari, suatu kebakaran terjadi di gudang sekolah di kota tempat kelahirannya. Onasiss membeli seonggok pinsil bekas kebakaran itu dengan harga murah. Ia menanamkan sedikit modal dengan membeli dua ala peruncing pinsil. Ia, berdua dengan temannya, mulai membersihkan bagian-bagian pinsil yang hangus. Kemudian ia menjual pinsil-pinsil itu kembali kepada teman-teman di sekolah dengan harga sangat murah, namun tetap memberikan untung cukup besar. Mungkin contoh ini biasa-biasa saja, tetapi justru pekerjaan seperti inilah kelak bisnis besar Onassis. Ia memperbaiki kapal-kapal laut yang rusak dan membuatnya layak melaut, dan menjualnya dengan harga yang jauh lebih tinggi, tentu saja. Di sekolah, waktu berjalan terus, tetapi Onassis tidak bertambah maju. Tahun 1922 mulai tidak menyenangkan. Banyak teman sekelasnya pergi untuk menuntut ilmu di universitas-universitas besar di Eropa. Tetapi Onassis sendiri tidak lulus. Masa depan tampak suram baginya. Beberapa hari setelah upacara penyerahan ijazah, salah seorang temannya melihat Onassis berjalan tanpa tujuan di taman kota. Ia mencoba menghibur hati Onassis.

“Jangan khawatir, Aristotle, kau lihat nanti, semua akan beres. Kau coba sekali lagi tahun depan. Kau pasti lulus. “Goblok,” jawab Onassis. “Kau kira saya akan tinggal saja selamanya di sini? Dunia ini sempit. Saya tidak perlu ijazah. Pada suatu hari kau akan heran akan apa yang saya lakukan.” Waktu membuktikan bahwa omongan Onasis bukanlah lelucon belaka.

Pada tahun 1922, invasi Turki menimbulkan bayangan gelap pada masa remaja Onassis yang penuh gejolak. Smyrnba diduduki dan warga kota dibabat habis tanpa belas kasih. Ayah Onassis, seorang tokoh yang terkenal luas, dipenjarakan dan Ari menjadi kepala rumah tangga pada usia 16 tahun. Ini masa yang sulit baginya. Dan pada masa ini ia menerapkan kehebatannya sebagai diplomat dan kemampuannya untuk bertahan dalam keadaan apa pun. Masa yang sulit ini justru merupakan pengalaman yang tepat untuk membentuk wataknya. Sesudah malapetaka Smyrna berlalu, Ari adalah Ari yang lain dari sebelumnya. Segala sesuatu yang dialaminya tidak pernah hilang dari ingatannya; kenangan-kenangan itu disertai suatu kesadaran akan kemampuannya untuk bertahan. Ia telah mempertaruhkan diri dan menang. Dewi fortuna memihak pada kaum yang berani dan ia pusatkan visinya tentang dunia atas pengetahuan tersebut.

Onasis yang memetik manfaat dari pendudukan Turki untuk berbisnis. Ia menyelundupkan minuman keras ke Tentara Turki, dengan maksud merebut hati para jenderal agar mau membebaskan ayahnya, yang bagaimana pun harus meringkuk dalam penjara selama setahun.

Sukses Onassis sangat tergantung pada daya tarik pribadi dan kemampuannya mengadakan hubungan dengan umum. Beberapa orang sebayanya menyebut dia si bunglon. Memang ia pandai sekali menyesuaikan diri dengan semua orang yang dijumpainya. Pada umumnya, kalau kita membuat apa-apa menjadi mudah bagi orang lain, mereka akan bersimpati kepada kita, demikian pendapat Onassis.Pernah Onassis mengaku kepada Winston Churchill salah seorang kenalannya yang berjabatan tinggi, yang pada waktu itu sedang menjadi tamu di atas, kapalnya Christina, mengenai teori pribadinya tentang “keharusan sejarah” yang tercipta pada masa sulit. Pengalamannya telah mengajar dia bahwa bila alam memberikan suasana yang cocok dan makanan berlimpah, ia tidak mempunyai banyak energi dan kurang berinisiatif. Sebaliknya, orang yang didesak-desak “minggu” dan harus berjuang keras untuk tetap bertahan, dalam keadaan sulit akan lebih mungkin mampu menyesuaikan diri dengan segala keadaan. Dengan demikian ia akan tetap berhasil selagi orang lain mati karena adanya rancangan untuk bertahan. Demikianlah, menurut Onassis, kesulitan dan kemelaratan sering kali mendorong orang untuk menemukan sumber dayanya sendiri, yang tak diduga adanya sebelumnya, dan dengan demikian membuat dia maju dengan mendobrak hambatan dan keterbatasan pribadinya. Kisah hidup Onassis adalah sebuah gambaran yang baik sekali tentang prinsip tersebut. Socrates, ayah Onassis, tidak mau mengakui jasa anaknya dalam peranan yang dimainkannya selama masa pendudukan, dan tidak membiarkan dia meneruskan peranannya sebagai penanggung jawab keluarga. Onassis sangat sakit sekali karena perlakuan ayahnya ini dan, menurut pengakuannya, sampai berbulan-bulan sesudah itu sering kali dilanda rasa marah yang tanpa daya. Sikap ayahnya tak berterima kasih dan berkesan disingkirkan dari keluarganya memotivasi keputusannya untuk mencoba keberuntungannya di Amerika Selatan. Mula-mula, tentu saja ia berpikir untuk pergi ke Amerika Serikat, tetapi mendapatkan visa tidaklah mudah. Onassis mengalihkan perhatiannya ke Argentina: ia mendengar berita bahwa banyak orang Yunani sudah menjadi kaya di sana.

Onassis mendarat di Buenos Aires pada tanggal 21 September 1923. Bawaannya sebuah koper tua dan uang sebanyak $450. Tetapi di dalam dirinya ia membawa bekal yang lebih berharga: tekad keras untuk membuktikan kepada ayahnya bahwa ia mampu menjadi kaya tanpa bantuan ayahnya. Rasa percaya diri ini akan dibawanya sepanjang hayatnya.

Tanpa diploma, tanpa pekerjaan, uang dan koneksi orang berpengaruh, Onassis terpaksa mulai dengan melakukan aneka pekerjaan kasar. Ia menjadi kenek tukang batu, kuli pengangkut bata pada suatu proyek pembangunan, tukang cuci piring di restoran, dan akhirnya menjadi magang instalator listrik di River Plate United Telepchone Co. Bagi seseorang dengan ego yang sehat seperti dia, ini bukan prestasi yang pantas.

Beberapa bulan sesudah memulai pekerjaan ini, Onassis minta dipindah ke giliran malam, dengan dalih bahwa ia harus mengerjakan beberapa hal di siang hari. Dengan ambisinya yang besar, Onassis tidak berniat menghabiskan banyak waktu untuk belajar menyolder kabel.

Pada masa itu, tembakau Yunani terkenal baik, bahkan diklasifikasikan di antara tembakau-tembakau paling enak oleh para ahli. Namun, karena masalah pengimporan dan penyediaan, barang ini menjadi sukar didapat. Onassis menulis kepada ayahnya minta kiriman. Socrates setuju dan mengapalkan kiriman pertama sebagai sampel. Mula-mula hasilnya tidak menggembirakan. Onassis membawa sampelnya ke beberapa pabrik, dan minta agar ia dihubungi.

Beberapa minggu berlalu tanpa berita. Kini Onassis mengerti bahwa seharusnya tidak membuang-buang waktu dengan mendatangi pabrik-pabrik kecil, tetapi harus datang ke yang besar sekalian. Untuk itu ia harus menemui Juan Gaona, kepada salah satu firma tembakau terbesar di Argentina. Selama 15 hari berturut-turut, Onassis tampak bersandar pada dinding gedung Gaona, untuk mengamati datang dan perginya bos itu. Akhirnya Gaona merasa tergoda juga oleh perilaku orang muda ini, dan ia mengundang Onassis ke kantornya. Onassis menyampaikan tawarannya dengan sebaik-baiknya. Gaona rupanya terkesan dan Onassis disuruh menghadap manajer persediaannya. Dengan memanfaatkan nama Gaona, Onassis berhasil membujuk orang itu untuk meneken kontrak pembelian tembakau seharga $10.000 dengan komisi biasa sebesar lima persen. Kelak, Onassis sering menyatakan bahwa uang komisinya yang sebesar $500 itu merupakan batu sendi kekayaannya besar. Ia tidak menggunakan uang itu untuk apa-apa, tetapi menabungnya di bank untuk jaga-jaga, ibarat sedia payung sebelum hujan. Dengan sikapnya yang hemat dan bijak, Onassis mencukupi hidupnya dengan hasil yang diperolehnya di perusahaan telepon, dan semua uang yang tersisa disimpannya, sehingga ia dapat terjun ke dunia bisnis tanpa meminjam uang kepada siapa pun.

Onassis kadang-kadang terpaksa berutang sementara menunggu pembayaran dari pelanggan. Tetapi ia jarang meminjam lebih dari $3.000 dan selalu melunasinya secepat mungkin. Kelak, tentu saja, setelah menemukan gunanya uang Orang Lain (UOL), suatu hal yang akan kita bicarakan nanti, Onassis akan meneken kontrak pinjaman sampai sebesar beberapa juta dolar, dengan jadwal pengembalian sesudah beberapa tahun. Tetapi, adalah satu prinsip utama bila orang memulai suatu bisnis adalah mengembalikan utang secepat mungkin. Onassis membangun kepercayaan beberapa bank kepadanya: suatu hal yang akan sangat dia butuhkan pada tahun-tahun mendatang.

Setelah bekerja pada giliran malam selama setahun, Onassis minta keluar dari United Telephone, dengan menyatakan bahwa ada suatu gagasan yang akan diikutinya. Impian barunya ialah membuat pabrik rokok. Untuk itu ia mempunyai modal $25.000 hasil tabungannya dengan tambahan pinjaman dari bank sebanyak itu pula. Kepercayaan bank sudah mulai tampak manfaatnya. Ia mempekerjakan 30 orang imigran Yunani. Usahanya dengan cepat bertambah besar tetapi tidak memberikan keuntungan yang diharapkanya. Segera Onassis menutup usahanya. Wirausahanya yang pertama gagal. Onassis tidak kehilangan semangat. Bahkan sebaliknya. Ia bertambah gigih. Sementara itu bisnis import tembakaunya masih tetap berjalan dengan keuntungan lumayan.

Selama musim panas tahun 1929, pemerintah Yunani menaikkan pajak dalam beberapa bidang, termasuk untuk tembakau. Onassis memutuskan untuk menggunakan kesempatan ini untuk kembali ke Yunani untuk mencoba mendekati pihak yang berwenang. Mula-mula Menteri yang bersedia menerima dia memperhatikan kukunya sendiri daripada mendengarkan permintaan pedagang muda itu. Akhirnya ia potong kata-kata Onassis dan tiba-tiba saja ingin menghentikan pembicaraan itu.

Onasis sangat. Ia menjawab:

Terima kasih. Kalau kita kapan-kapan bertemu lagi, saya harap Anda lebih tertarik akan tawaran saya. Saya pikir Anda mempunyai banyak pekerjaan, tetapi tampaknya kuku-kuku jari Anda sudah cukup menyibukkan. Tangan Anda rupanya lebih penting daripada ekspor negeri kita.

Kata-kata onassis ternyata mengena. Sang Menteri tampak terkesan, dan ia mulai berbicara secara serius dengan Onassis. Sesudah itu, negosiasi antara Yunani dan Argentina di buka kembali.

Akhir tahun 1922 menandai suatu keputusan besar bagi kehidupan Onassis. Kegagalan pertamanya sebagai pemilik kapal tidak membuat ia mundur untuk tetap menanamkan uang dalam sektor itu. Ia sudah gandrung akan perkapalan. Ia tergerak oleh keyakinan batin bahwa kapal sajalah yang akan membawa dia ke jenjang sukses. Maka, dikumpulkannya semua uang miliknya, yang waktu itu sudah lumayan, lalu berangkat ke London. Ia baru berusia 26 tahun. Ia telah dikenal karena reputasinya sebagai seorang usahawan yang berani, apalagi setelah penunjukannya sebagai Konsul Jenderal Yunani di Buenos Aires. Namun fungsi diplomatik ini tidaklah menyita banyak waktunya.

Pasar, yang menderita berat akibat jatuhnya pasar modal Wall Street tahun 1929, memberikan kesempatan baik bagi para penanam modal. Kapal-kapal menjadi murah, jauh di bawah harga semula. Langkah paling baik adalah membeli kapal-kapal berusia 10 tahunan. Kapal sebesar sembilan ton yang semula harganya $1.000.000, kini hanya laku dijual $20.000, kira-kira seharga sebuah Rolls-Royce. Apa yang dilakukan Onassis selagi masih kanak-kanak kini akan terulang, tetapi barang bekasnya adalah kapal.

Walaupun kini bisnisnya di London. Onassis membeli kapal pertamanya, dua buah kapal tua masing-masing seharga $20.000, di Montreal. Kedua kapal yang bernama Miller dan Spinner, diganti namanya menjadi Onassis Socrates dan Onassis Penelope, sebagai tanda penghormatan kepada kedua orang tuanya. Untuk mendapatkan untung dalam bisnis perkapalan, pentinglah memperhatikan turun naiknya biaya muatan dan membuat keputusan yang tepat. Onassis mampu dalam hal ini.

Lebih dari itu, ia seorang optimis yang tak pernah mundur. Dengan sifat petualang dan keberaniannya, ia segera menonjol di antara pemilik-pemilik kapal Yunani lain yang berpangkalan di London, karena tidak seperti mereka, ia tidak mempunyai pemikiran tentang krisis ekonomi. Mereka, ia tidak takut menanamkan uangnya.

Kegesitan dan diplomasi bawaannya dengan cepat mengantar dia ke kalangan masyarakat kelas tinggi. Tidak boleh dilupakan, salah satu pelicin jalan dalam kenaikannya ke kelas elit adalah hubungan dengan salah satu wanita simpanannya yang pertama, si cantik dari Norwegia Ingeborg Dedichen, putri seorang pemilik kapal yang terkenal.

Sifat lain yang memudahkan jalan Onassis adalah kemampuannya mendengarkan orang. Memang, keluwesan dan kefasihan bicara memainkan peranan penting dalam membujuk orang dan mendesak orang agar menerima gagasan kita serta kita sendiri. Tetapi tidak banyaklah orang yang tahu benar cara mendengarkan orang lain. Kebanyakan orang kaya dalam buku ini telah belajar keahlian tersebut, sehingga mereka tidak hanya selalu mengerti apa yang diketahui oleh lawan bicaranya, tetapi juga menyesuaikan diri dengan mereka. Demikianlah, agar mampu mempengaruhi orang dan mendapat jaminan bahwa mereka akan menolong dalam perjalanan menuju sukses, orang harus mulai dengan mengetahui siapakah orang yang dihadapinya. Onassis adalah seorang pakar dalam keahlian mendengarkan. Lord Moran, yang menulis buku The Great Onassis, mungkin karena dia sendiri tidak menggunakan keahlian ini, tidk menyebut-nyebut kemampuan Onassis untuk mendengarkan orang lain. Padahal semua orang yang pernah berhubungan dengan Onassis terkesan oleh kelebihan ini. Bila mereka berhadapan dengan Onassis, ia memberikan kesan bahwa mereka adalah manusia paling penting di dunia.

Karena kemampuan ini, Onassis sebenarnya bisa menjadi ahli politik yang baik. Bakat ini dimanfaatkan benar oleh Onassis, seperti disaksikan oleh si cantik dari Norwegia dalam buku catatannya:

Lelaki muda penuh pesona yang dapat menyesuaikan diri dengan segala keadaan ini meniru orang yang menjadi lawan bicaranya dengan begitu sempurna. Ada sementara orang yang menafsirkan kemahiran ini sebagai kecerdikan, orang lain menyebutnya sebagai kemunafikan dan menganggapnya kepandaian membunglon belaka. Tetapi saya percaya kepandaian mendengarkan adalah suatu cara khusus memberikan perhatian tulus kepada orang lain dan seluruh dunia. Kebetulan, selama hidupnya Onassis mempunyai rasa haus yang tak terpuaskan akan pengetahuan di samping daya ingatnya yang kuat. Ia mempunyai daya konsentrasi yang telah sangat berkembang.

Kemampuan mendengarkan orang lain adalah salah satu ciri khas yang vital bagi setiap salesman yang baik. Itulah sebabnya Onassis adalah seorang salesman yang luar biasa. Walter Saunders, yang jelas bukan seorang yang naif karena dia adalah penasihat pajak bagi metropolitan Life, menggambarkan kesannya tentang pemilik kapal Yunani ini:

Ada perasaan pada diri saya bahwa orang yang penuh semangat ini mampu menjual alat pendingin kepada orang Eskimo. Tetapi saya pun berperan bahwa setiap detail sudah dipersiapkan secara tuntas sebelumnya. Kebanyakan orang yang bertemu dengan Onassis merasakan pengaruh daya persuasifnya dan merasa bahwa Onassis tidak berimprovisasi dalam langkah-langkahnya, tetapi sudah mengetahui segala sesuatu dalam berkas catatannya sampai ke detail-detailnya.

Pada penghujung tahun 1947, Onassis melewati ambang lain dalam kariernya yang gemilang. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia akan mulai secara sistematis menerapkan prinsip yang dikenal sebagai OPM (Other People’s Money, Uang Orang Lain UOL), dengan meminjam kepada Metropolitan Life Insurance Company sebesar $40 juta untuk membangun kapal-kapal baru. Sebagai siasat ia menggunakan sebuah perusahaan minyak sebagai mitra. Onassis akan mengangkut minyak mereka dan kontraknya akan tetap berlaku sampai habisnya batas waktu utang. Karena perusahaan minyak pada waktu itu sangat terandalkan, meminjam atas nama perusahaan itu sangat mudah. Dalam arti tertentu, badan keuangan meminjamkan uang kepada perusahaan minyak, bukan kepada Onassis. Onassis sering mengingat masa itu dengan berbangga diri. Dikatakannya bahwa perusahaan minyak yang kaya itu dalam hubungan dengan kapal-kapal Onassis adalah ibarat seorang penyewa dengan rumah yang dihuninya dengan membayar uang sewa. Kalau yang menyewa adalah Rockefeller, tidak menjadi soal apakah atapnya bocor atau bergenting emas. Kalau Rockefeller menyanggupi membayar uang sewanya, siapa saja bersedia memberikan pinjaman untuk mengurusi rumah itu. Keadaan itu berlaku pula untuk kapal-kapal Onasssis.

Prinsip ini sekarang lumrah sekali. Prinsip inilah dasar segala investasi pembangunan real-estate. Bila seorang meminjam uang untuk suatu bangunan bisnis, bank sebenarnya meminjamkan uangnya kepada penyewa bangunan itu. Merekalah yang akan mengembalikan uangnya, terkecuali bangunan itu milik seorang penanam modal. Prinsip ini pada zaman Onassis tergolong revolusioner, dan keorisinal gagasan Onassis patut dipuji karena sebagian besar pemilik kapal Yunnai pada waktu itu berpegang pada prinsip: Mau dapat kapal, bayar uang kontan.

Walaupun ia seorang inovator sejauh ia tidak menggunakan metode-metode para pesaingnya, ia bukanlah penemu OPM, walaupun mungkin ia menyatakan begitu. Konsep ini lahir dari otak Daniel Ludwig, seorang usahawan Amerika yang kaya. Dia telah mulai menanamkan uang dalam kapal armadanya bahkan jauh lebih unggul daripada milik Onassis dan kemudian beralih ke usaha real estate. Sudah sejak tahun 1930-an Ludwig mengembangkan apa yang kelak menjadi praktek biasa di mana-mana. Gagasan itu muncul dalam benaknya setelah sebuah Bank menolak permintaannya untuk meminjam uang yang akan digunakannya untuk membeli kapal dan merombaknya menjadi kapal tangki. Onassis meninggal pada tanggal 15 Maret 1975, tapi dalam menjelang akhir hayatnya ia minta kepada salah satu akuntannya apakah ia dapat mengatakan besarnya keuntungan yang dimilikinya secara cepat dengan pembulatan ke angka sepuluh dolar.

Memulai Menulis

Selamat malam untuk para suhu - suhu blogger dimana saja. Ijinkanlah kami untuk belajar menulis bersama tuan - tuan suhu lakukan. Serasa sungguh terlambat bagi saya mengetahui dan tertarik untuk menulis. padahal sudah sekitar lima tahun yang lalu saya membuka warnet malah sekarang warnet saya tersebut sudah saya tutup karena operational cost nya semakin tidak ketemu. Waktu itu (ketika buka warnet) tahun-tahun berlalu seolah sekejap. hari - hari hanya kami isi dengan melayani user-user warnet yang kadang entah baru belajar atau karena minta saya perhatikan , sedikit2 minta diajari. Selain itu kamipun terlarut dalam dunia user - user kami tersebut, texas holdem poker yang sangat menarik itupun mengganggu keimanan saya untuk hanya sekedar belajar menulis yang nyata- nyata sekarang kelihatanya adalah kegiatan yang menarik.
Semenjak si Gusmul ( Agus Mulyadi ) yang blogger terkenal dari Magelang itu sering wira - wiri di timeline sosial media barulah minat saya itu muncul. Ngga nyangka aja orang yang begitu bersahaja itu jadi terkenal seantero Indonesia bahkan Dunia. Barulah tersadar juga bahwa network ini tiada berbatas. Ketika membaca blog nya mas GusMul itu seolah olah tergiring untuk tertawa terpingkal-pingkal karena pilihan kata yang sederhana tetapi bisa mewakilkan kelucuan, kejujuran bahkan kegokilan pribadinya.
Now well ..... Foto di bawah ini adalah 2 buah hati saya yang fotogenic ketika berada di depan kamera. Coba perhatikan saja Manyunnya si kecil itu ... walaupun masih anak PAUD gayanya ga kalah gokil sama mas Gusmul ... sayapun kadang juga geli dengan tingkah polahnya. Namanya Muhammad Zaki. Sering Muncul bahasa-bahasa yang unik dari mulutnya.... sampai-sampai bu guru sekolahnya pun kadang kaget dengan ucapan - ucapanya yang lucu. Satu lagi anak perempuan saya ini walau setiap berangkat sekolah ga pernah mau sarapan dulu (karena buru-buru) tetapi juga membanggakan karena prestasi di sekolah masih the bigfour terus belum lagi sering ikut lomba - lomba sekolah seperti menari ataupun pesta siaga.
Demikianlah sepetik mukadimah tulisan kami, andaikan terbaca agak kaku atau kurang elegan ya mohon dimaklumi karena masih dalam rangka sinau.
Suwun ......