Pasca Pangeran Diponegoro ditangkap di Magelang tanggal 25 Maret 1830
dan di asingkan ke Manado yang kemudian di pindahkan ke Makasar, banyak
gangguan yang terjadi diwilayah sekitar kawasan wilayah Purworejo,
terutama di perbatasan Magelang. Peristiwa ini dianggap membahayakan
pemulihan ekonomi maupun keamanan Pemerintahan Hindia Belanda, maka
akhirnya dibangun jalan yang hingga kini masih bisa digunakan. Hal ini
dilakukan untuk menghindari wilayah yang menjadi basis pengikut Pangeran
Diponegoro yang masih setia bergerilya. Pembangunan sarana transportasi
berupa jalan dimulai dari tahun 1836. Pada saat itu dibangun jembatan
konstruksi batu bata pada sungai Bengkal di distrik Loano, diperkuat
dengan konstruksi kayu jati dan glugu.
Tahun 1838 dibuat
pula jembatan pada sungai Bagawanta sepanjang 200 kaki, lebar 24 kaki
dan tinggi 9 kaki. Pembangunan sarana jalan baru menurut seorang sejarah
adalah akibat pelaksanaan sistem tanam paksa. Jalur ke arah utara ini
dengan rute di luar daerah pengaruh Pangeran Diponegoro dari Loano
melintasi bukit Cacaban, Bener, Kalijambe, Margoyoso, Salaman terus ke
Magelang. Jalan baru alteratif ini dilaksanakan dengan wajib kerja umum
oleh petani tanpa imbalan upah. Alasannya karena, jalan tersebut untuk
kepentingan rakyat sendiri yang sudah sejak dahulu dipergunakan oleh
para kuli angkut barang dari daerah Bagelen ke Semarang atau
sebaliknya.asi untuk meningkatkan produksi pertanian maupun perkebunan.
Berdasarkan
prasasti tugu peringatan pembangunan jalan di kecamatan Bener,
dinyatakan bahwa jalur jalan baru yang diperingati dengan tugu tersebut
dibangun atas perintah penguasa Karesidenan Bagelen Jonkh J.G o.s von
Schmidt Auf altenstadh dan R.de Fillietas Bousqet dibantu oleh Raden
Adipati Cokronagoro, Regent (Bupati) Purworejo tahun 1845-1850.
Pembangunan jalan raya baru disisi lain dilaksanakan selama 3 tahun,
dari tahun 1848-1850 dengan mengerahkan petani pada waktu luang dan
dibiayai sebesar f 4.000 untuk pembelian peralatan dan dana untuk
kenduri atau selamatan. Dengan adanya jalan baru ini, maka lalu lintas
jalan raya dan angkutan barang dialihkan, yang semula lewat jalan
tradisional dilewatkan jalan baru yang dianggap lebih aman dari gangguan
kraman (pemberontak). Sedangkan jalan tradisional yang ada sengaja
dibiarkan terbengkalai dan tersisihkan.
Selain itu untuk
wilayah barat Purworejo dibangun jalan tepatnya melalui Kedungkebo
hingga Gombong dan diteruskan ke Cilacap. Jalan baru tersebut sangat
penting bagi mobilitas militer dalam mengamankan politik pemerintah dan
memperlancar angkutan komoditi ekspor yang akan diangkut kapal melalui
pelabuhan Cilacap, pelabuhan Semarang untuk di ekspor ke pasar Eropa.
sumber :

Untuk menyambung ke Magelang, perlu dimatangkan dengan Residen Kedu R.de F.Bousquet dan Bupati Magelang RA Danoeningrat II.Pekwrjaan itu memakan waktu 3 tahun ,setiap petani mendapat jatah 14 hari/ tahun.Untuk mengenang pertemuan proyek jalan dari Purworejo ke Salaman, desa tempat pertemuan / perbatasan dua karesidenan dan kabupaten dinamakan Margoyoso di Kec Salaman Magelang
ReplyDelete