KEBERADAAN Bedug Pendawa di Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo
yang diklaim sebagai bedug terbesar dan terunik di dunia, membuat daerah
ini dikenal sebagi tempat pembuatan bedug.
Kualitas produk bedugnya memang sudah diakui. Bagaimana sejarah dan perkembangan kerajinan bedug dari daerah ini?
Ukuran bedug Pendawa memang super besar. Dibuat pada masa pemerintahan bupati Purworejo pertama KR Adipati Cokronagoro I. bedug tersebut terbuat dari bonggol kayu jati gelondongan utuh tanpa sambungan yang umurnya sudah mencapai ratusan tahun. bedug yang juga diberi nama bedug Kiai Bagelen itu bergaris tengah bagian depan 194 cm, garis tengah bagian belakang 180 cm, keliling lingkar bagian depan 601 cm, keliling lingkar bagian belakang 564 cm, panjang badan bedug 292 cm.
Untuk memaku kulit bedug, di bagian depan dipergunakan paku keliling sebanyak 112 buah dan bagian belakang 98 buah. Pembuatannya diperkirakan antara tahun 1834 dan 1840 Masehi.
Keberadaan bedug yang telah melegenda ini menginspirasi H Ahmad Dahlan, seorang muslim dari Desa Kroyo, Kecamatan Gebang, Purworejo untuk membuat bedug serupa dari kayu gelondongan tanpa sambungan. Keahliannya diteruskan oleh anaknya, H Chudori.
Dalam perkembangangannya, bedug kayu gelondongan ini menjadi semacam trade mark produk bedug dari Purworejo.
Taufikirrasyidin (39) dan Fauzi Latif (38) adalah generasi ketiga dari H Ahmad Dahlan yang meneruskan keahlian membuat bedug.
Fauzi menceritakan, kemampuan pembuatan bedug yang dimiliki kakeknya diperoleh dari autodidak pada zaman kolonial Belanda. ”Dulu kakek membuat bedug dengan niat ibadah membuat alat penanda waktu shalat,” katanya.
Diceritakan, keteguhan membuat bedug itu yang justru mengantarkan kakeknya dibunuh bala tentara Belanda.
”Waktu itu bedug dianggap menjadi alat untuk mengumpulkan orang. Rumah kami di sini dulu menjadi tempat pengajian dan syiar Islam. Mungkin Belanda khawatir dengan aktivfitas kakek, sehingga rumah kami dibakar dan kakek saya ditembak hingga akhirnya meninggal dunia,” katanya mengutip cerita ayahnya.
Sepeninggal H Ahmad Dahlan, usaha pembuatan bedug itu memang sempat terhenti. Namun setelah situasi memungkinkan, H Chudori yang memang sudah menguasai keahlian yang diwariskan bapaknya itu memulai membuat bedug kayu gelondongan lagi.
”Kakek berpesan agar pembuatan bedug ini diteruskan. Pikiran kakek sederhana, supaya umat muslim tidak kesulitan untuk mendapatkan alat penanda waktu shalat yang ditempatkan di masjid,” katanya.
Pesan serupa juga diwasiatkan H Chudori kepada kedua anaknya itu sebelum akhirnya meninggal dunia tahun 2001 lalu. ”Pesan itu akan terus kami jaga. Kami akan terus membuat bedug, selagi masih ada yang memesan,” katanya.
bedug karya warga RT 3 RW 4 ini memang tergolong unik dibandingkan produk bedug dari daerah lain. Dibuat utuh dari kayu gelondongan tanpa ada sambungannya. Bagian tengah kayu dibuang, baru kemudian ditutup menggunakan kulit (lulang).
Dulunya, sambung Taufik, semua kayu dibuat sebagai bahan baku bedug, terutama kayu jati yang terbukti mampu menghasilkan suara bagus. Namun dalam perkembangannya, jumlah kayu semakin terbatas. Belakangan ini Fauzi membuat bedug gelondongan dengan ukuran besar menggunakan kayu trembesi. ”Kayu jati sudah langka dan harganya mahal. Yang masih memungkinkan adalah kayu trembesi,” katanya.
Keunikan lainnya, produk bedug ini memiliki bagian yang disebut rau di kedua ujung lubangnya. Rau ini berfungsi untuk menggemakan suara. ”Rau ini menjadi ciri khas bedug kami yang tidak ada di produk bedug lainnya. Rau membuat suara bedug jadi menggema,” katanya.
Untuk mendapatkan bahan baku kayu, selain berburu di daerah sekitar Purworejo, Fauzi juga bekerja sama dengan para pedagang kayu dari luar daerah, seperti Jawa Barat dan Jawa Timur. Setiap ada informasi kayu besar, langsung didatangi untuk mengecek kelayakannya.
Sementara bahan baku lulang (kulit) diperoleh dari para pengepul di Kabupaten Purworejo. Lulang sapi betina yang dipilih, karena di samping menghasilkan suara yang lebih bagus, juga kuat karena ketebalannya merata.
Penjualan bedug ini tidak hanya di pasar lokal saja. Pesanan paling banyak justru dari luar daerah, seperti Jakarta, Jawa Timur, Semarang, Bandung. Untuk luar Jawa sudah mencapai Sulawesi dan Sumatra. Belakangan bahkan baru saja dikirim bedug berukuran besar ke negeri jiran, Malaysia.
Ukuran bedug yang dibuat bervariasi, mulai dari yang terkecil 40 cm hingga yang saat ini dikerjakan bergaris tengah 1,5 meter. ”Bahannya dari kayu trembesi, kita peroleh dari pedesaan Sutoragan, Kemiri,” kataya.
Menjelang Ramadan seperti sekarang ini, pesanan bedug melonjak drastis. Hari-hari biasa dalam sebulan rata-rata pesanan maksimal hanya dua bedug. Namun satu hingga dua bulan menjelang Ramadan, bisa mencapai sepuluh bedug.
Gejala pasar itu sudah rutin setiap tahun dan selalu bisa diantisipasi. Tujuh pekerja yang ikut membantu usaha ini telah membuat bahan dasar mentah bedug beberapa bulan sebelum Ramadan, sehingga saat dibutuhkan untuk pembuatan bedug, tinggal proses finishing. ”Pengerjaan satu bedug tergantung ukurannya. Yang kecil, paling dua minggu selesai,” katanya.
Harga yang patok bervariasi, tergantung ukurannya. Paling murah dijual dengan harga Rp 2 juta dan yang paling mahal dengan ukuran super besar bisa mencapai Rp 50 juta.
Harga itu bisa naik setiap saat, menyesuaikan harga bahan baku, terutama kayu.
Selain memproduksi bedug, Taufik dan Fauzi juga membuat perangkat rebana dan kendang. Untuk rebana harga satu setnya Rp 1,3 juta. Penjualannya menjelang Ramadan juga meningkat mencapai 50 set, sedangkan kendang dijual dengan harga Rp 1 juta.
”Untuk rebana, bahan baku kuningan didatangkan dari Tegal, sedangkan kayunya merupakan sisa kayu pembuatan bedug,” tandasnya.
Sumber: Suaramerdeka

No comments:
Post a Comment